“Nggak, pokoknya aku mau jadi Pengusaha aja. Gak mau jadi Bu Nyai” celetuk guyonan gue beberapa tahun silam dengan Mamah. Oh iya, Bu Nyai itu, title yang melekat & familiar di dunia Pesantren, khususnya di daerah Jawa, diinterpretasikan sebagai “Istri Kyai” atau “Pemilik Pondok Pesantren”. Tumbuh kembang di lingkup Pesantren, membuat gue sangat akrab dengan dunia ini. Tapi, entah kenapa dari dulu selalu punya goals mau jadi Pengusaha aja, gak ada embel embel lain 😀 gak mau punya Pondok, gak mau ngajar. Sebetulnya karena ngerasa belum pantes aja sih, ngerasa masih sedikit ilmunya, hafalan juga gak seberapa, dan kok kayaknya kalau “di sana banget” malah jadi gak bisa kemana mana, berasa ruang lingkup terbatas. Daaan lain lain.. Tapi mungkin inilah doa orang tua ya, The Power of Doa Ayah Ibu 😄 Papah gue bercita cita tiap anaknya punya Pesantren masing-masing. Minimal, saat beliau masih hidup, masih berkesempatan buat liat 5 dari anaknya punya sekolah sendiri-sendiri. Ada DaQu Wirda, DaQu Qumii, DaQu Kun, DaQu Haafizh, DaQu Aisyah. Lengkap. Dan gue berkali-kali selalu bilang, “Gak mah, adik adik aja ya yang punya Pesantren. Aku enggak, aku mau usaha aja” Berkali-kali juga Papah mengingatkan, “Eh, cari keberkahan itu di Qur’an, jangan yang lain. Cari berkah itu ke Allah, bukan ke yang lain. Emang siapa yang ngasih rezeki? Kalau bukan Allah? Dan Pesantren itu pusatnya keberkahan. Justru dengan ada di sini, kamu narik magnet berkah, jadi bisa ngapa2in dan kemana aja..” Kata kata itu yang selalu lingering di otak gue, bertahun tahun. Dan luar biasa, gue berubah total. Total. Jadi jatuh cinta sama dunia Pesantren, lebih daripada dulu. Malah jadi mikir tiap hari, gimana cara mengembangkan Pesantren, bakat anak anak, dunia dapet, akhirat dapet. Memperbanyak diskusi dan minta diajarin sama Guru Guru di @daarul_mansur, Ust Doni, Ust Wawan, Ust Halimi, Ust Asep, Ust Rifai, beserta Guru Guru lainnya. Izin Allah, lahirlah Pesantren pertamaku & adik adikku, @daarul_mansur, belum ada satu tahun. Alhamdulillah murid udah nyentuh ratusan, mohon doa, mohon doa, mohon doa. Selamat Hari Santri #HariSantriNasional #PesantrenDaarulMansur
“Nggak, pokoknya aku mau jadi Pengusaha aja. Gak mau jadi Bu Nyai” celetuk guyonan gue beberapa tahun silam dengan Mamah. Oh iya, Bu Nyai itu, title yang melekat & familiar di dunia Pesantren, khususnya di daerah Jawa, diinterpretasikan sebagai “Istri Kyai” atau “Pemilik Pondok Pesantren”. Tumbuh kembang di lingkup Pesantren, membuat gue sangat akrab dengan dunia ini. Tapi, entah kenapa dari dulu selalu punya goals mau jadi Pengusaha aja, gak ada embel embel lain 😀 gak mau punya Pondok, gak mau ngajar. Sebetulnya karena ngerasa belum pantes aja sih, ngerasa masih sedikit ilmunya, hafalan juga gak seberapa, dan kok kayaknya kalau “di sana banget” malah jadi gak bisa kemana mana, berasa ruang lingkup terbatas. Daaan lain lain.. Tapi mungkin inilah doa orang tua ya, The Power of Doa Ayah Ibu 😄 Papah gue bercita cita tiap anaknya punya Pesantren masing-masing. Minimal, saat beliau masih hidup, masih berkesempatan buat liat 5 dari anaknya punya sekolah sendiri-sendiri. Ada DaQu Wirda, DaQu Qumii, DaQu Kun, DaQu Haafizh, DaQu Aisyah. Lengkap. Dan gue berkali-kali selalu bilang, “Gak mah, adik adik aja ya yang punya Pesantren. Aku enggak, aku mau usaha aja” Berkali-kali juga Papah mengingatkan, “Eh, cari keberkahan itu di Qur’an, jangan yang lain. Cari berkah itu ke Allah, bukan ke yang lain. Emang siapa yang ngasih rezeki? Kalau bukan Allah? Dan Pesantren itu pusatnya keberkahan. Justru dengan ada di sini, kamu narik magnet berkah, jadi bisa ngapa2in dan kemana aja..” Kata kata itu yang selalu lingering di otak gue, bertahun tahun. Dan luar biasa, gue berubah total. Total. Jadi jatuh cinta sama dunia Pesantren, lebih daripada dulu. Malah jadi mikir tiap hari, gimana cara mengembangkan Pesantren, bakat anak anak, dunia dapet, akhirat dapet. Memperbanyak diskusi dan minta diajarin sama Guru Guru di @daarul_mansur, Ust Doni, Ust Wawan, Ust Halimi, Ust Asep, Ust Rifai, beserta Guru Guru lainnya. Izin Allah, lahirlah Pesantren pertamaku & adik adikku, @daarul_mansur, belum ada satu tahun. Alhamdulillah murid udah nyentuh ratusan, mohon doa, mohon doa, mohon doa. Selamat Hari Santri #HariSantriNasional #PesantrenDaarulMansur
“Nggak, pokoknya aku mau jadi Pengusaha aja. Gak mau jadi Bu Nyai” celetuk guyonan gue beberapa tahun silam dengan Mamah. Oh iya, Bu Nyai itu, title yang melekat & familiar di dunia Pesantren, khususnya di daerah Jawa, diinterpretasikan sebagai “Istri Kyai” atau “Pemilik Pondok Pesantren”. Tumbuh kembang di lingkup Pesantren, membuat gue sangat akrab dengan dunia ini. Tapi, entah kenapa dari dulu selalu punya goals mau jadi Pengusaha aja, gak ada embel embel lain 😀 gak mau punya Pondok, gak mau ngajar. Sebetulnya karena ngerasa belum pantes aja sih, ngerasa masih sedikit ilmunya, hafalan juga gak seberapa, dan kok kayaknya kalau “di sana banget” malah jadi gak bisa kemana mana, berasa ruang lingkup terbatas. Daaan lain lain.. Tapi mungkin inilah doa orang tua ya, The Power of Doa Ayah Ibu 😄 Papah gue bercita cita tiap anaknya punya Pesantren masing-masing. Minimal, saat beliau masih hidup, masih berkesempatan buat liat 5 dari anaknya punya sekolah sendiri-sendiri. Ada DaQu Wirda, DaQu Qumii, DaQu Kun, DaQu Haafizh, DaQu Aisyah. Lengkap. Dan gue berkali-kali selalu bilang, “Gak mah, adik adik aja ya yang punya Pesantren. Aku enggak, aku mau usaha aja” Berkali-kali juga Papah mengingatkan, “Eh, cari keberkahan itu di Qur’an, jangan yang lain. Cari berkah itu ke Allah, bukan ke yang lain. Emang siapa yang ngasih rezeki? Kalau bukan Allah? Dan Pesantren itu pusatnya keberkahan. Justru dengan ada di sini, kamu narik magnet berkah, jadi bisa ngapa2in dan kemana aja..” Kata kata itu yang selalu lingering di otak gue, bertahun tahun. Dan luar biasa, gue berubah total. Total. Jadi jatuh cinta sama dunia Pesantren, lebih daripada dulu. Malah jadi mikir tiap hari, gimana cara mengembangkan Pesantren, bakat anak anak, dunia dapet, akhirat dapet. Memperbanyak diskusi dan minta diajarin sama Guru Guru di @daarul_mansur, Ust Doni, Ust Wawan, Ust Halimi, Ust Asep, Ust Rifai, beserta Guru Guru lainnya. Izin Allah, lahirlah Pesantren pertamaku & adik adikku, @daarul_mansur, belum ada satu tahun. Alhamdulillah murid udah nyentuh ratusan, mohon doa, mohon doa, mohon doa. Selamat Hari Santri #HariSantriNasional #PesantrenDaarulMansur
“Nggak, pokoknya aku mau jadi Pengusaha aja. Gak mau jadi Bu Nyai” celetuk guyonan gue beberapa tahun silam dengan Mamah. Oh iya, Bu Nyai itu, title yang melekat & familiar di dunia Pesantren, khususnya di daerah Jawa, diinterpretasikan sebagai “Istri Kyai” atau “Pemilik Pondok Pesantren”. Tumbuh kembang di lingkup Pesantren, membuat gue sangat akrab dengan dunia ini. Tapi, entah kenapa dari dulu selalu punya goals mau jadi Pengusaha aja, gak ada embel embel lain 😀 gak mau punya Pondok, gak mau ngajar. Sebetulnya karena ngerasa belum pantes aja sih, ngerasa masih sedikit ilmunya, hafalan juga gak seberapa, dan kok kayaknya kalau “di sana banget” malah jadi gak bisa kemana mana, berasa ruang lingkup terbatas. Daaan lain lain.. Tapi mungkin inilah doa orang tua ya, The Power of Doa Ayah Ibu 😄 Papah gue bercita cita tiap anaknya punya Pesantren masing-masing. Minimal, saat beliau masih hidup, masih berkesempatan buat liat 5 dari anaknya punya sekolah sendiri-sendiri. Ada DaQu Wirda, DaQu Qumii, DaQu Kun, DaQu Haafizh, DaQu Aisyah. Lengkap. Dan gue berkali-kali selalu bilang, “Gak mah, adik adik aja ya yang punya Pesantren. Aku enggak, aku mau usaha aja” Berkali-kali juga Papah mengingatkan, “Eh, cari keberkahan itu di Qur’an, jangan yang lain. Cari berkah itu ke Allah, bukan ke yang lain. Emang siapa yang ngasih rezeki? Kalau bukan Allah? Dan Pesantren itu pusatnya keberkahan. Justru dengan ada di sini, kamu narik magnet berkah, jadi bisa ngapa2in dan kemana aja..” Kata kata itu yang selalu lingering di otak gue, bertahun tahun. Dan luar biasa, gue berubah total. Total. Jadi jatuh cinta sama dunia Pesantren, lebih daripada dulu. Malah jadi mikir tiap hari, gimana cara mengembangkan Pesantren, bakat anak anak, dunia dapet, akhirat dapet. Memperbanyak diskusi dan minta diajarin sama Guru Guru di @daarul_mansur, Ust Doni, Ust Wawan, Ust Halimi, Ust Asep, Ust Rifai, beserta Guru Guru lainnya. Izin Allah, lahirlah Pesantren pertamaku & adik adikku, @daarul_mansur, belum ada satu tahun. Alhamdulillah murid udah nyentuh ratusan, mohon doa, mohon doa, mohon doa. Selamat Hari Santri #HariSantriNasional #PesantrenDaarulMansur
“Nggak, pokoknya aku mau jadi Pengusaha aja. Gak mau jadi Bu Nyai” celetuk guyonan gue beberapa tahun silam dengan Mamah. Oh iya, Bu Nyai itu, title yang melekat & familiar di dunia Pesantren, khususnya di daerah Jawa, diinterpretasikan sebagai “Istri Kyai” atau “Pemilik Pondok Pesantren”. Tumbuh kembang di lingkup Pesantren, membuat gue sangat akrab dengan dunia ini. Tapi, entah kenapa dari dulu selalu punya goals mau jadi Pengusaha aja, gak ada embel embel lain 😀 gak mau punya Pondok, gak mau ngajar. Sebetulnya karena ngerasa belum pantes aja sih, ngerasa masih sedikit ilmunya, hafalan juga gak seberapa, dan kok kayaknya kalau “di sana banget” malah jadi gak bisa kemana mana, berasa ruang lingkup terbatas. Daaan lain lain.. Tapi mungkin inilah doa orang tua ya, The Power of Doa Ayah Ibu 😄 Papah gue bercita cita tiap anaknya punya Pesantren masing-masing. Minimal, saat beliau masih hidup, masih berkesempatan buat liat 5 dari anaknya punya sekolah sendiri-sendiri. Ada DaQu Wirda, DaQu Qumii, DaQu Kun, DaQu Haafizh, DaQu Aisyah. Lengkap. Dan gue berkali-kali selalu bilang, “Gak mah, adik adik aja ya yang punya Pesantren. Aku enggak, aku mau usaha aja” Berkali-kali juga Papah mengingatkan, “Eh, cari keberkahan itu di Qur’an, jangan yang lain. Cari berkah itu ke Allah, bukan ke yang lain. Emang siapa yang ngasih rezeki? Kalau bukan Allah? Dan Pesantren itu pusatnya keberkahan. Justru dengan ada di sini, kamu narik magnet berkah, jadi bisa ngapa2in dan kemana aja..” Kata kata itu yang selalu lingering di otak gue, bertahun tahun. Dan luar biasa, gue berubah total. Total. Jadi jatuh cinta sama dunia Pesantren, lebih daripada dulu. Malah jadi mikir tiap hari, gimana cara mengembangkan Pesantren, bakat anak anak, dunia dapet, akhirat dapet. Memperbanyak diskusi dan minta diajarin sama Guru Guru di @daarul_mansur, Ust Doni, Ust Wawan, Ust Halimi, Ust Asep, Ust Rifai, beserta Guru Guru lainnya. Izin Allah, lahirlah Pesantren pertamaku & adik adikku, @daarul_mansur, belum ada satu tahun. Alhamdulillah murid udah nyentuh ratusan, mohon doa, mohon doa, mohon doa. Selamat Hari Santri #HariSantriNasional #PesantrenDaarulMansur
“Nggak, pokoknya aku mau jadi Pengusaha aja. Gak mau jadi Bu Nyai” celetuk guyonan gue beberapa tahun silam dengan Mamah. Oh iya, Bu Nyai itu, title yang melekat & familiar di dunia Pesantren, khususnya di daerah Jawa, diinterpretasikan sebagai “Istri Kyai” atau “Pemilik Pondok Pesantren”. Tumbuh kembang di lingkup Pesantren, membuat gue sangat akrab dengan dunia ini. Tapi, entah kenapa dari dulu selalu punya goals mau jadi Pengusaha aja, gak ada embel embel lain 😀 gak mau punya Pondok, gak mau ngajar. Sebetulnya karena ngerasa belum pantes aja sih, ngerasa masih sedikit ilmunya, hafalan juga gak seberapa, dan kok kayaknya kalau “di sana banget” malah jadi gak bisa kemana mana, berasa ruang lingkup terbatas. Daaan lain lain.. Tapi mungkin inilah doa orang tua ya, The Power of Doa Ayah Ibu 😄 Papah gue bercita cita tiap anaknya punya Pesantren masing-masing. Minimal, saat beliau masih hidup, masih berkesempatan buat liat 5 dari anaknya punya sekolah sendiri-sendiri. Ada DaQu Wirda, DaQu Qumii, DaQu Kun, DaQu Haafizh, DaQu Aisyah. Lengkap. Dan gue berkali-kali selalu bilang, “Gak mah, adik adik aja ya yang punya Pesantren. Aku enggak, aku mau usaha aja” Berkali-kali juga Papah mengingatkan, “Eh, cari keberkahan itu di Qur’an, jangan yang lain. Cari berkah itu ke Allah, bukan ke yang lain. Emang siapa yang ngasih rezeki? Kalau bukan Allah? Dan Pesantren itu pusatnya keberkahan. Justru dengan ada di sini, kamu narik magnet berkah, jadi bisa ngapa2in dan kemana aja..” Kata kata itu yang selalu lingering di otak gue, bertahun tahun. Dan luar biasa, gue berubah total. Total. Jadi jatuh cinta sama dunia Pesantren, lebih daripada dulu. Malah jadi mikir tiap hari, gimana cara mengembangkan Pesantren, bakat anak anak, dunia dapet, akhirat dapet. Memperbanyak diskusi dan minta diajarin sama Guru Guru di @daarul_mansur, Ust Doni, Ust Wawan, Ust Halimi, Ust Asep, Ust Rifai, beserta Guru Guru lainnya. Izin Allah, lahirlah Pesantren pertamaku & adik adikku, @daarul_mansur, belum ada satu tahun. Alhamdulillah murid udah nyentuh ratusan, mohon doa, mohon doa, mohon doa. Selamat Hari Santri #HariSantriNasional #PesantrenDaarulMansur
“Nggak, pokoknya aku mau jadi Pengusaha aja. Gak mau jadi Bu Nyai” celetuk guyonan gue beberapa tahun silam dengan Mamah. Oh iya, Bu Nyai itu, title yang melekat & familiar di dunia Pesantren, khususnya di daerah Jawa, diinterpretasikan sebagai “Istri Kyai” atau “Pemilik Pondok Pesantren”. Tumbuh kembang di lingkup Pesantren, membuat gue sangat akrab dengan dunia ini. Tapi, entah kenapa dari dulu selalu punya goals mau jadi Pengusaha aja, gak ada embel embel lain 😀 gak mau punya Pondok, gak mau ngajar. Sebetulnya karena ngerasa belum pantes aja sih, ngerasa masih sedikit ilmunya, hafalan juga gak seberapa, dan kok kayaknya kalau “di sana banget” malah jadi gak bisa kemana mana, berasa ruang lingkup terbatas. Daaan lain lain.. Tapi mungkin inilah doa orang tua ya, The Power of Doa Ayah Ibu 😄 Papah gue bercita cita tiap anaknya punya Pesantren masing-masing. Minimal, saat beliau masih hidup, masih berkesempatan buat liat 5 dari anaknya punya sekolah sendiri-sendiri. Ada DaQu Wirda, DaQu Qumii, DaQu Kun, DaQu Haafizh, DaQu Aisyah. Lengkap. Dan gue berkali-kali selalu bilang, “Gak mah, adik adik aja ya yang punya Pesantren. Aku enggak, aku mau usaha aja” Berkali-kali juga Papah mengingatkan, “Eh, cari keberkahan itu di Qur’an, jangan yang lain. Cari berkah itu ke Allah, bukan ke yang lain. Emang siapa yang ngasih rezeki? Kalau bukan Allah? Dan Pesantren itu pusatnya keberkahan. Justru dengan ada di sini, kamu narik magnet berkah, jadi bisa ngapa2in dan kemana aja..” Kata kata itu yang selalu lingering di otak gue, bertahun tahun. Dan luar biasa, gue berubah total. Total. Jadi jatuh cinta sama dunia Pesantren, lebih daripada dulu. Malah jadi mikir tiap hari, gimana cara mengembangkan Pesantren, bakat anak anak, dunia dapet, akhirat dapet. Memperbanyak diskusi dan minta diajarin sama Guru Guru di @daarul_mansur, Ust Doni, Ust Wawan, Ust Halimi, Ust Asep, Ust Rifai, beserta Guru Guru lainnya. Izin Allah, lahirlah Pesantren pertamaku & adik adikku, @daarul_mansur, belum ada satu tahun. Alhamdulillah murid udah nyentuh ratusan, mohon doa, mohon doa, mohon doa. Selamat Hari Santri #HariSantriNasional #PesantrenDaarulMansur
“Nggak, pokoknya aku mau jadi Pengusaha aja. Gak mau jadi Bu Nyai” celetuk guyonan gue beberapa tahun silam dengan Mamah. Oh iya, Bu Nyai itu, title yang melekat & familiar di dunia Pesantren, khususnya di daerah Jawa, diinterpretasikan sebagai “Istri Kyai” atau “Pemilik Pondok Pesantren”. Tumbuh kembang di lingkup Pesantren, membuat gue sangat akrab dengan dunia ini. Tapi, entah kenapa dari dulu selalu punya goals mau jadi Pengusaha aja, gak ada embel embel lain 😀 gak mau punya Pondok, gak mau ngajar. Sebetulnya karena ngerasa belum pantes aja sih, ngerasa masih sedikit ilmunya, hafalan juga gak seberapa, dan kok kayaknya kalau “di sana banget” malah jadi gak bisa kemana mana, berasa ruang lingkup terbatas. Daaan lain lain.. Tapi mungkin inilah doa orang tua ya, The Power of Doa Ayah Ibu 😄 Papah gue bercita cita tiap anaknya punya Pesantren masing-masing. Minimal, saat beliau masih hidup, masih berkesempatan buat liat 5 dari anaknya punya sekolah sendiri-sendiri. Ada DaQu Wirda, DaQu Qumii, DaQu Kun, DaQu Haafizh, DaQu Aisyah. Lengkap. Dan gue berkali-kali selalu bilang, “Gak mah, adik adik aja ya yang punya Pesantren. Aku enggak, aku mau usaha aja” Berkali-kali juga Papah mengingatkan, “Eh, cari keberkahan itu di Qur’an, jangan yang lain. Cari berkah itu ke Allah, bukan ke yang lain. Emang siapa yang ngasih rezeki? Kalau bukan Allah? Dan Pesantren itu pusatnya keberkahan. Justru dengan ada di sini, kamu narik magnet berkah, jadi bisa ngapa2in dan kemana aja..” Kata kata itu yang selalu lingering di otak gue, bertahun tahun. Dan luar biasa, gue berubah total. Total. Jadi jatuh cinta sama dunia Pesantren, lebih daripada dulu. Malah jadi mikir tiap hari, gimana cara mengembangkan Pesantren, bakat anak anak, dunia dapet, akhirat dapet. Memperbanyak diskusi dan minta diajarin sama Guru Guru di @daarul_mansur, Ust Doni, Ust Wawan, Ust Halimi, Ust Asep, Ust Rifai, beserta Guru Guru lainnya. Izin Allah, lahirlah Pesantren pertamaku & adik adikku, @daarul_mansur, belum ada satu tahun. Alhamdulillah murid udah nyentuh ratusan, mohon doa, mohon doa, mohon doa. Selamat Hari Santri #HariSantriNasional #PesantrenDaarulMansur
Kunci hidup bahagia adalah memperluas pandangan! Bebas insecure, bebas julid, bebas gosip, bebas hasud, bebas dengki 👋🏻😀 Daripada berfokus pada kekurangan, coba memulai untuk cari apa yang bisa kita syukuri. It’s all about shifting your focus 🧘♀️👀 Coming soon, buku Unbreakable by Wirda Mansur ☺️
Kunci hidup bahagia adalah memperluas pandangan! Bebas insecure, bebas julid, bebas gosip, bebas hasud, bebas dengki 👋🏻😀 Daripada berfokus pada kekurangan, coba memulai untuk cari apa yang bisa kita syukuri. It’s all about shifting your focus 🧘♀️👀 Coming soon, buku Unbreakable by Wirda Mansur ☺️
Kunci hidup bahagia adalah memperluas pandangan! Bebas insecure, bebas julid, bebas gosip, bebas hasud, bebas dengki 👋🏻😀 Daripada berfokus pada kekurangan, coba memulai untuk cari apa yang bisa kita syukuri. It’s all about shifting your focus 🧘♀️👀 Coming soon, buku Unbreakable by Wirda Mansur ☺️
Kunci hidup bahagia adalah memperluas pandangan! Bebas insecure, bebas julid, bebas gosip, bebas hasud, bebas dengki 👋🏻😀 Daripada berfokus pada kekurangan, coba memulai untuk cari apa yang bisa kita syukuri. It’s all about shifting your focus 🧘♀️👀 Coming soon, buku Unbreakable by Wirda Mansur ☺️
Berdoa itu, boleh, kan? Sehat sehat semua, sehat sehat Negeriku 💗 Selain menyuarakan di medsos dan jalan, jangan lupa suarakan ke langit yaaa 🤗
Berdoa itu, boleh, kan? Sehat sehat semua, sehat sehat Negeriku 💗 Selain menyuarakan di medsos dan jalan, jangan lupa suarakan ke langit yaaa 🤗
Berdoa itu, boleh, kan? Sehat sehat semua, sehat sehat Negeriku 💗 Selain menyuarakan di medsos dan jalan, jangan lupa suarakan ke langit yaaa 🤗
Berdoa itu, boleh, kan? Sehat sehat semua, sehat sehat Negeriku 💗 Selain menyuarakan di medsos dan jalan, jangan lupa suarakan ke langit yaaa 🤗
A day in my life, dengan “kehidupan baru” hihi.. Throwback saat kedatangan santri baru @daarul_mansur 20 Juli lalu, penuh syukur dan bahagia, dengan kesibukan baru mengelola Pesantren kecil kecilan ini. Tapi semoga berkahnya dan kebaikannya melebar 😆🤲🏻 Alhamdulillah jadi punya saudara baru, orang tua baru, adik adik baru, nambah keluarga dah 😀 Nantikan a day in my life di Pesantren yang lainnya ya 😂
Alhamdulillah aku bisa, Yura 🤍🫶🏻 Mohon doa buat @daarul_mansur
#Hajjourney Chapter 11 – The End 🌹 2 Minggu Ajaib Dalam Hidup — Allahumma Sholli ‘Alaa Muhammad.. 2 minggu penuh keajaiban, kelak, aku akan bercerita kepada anak cucu, bahwa bisa pergi Haji TANPA BIAYA itu nyata! 😭 keberangkatan Haji ini (sekali lagi) melalui undangan Kerajaan, via Kementerian Media Saudi. Segala fasilitas, mulai dari kedatangan hingga kepulangan, lebih lebih lebih dari bintang 5! Subhanallah.. Banyak yang tanya, “Amalannya apa?” Amalannya adalah, doa orang tua & kebaikan orang tuaku 🥺 Papah Mamah.. yang ku sayang dan ku cintai lebih dari apapun di dunia ini, selalu mendoakan anak anaknya. Bila ditarik waktunya, Papah Mamah udah sering manggil kami “Haji” “Hajjah” sedari kami kecil, dan betul adanya, omongan adalah doa. Papah juga pernah ngomong ke kami, “Papah doain, nanti kamu ke Mekkah kaya ke depan pintu. Bulak balik..” Papah juga yang mengajarkan, minta apapun ke Allah. Dan jangan pernah NANGGUNG mintanya. Mintalah keliling dunia, dengan fasilitas terbaik, dan gratis, hehe.. Makasih ajarannya Pah, Mah.. Dan betul betul itu semua ku jalanin. “Minta ke Allah” perkara mudah, tapi kenyataannya, banyak yang belum betul betul MINTA 🥺 yuk mulai sekarang, biasain doa, full minta ke Allah. Terima Kasih kepada Kerajaan Arab Saudi, Kementerian Media Saudi, Pak Totok & Pak Yadi, segenap tim yang bertugas. Dan Terima Kasih kepada teman teman yang senantiasa mantengin IGku selama perjalanan Haji ini, semoga besok kalian yang berbagi cerita yaaaa!!! Btw, mau bikin Q&A seputar perjalanan Haji ini. Yang punya pertanyaan coba tulis di komen, insyaaAllah pertanyaan terpilih akan ku akan jawab 👍🏻
#Hajjourney Chapter 11 – The End 🌹 2 Minggu Ajaib Dalam Hidup — Allahumma Sholli ‘Alaa Muhammad.. 2 minggu penuh keajaiban, kelak, aku akan bercerita kepada anak cucu, bahwa bisa pergi Haji TANPA BIAYA itu nyata! 😭 keberangkatan Haji ini (sekali lagi) melalui undangan Kerajaan, via Kementerian Media Saudi. Segala fasilitas, mulai dari kedatangan hingga kepulangan, lebih lebih lebih dari bintang 5! Subhanallah.. Banyak yang tanya, “Amalannya apa?” Amalannya adalah, doa orang tua & kebaikan orang tuaku 🥺 Papah Mamah.. yang ku sayang dan ku cintai lebih dari apapun di dunia ini, selalu mendoakan anak anaknya. Bila ditarik waktunya, Papah Mamah udah sering manggil kami “Haji” “Hajjah” sedari kami kecil, dan betul adanya, omongan adalah doa. Papah juga pernah ngomong ke kami, “Papah doain, nanti kamu ke Mekkah kaya ke depan pintu. Bulak balik..” Papah juga yang mengajarkan, minta apapun ke Allah. Dan jangan pernah NANGGUNG mintanya. Mintalah keliling dunia, dengan fasilitas terbaik, dan gratis, hehe.. Makasih ajarannya Pah, Mah.. Dan betul betul itu semua ku jalanin. “Minta ke Allah” perkara mudah, tapi kenyataannya, banyak yang belum betul betul MINTA 🥺 yuk mulai sekarang, biasain doa, full minta ke Allah. Terima Kasih kepada Kerajaan Arab Saudi, Kementerian Media Saudi, Pak Totok & Pak Yadi, segenap tim yang bertugas. Dan Terima Kasih kepada teman teman yang senantiasa mantengin IGku selama perjalanan Haji ini, semoga besok kalian yang berbagi cerita yaaaa!!! Btw, mau bikin Q&A seputar perjalanan Haji ini. Yang punya pertanyaan coba tulis di komen, insyaaAllah pertanyaan terpilih akan ku akan jawab 👍🏻
#Hajjourney Chapter 11 – The End 🌹 2 Minggu Ajaib Dalam Hidup — Allahumma Sholli ‘Alaa Muhammad.. 2 minggu penuh keajaiban, kelak, aku akan bercerita kepada anak cucu, bahwa bisa pergi Haji TANPA BIAYA itu nyata! 😭 keberangkatan Haji ini (sekali lagi) melalui undangan Kerajaan, via Kementerian Media Saudi. Segala fasilitas, mulai dari kedatangan hingga kepulangan, lebih lebih lebih dari bintang 5! Subhanallah.. Banyak yang tanya, “Amalannya apa?” Amalannya adalah, doa orang tua & kebaikan orang tuaku 🥺 Papah Mamah.. yang ku sayang dan ku cintai lebih dari apapun di dunia ini, selalu mendoakan anak anaknya. Bila ditarik waktunya, Papah Mamah udah sering manggil kami “Haji” “Hajjah” sedari kami kecil, dan betul adanya, omongan adalah doa. Papah juga pernah ngomong ke kami, “Papah doain, nanti kamu ke Mekkah kaya ke depan pintu. Bulak balik..” Papah juga yang mengajarkan, minta apapun ke Allah. Dan jangan pernah NANGGUNG mintanya. Mintalah keliling dunia, dengan fasilitas terbaik, dan gratis, hehe.. Makasih ajarannya Pah, Mah.. Dan betul betul itu semua ku jalanin. “Minta ke Allah” perkara mudah, tapi kenyataannya, banyak yang belum betul betul MINTA 🥺 yuk mulai sekarang, biasain doa, full minta ke Allah. Terima Kasih kepada Kerajaan Arab Saudi, Kementerian Media Saudi, Pak Totok & Pak Yadi, segenap tim yang bertugas. Dan Terima Kasih kepada teman teman yang senantiasa mantengin IGku selama perjalanan Haji ini, semoga besok kalian yang berbagi cerita yaaaa!!! Btw, mau bikin Q&A seputar perjalanan Haji ini. Yang punya pertanyaan coba tulis di komen, insyaaAllah pertanyaan terpilih akan ku akan jawab 👍🏻
Alhamdulillah, selesai sudah melempar jumroh hari ketiga. Menandakan rangkaian ibadah Haji, telah usai.. Terima Kasih kepada Kementerian Media Arab Saudi atas undangan Haji dengan jamuan terbaik, yang tak pernah dibayangkan sebelumnya 🥺🤲🏻 Dan Masya Allah, tim kebersihan di sekitar Mina juga luar biasa sigap, bersiiihhh.. Insya Allah, semua bisa pergi Haji, dalam keadaan dan kondisi sebaik baiknya, menurut Allah.
#Hajjourney Chapter 10 Haji, Pembuktian Iman Tertinggi – Selama di Mina, beruntung maktab kami berjarak sangat dekat dengan Jamaraat (tempat melempar Jumroh), gue pun dengan semangat bersiap untuk segera melaksanakan lempar Jumroh pertama. Baru aja melangkahkan kaki ke pintu luar, 🌬️ woosshh langsung disambut dengan angin kencang mengenai seluruh tubuh, alih alih menyejukkan, angin yang berhembus berbalut dengan hawa panas, ditambah teriknya matahari yang menembus kulit, ya Allah.. ingin rasanya mengeluh. “Ah, coba tadi bawa payung. Mana gak bawa air pula” celetuk gue dari mulut yang kurang syukurnya ini Ajaibnya, setiap mengeluh, Allah seperti selalu memberikan contoh secara nyata di depan mata. Bikin gue kembali mundur lagi mundur lagi untuk mengeluh, dan ada rasa malu. Di sisi kanan kiri sepanjang jalan, gue melihat orang orang yang terkapar lemas di trotoar jalan. Cuaca memang lagi terik teriknya, bahkan terindikasi suhu panas ekstrim. Sebagian besar dari mereka bahkan telah menempuh jarak begitu jauh, jalan kaki, di bawah terik matahari, berkilo kilo meter pula. Gue cepet cepet istighfar. Baru jalan dikit sebentar, gue kembali dikejutkan dengan pemandangan yang.. bikin hati ini bergetar. Gue perhatikan dengan seksama, ada tubuh seorang ibu paruh baya, wajahnya ditutupi hingga setengah badan, namun terlihat kaki dan tangannya penuh lebam dan kaku. “Ya Allah, ini orang meninggal!” Dan ternyata gak hanya satu orang 😭 [lanjut di komen…]
#Hajjourney Chapter 10 Haji, Pembuktian Iman Tertinggi – Selama di Mina, beruntung maktab kami berjarak sangat dekat dengan Jamaraat (tempat melempar Jumroh), gue pun dengan semangat bersiap untuk segera melaksanakan lempar Jumroh pertama. Baru aja melangkahkan kaki ke pintu luar, 🌬️ woosshh langsung disambut dengan angin kencang mengenai seluruh tubuh, alih alih menyejukkan, angin yang berhembus berbalut dengan hawa panas, ditambah teriknya matahari yang menembus kulit, ya Allah.. ingin rasanya mengeluh. “Ah, coba tadi bawa payung. Mana gak bawa air pula” celetuk gue dari mulut yang kurang syukurnya ini Ajaibnya, setiap mengeluh, Allah seperti selalu memberikan contoh secara nyata di depan mata. Bikin gue kembali mundur lagi mundur lagi untuk mengeluh, dan ada rasa malu. Di sisi kanan kiri sepanjang jalan, gue melihat orang orang yang terkapar lemas di trotoar jalan. Cuaca memang lagi terik teriknya, bahkan terindikasi suhu panas ekstrim. Sebagian besar dari mereka bahkan telah menempuh jarak begitu jauh, jalan kaki, di bawah terik matahari, berkilo kilo meter pula. Gue cepet cepet istighfar. Baru jalan dikit sebentar, gue kembali dikejutkan dengan pemandangan yang.. bikin hati ini bergetar. Gue perhatikan dengan seksama, ada tubuh seorang ibu paruh baya, wajahnya ditutupi hingga setengah badan, namun terlihat kaki dan tangannya penuh lebam dan kaku. “Ya Allah, ini orang meninggal!” Dan ternyata gak hanya satu orang 😭 [lanjut di komen…]