Ramon Y. Tungka Instagram – : Tak Ada Musik Di Planet Yang Mati!
—
Hari ini, populasi manusia di bumi yang mencapai 8,5 milyar jelas memberikan dampak signifikan terhadap kerentanan planet. Memunculkan beragam persoalan lingkungan secara global, termasuk di negeri ini.
Sebuah urgensi yang menginspirasi lahirnya IKLIM, inisiasi kolektif aksi iklim yang menyatukan musisi, seniman, organisasi lingkungan, dan ahli iklim di Indonesia untuk merespon tantangan ini.
Pada 1-5 Juli 2024 kemarin, IKLIM menghelat lokakarya bagi musisi yang berkolaborasi dalam inisiatif ini. 15 musisi/band dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul, berdiskusi memperdalam pemahaman isu lingkungan bersama para pakar iklim antara lain:
@econusa.id @purpose @coaction.id @greenpeaceid @cerah_indonesiaku @thinkpolicyid @trend_asia @natgeoindonesia @sayapilihbumi
Turut pula dipertajam barisan fasilitator yang berisikan para musisi yang terlibat pada lokakarya tahun sebelumnya yakni @faridstevy @cholil @endahwidiastuti @tuantigabelas @igamassardi @rizalhadimusic serta @novaruth
Selama lima hari para musisi melebur bersama pakar iklim & fasilitator untuk membangun gagasan demi gagasan dalam menyikapi isu iklim yang terjadi. Melahap data dan statistik persoalan untuk mengelola upaya-upaya guna diracik menjadi sebuah karya yang menggerakkan solusi.
“Musisi bukanlah mesin industri, karena sejatinya musik mampu menggiring dan membentuk opini. Sebagai sebuah media edukasi informal perubahan budaya.” Ujar @robinavicula penggagas gerakan IKLIM di malam perayaan inaugurasi.
Inisiasi ini memvalidasikan bahwa inklusifitas adalah satu-satunya solusi guna mengatasi isu iklim. Dimana musik dan seni tentu memiliki peran yang kuat dalam mendorong perubahan sosial.
Dengan lugas sebuah karya seni diyakini memiliki kekuatan gelombang sonik yang sanggup menuai resonansi yang berdampak.
Memanifestasikan penggalan khutbah Eddie Vedder: “Music’s at its best when it has a purpose.”
Foto oleh:
@musicdeclares_indonesia | Posted on 10/Jul/2024 10:17:43



