Parang Kusumo adalah motif batik yang memenuhi lemari gw. Menggambarkan ombak yang saling bertautan, dengan makna perjuangan dan keseimbangan. Menjadi sebuah simbol kekuatan batin dan keselarasan hidup umat manusia. Pagi ini seperti biasa, memulai hari dengan sejenak bermeditasi dan refleksi diri. Sepanjang tahun 2024, setiap seminar rasanya campur aduk. Penuh haru dan sukacita karena ga terasa, terhitung 5 tahun sudah sejak kali pertama gw berbagi ke kalian semua tentang kondisi kesehatan mental gw. Tapi di saat yang sama, sejujurnya kemarin adalah tahun yang sangat berat. Cukup sering bahas ini ketika sedang seminar: bahwasanya perjalanan menuju pulih itu bukanlah suatu hal yang linear. Bukan sebuah garis lurus dari satu titik ke titik selanjutnya, tapi merupakan perjalanan kompleks yang penuh pasang surut, kemajuan pesat, kemunduran, dan juga perputaran atau pengulangan yang rasanya tiada akhir. Tidak ada satu panduan konkret yang bisa digunakan setiap manusia untuk segala cobaan, kesulitan dan tekanan jiwanya. Sebab pemulihan adalah sebuah proses perjalanan personal. Sebuah rutinitas melelahkan yang membutuhkan kesabaran, cinta dan kasih yang luar biasa dari dan untuk diri kita sendiri, yang juga harus terus konsisten dilakukan seumur hidup. Tapi menurut gw disitulah seninya. Belum tentu penting hasil akhirnya, belum tentu tau juga kapan selesainya, namun yang terpenting adalah kita bisa menikmati segala hal yang terjadi di dalam prosesnya. Semoga di tahun 2025 ini kita semua diberikan kemampuan untuk merayakan segala hal- bukan hanya yang mengalir indah, menyenangkan dan menenangkan, tapi juga setiap deburan ombak yang terasa melelahkan, menyedihkan, atau menyakitkan, dengan kepercayaan penuh bahwa segala hal pasti akan mendewasakan; seperti filosofi dalam Parang Kusumo, membantu kita mencapai keharuman lahir dan batin. Kawula mung sadermo, mobah mosik kersaning hyang sukmo. Tuhan dan semesta lindungi kita selalu. Selamat tahun baru! 🤍 📸: @ckuntjoro
Parang Kusumo adalah motif batik yang memenuhi lemari gw. Menggambarkan ombak yang saling bertautan, dengan makna perjuangan dan keseimbangan. Menjadi sebuah simbol kekuatan batin dan keselarasan hidup umat manusia. Pagi ini seperti biasa, memulai hari dengan sejenak bermeditasi dan refleksi diri. Sepanjang tahun 2024, setiap seminar rasanya campur aduk. Penuh haru dan sukacita karena ga terasa, terhitung 5 tahun sudah sejak kali pertama gw berbagi ke kalian semua tentang kondisi kesehatan mental gw. Tapi di saat yang sama, sejujurnya kemarin adalah tahun yang sangat berat. Cukup sering bahas ini ketika sedang seminar: bahwasanya perjalanan menuju pulih itu bukanlah suatu hal yang linear. Bukan sebuah garis lurus dari satu titik ke titik selanjutnya, tapi merupakan perjalanan kompleks yang penuh pasang surut, kemajuan pesat, kemunduran, dan juga perputaran atau pengulangan yang rasanya tiada akhir. Tidak ada satu panduan konkret yang bisa digunakan setiap manusia untuk segala cobaan, kesulitan dan tekanan jiwanya. Sebab pemulihan adalah sebuah proses perjalanan personal. Sebuah rutinitas melelahkan yang membutuhkan kesabaran, cinta dan kasih yang luar biasa dari dan untuk diri kita sendiri, yang juga harus terus konsisten dilakukan seumur hidup. Tapi menurut gw disitulah seninya. Belum tentu penting hasil akhirnya, belum tentu tau juga kapan selesainya, namun yang terpenting adalah kita bisa menikmati segala hal yang terjadi di dalam prosesnya. Semoga di tahun 2025 ini kita semua diberikan kemampuan untuk merayakan segala hal- bukan hanya yang mengalir indah, menyenangkan dan menenangkan, tapi juga setiap deburan ombak yang terasa melelahkan, menyedihkan, atau menyakitkan, dengan kepercayaan penuh bahwa segala hal pasti akan mendewasakan; seperti filosofi dalam Parang Kusumo, membantu kita mencapai keharuman lahir dan batin. Kawula mung sadermo, mobah mosik kersaning hyang sukmo. Tuhan dan semesta lindungi kita selalu. Selamat tahun baru! 🤍 📸: @ckuntjoro
Parang Kusumo adalah motif batik yang memenuhi lemari gw. Menggambarkan ombak yang saling bertautan, dengan makna perjuangan dan keseimbangan. Menjadi sebuah simbol kekuatan batin dan keselarasan hidup umat manusia. Pagi ini seperti biasa, memulai hari dengan sejenak bermeditasi dan refleksi diri. Sepanjang tahun 2024, setiap seminar rasanya campur aduk. Penuh haru dan sukacita karena ga terasa, terhitung 5 tahun sudah sejak kali pertama gw berbagi ke kalian semua tentang kondisi kesehatan mental gw. Tapi di saat yang sama, sejujurnya kemarin adalah tahun yang sangat berat. Cukup sering bahas ini ketika sedang seminar: bahwasanya perjalanan menuju pulih itu bukanlah suatu hal yang linear. Bukan sebuah garis lurus dari satu titik ke titik selanjutnya, tapi merupakan perjalanan kompleks yang penuh pasang surut, kemajuan pesat, kemunduran, dan juga perputaran atau pengulangan yang rasanya tiada akhir. Tidak ada satu panduan konkret yang bisa digunakan setiap manusia untuk segala cobaan, kesulitan dan tekanan jiwanya. Sebab pemulihan adalah sebuah proses perjalanan personal. Sebuah rutinitas melelahkan yang membutuhkan kesabaran, cinta dan kasih yang luar biasa dari dan untuk diri kita sendiri, yang juga harus terus konsisten dilakukan seumur hidup. Tapi menurut gw disitulah seninya. Belum tentu penting hasil akhirnya, belum tentu tau juga kapan selesainya, namun yang terpenting adalah kita bisa menikmati segala hal yang terjadi di dalam prosesnya. Semoga di tahun 2025 ini kita semua diberikan kemampuan untuk merayakan segala hal- bukan hanya yang mengalir indah, menyenangkan dan menenangkan, tapi juga setiap deburan ombak yang terasa melelahkan, menyedihkan, atau menyakitkan, dengan kepercayaan penuh bahwa segala hal pasti akan mendewasakan; seperti filosofi dalam Parang Kusumo, membantu kita mencapai keharuman lahir dan batin. Kawula mung sadermo, mobah mosik kersaning hyang sukmo. Tuhan dan semesta lindungi kita selalu. Selamat tahun baru! 🤍 📸: @ckuntjoro
Parang Kusumo adalah motif batik yang memenuhi lemari gw. Menggambarkan ombak yang saling bertautan, dengan makna perjuangan dan keseimbangan. Menjadi sebuah simbol kekuatan batin dan keselarasan hidup umat manusia. Pagi ini seperti biasa, memulai hari dengan sejenak bermeditasi dan refleksi diri. Sepanjang tahun 2024, setiap seminar rasanya campur aduk. Penuh haru dan sukacita karena ga terasa, terhitung 5 tahun sudah sejak kali pertama gw berbagi ke kalian semua tentang kondisi kesehatan mental gw. Tapi di saat yang sama, sejujurnya kemarin adalah tahun yang sangat berat. Cukup sering bahas ini ketika sedang seminar: bahwasanya perjalanan menuju pulih itu bukanlah suatu hal yang linear. Bukan sebuah garis lurus dari satu titik ke titik selanjutnya, tapi merupakan perjalanan kompleks yang penuh pasang surut, kemajuan pesat, kemunduran, dan juga perputaran atau pengulangan yang rasanya tiada akhir. Tidak ada satu panduan konkret yang bisa digunakan setiap manusia untuk segala cobaan, kesulitan dan tekanan jiwanya. Sebab pemulihan adalah sebuah proses perjalanan personal. Sebuah rutinitas melelahkan yang membutuhkan kesabaran, cinta dan kasih yang luar biasa dari dan untuk diri kita sendiri, yang juga harus terus konsisten dilakukan seumur hidup. Tapi menurut gw disitulah seninya. Belum tentu penting hasil akhirnya, belum tentu tau juga kapan selesainya, namun yang terpenting adalah kita bisa menikmati segala hal yang terjadi di dalam prosesnya. Semoga di tahun 2025 ini kita semua diberikan kemampuan untuk merayakan segala hal- bukan hanya yang mengalir indah, menyenangkan dan menenangkan, tapi juga setiap deburan ombak yang terasa melelahkan, menyedihkan, atau menyakitkan, dengan kepercayaan penuh bahwa segala hal pasti akan mendewasakan; seperti filosofi dalam Parang Kusumo, membantu kita mencapai keharuman lahir dan batin. Kawula mung sadermo, mobah mosik kersaning hyang sukmo. Tuhan dan semesta lindungi kita selalu. Selamat tahun baru! 🤍 📸: @ckuntjoro
Parang Kusumo adalah motif batik yang memenuhi lemari gw. Menggambarkan ombak yang saling bertautan, dengan makna perjuangan dan keseimbangan. Menjadi sebuah simbol kekuatan batin dan keselarasan hidup umat manusia. Pagi ini seperti biasa, memulai hari dengan sejenak bermeditasi dan refleksi diri. Sepanjang tahun 2024, setiap seminar rasanya campur aduk. Penuh haru dan sukacita karena ga terasa, terhitung 5 tahun sudah sejak kali pertama gw berbagi ke kalian semua tentang kondisi kesehatan mental gw. Tapi di saat yang sama, sejujurnya kemarin adalah tahun yang sangat berat. Cukup sering bahas ini ketika sedang seminar: bahwasanya perjalanan menuju pulih itu bukanlah suatu hal yang linear. Bukan sebuah garis lurus dari satu titik ke titik selanjutnya, tapi merupakan perjalanan kompleks yang penuh pasang surut, kemajuan pesat, kemunduran, dan juga perputaran atau pengulangan yang rasanya tiada akhir. Tidak ada satu panduan konkret yang bisa digunakan setiap manusia untuk segala cobaan, kesulitan dan tekanan jiwanya. Sebab pemulihan adalah sebuah proses perjalanan personal. Sebuah rutinitas melelahkan yang membutuhkan kesabaran, cinta dan kasih yang luar biasa dari dan untuk diri kita sendiri, yang juga harus terus konsisten dilakukan seumur hidup. Tapi menurut gw disitulah seninya. Belum tentu penting hasil akhirnya, belum tentu tau juga kapan selesainya, namun yang terpenting adalah kita bisa menikmati segala hal yang terjadi di dalam prosesnya. Semoga di tahun 2025 ini kita semua diberikan kemampuan untuk merayakan segala hal- bukan hanya yang mengalir indah, menyenangkan dan menenangkan, tapi juga setiap deburan ombak yang terasa melelahkan, menyedihkan, atau menyakitkan, dengan kepercayaan penuh bahwa segala hal pasti akan mendewasakan; seperti filosofi dalam Parang Kusumo, membantu kita mencapai keharuman lahir dan batin. Kawula mung sadermo, mobah mosik kersaning hyang sukmo. Tuhan dan semesta lindungi kita selalu. Selamat tahun baru! 🤍 📸: @ckuntjoro
Parang Kusumo adalah motif batik yang memenuhi lemari gw. Menggambarkan ombak yang saling bertautan, dengan makna perjuangan dan keseimbangan. Menjadi sebuah simbol kekuatan batin dan keselarasan hidup umat manusia. Pagi ini seperti biasa, memulai hari dengan sejenak bermeditasi dan refleksi diri. Sepanjang tahun 2024, setiap seminar rasanya campur aduk. Penuh haru dan sukacita karena ga terasa, terhitung 5 tahun sudah sejak kali pertama gw berbagi ke kalian semua tentang kondisi kesehatan mental gw. Tapi di saat yang sama, sejujurnya kemarin adalah tahun yang sangat berat. Cukup sering bahas ini ketika sedang seminar: bahwasanya perjalanan menuju pulih itu bukanlah suatu hal yang linear. Bukan sebuah garis lurus dari satu titik ke titik selanjutnya, tapi merupakan perjalanan kompleks yang penuh pasang surut, kemajuan pesat, kemunduran, dan juga perputaran atau pengulangan yang rasanya tiada akhir. Tidak ada satu panduan konkret yang bisa digunakan setiap manusia untuk segala cobaan, kesulitan dan tekanan jiwanya. Sebab pemulihan adalah sebuah proses perjalanan personal. Sebuah rutinitas melelahkan yang membutuhkan kesabaran, cinta dan kasih yang luar biasa dari dan untuk diri kita sendiri, yang juga harus terus konsisten dilakukan seumur hidup. Tapi menurut gw disitulah seninya. Belum tentu penting hasil akhirnya, belum tentu tau juga kapan selesainya, namun yang terpenting adalah kita bisa menikmati segala hal yang terjadi di dalam prosesnya. Semoga di tahun 2025 ini kita semua diberikan kemampuan untuk merayakan segala hal- bukan hanya yang mengalir indah, menyenangkan dan menenangkan, tapi juga setiap deburan ombak yang terasa melelahkan, menyedihkan, atau menyakitkan, dengan kepercayaan penuh bahwa segala hal pasti akan mendewasakan; seperti filosofi dalam Parang Kusumo, membantu kita mencapai keharuman lahir dan batin. Kawula mung sadermo, mobah mosik kersaning hyang sukmo. Tuhan dan semesta lindungi kita selalu. Selamat tahun baru! 🤍 📸: @ckuntjoro
Parang Kusumo adalah motif batik yang memenuhi lemari gw. Menggambarkan ombak yang saling bertautan, dengan makna perjuangan dan keseimbangan. Menjadi sebuah simbol kekuatan batin dan keselarasan hidup umat manusia. Pagi ini seperti biasa, memulai hari dengan sejenak bermeditasi dan refleksi diri. Sepanjang tahun 2024, setiap seminar rasanya campur aduk. Penuh haru dan sukacita karena ga terasa, terhitung 5 tahun sudah sejak kali pertama gw berbagi ke kalian semua tentang kondisi kesehatan mental gw. Tapi di saat yang sama, sejujurnya kemarin adalah tahun yang sangat berat. Cukup sering bahas ini ketika sedang seminar: bahwasanya perjalanan menuju pulih itu bukanlah suatu hal yang linear. Bukan sebuah garis lurus dari satu titik ke titik selanjutnya, tapi merupakan perjalanan kompleks yang penuh pasang surut, kemajuan pesat, kemunduran, dan juga perputaran atau pengulangan yang rasanya tiada akhir. Tidak ada satu panduan konkret yang bisa digunakan setiap manusia untuk segala cobaan, kesulitan dan tekanan jiwanya. Sebab pemulihan adalah sebuah proses perjalanan personal. Sebuah rutinitas melelahkan yang membutuhkan kesabaran, cinta dan kasih yang luar biasa dari dan untuk diri kita sendiri, yang juga harus terus konsisten dilakukan seumur hidup. Tapi menurut gw disitulah seninya. Belum tentu penting hasil akhirnya, belum tentu tau juga kapan selesainya, namun yang terpenting adalah kita bisa menikmati segala hal yang terjadi di dalam prosesnya. Semoga di tahun 2025 ini kita semua diberikan kemampuan untuk merayakan segala hal- bukan hanya yang mengalir indah, menyenangkan dan menenangkan, tapi juga setiap deburan ombak yang terasa melelahkan, menyedihkan, atau menyakitkan, dengan kepercayaan penuh bahwa segala hal pasti akan mendewasakan; seperti filosofi dalam Parang Kusumo, membantu kita mencapai keharuman lahir dan batin. Kawula mung sadermo, mobah mosik kersaning hyang sukmo. Tuhan dan semesta lindungi kita selalu. Selamat tahun baru! 🤍 📸: @ckuntjoro
Belum terpikir sama sekali untuk memasuki dunia seni panggung. Tiba-tiba “menjerumuskan diri” ke dalam naskah monolog 20 halaman, dengan beberapa bagian bahasa Sunda halus, juga berbagai macam tarian dan tembang-tembang Ronggeng Gunung di dalamnya. Melalui waktu 5 minggu untuk memahami, meresapi dan menghafal seluruh kata, tarian dan lagu. Lucunya, di tengah lelahnya tubuh dan pikiran karena berlatih 8 jam per hari, lalu setiap malam lanjut promo film, ternyata masih ada energi untuk berpikir yang tidak-tidak dan ketakutan. Gimana kalo nanti di atas panggung lupa dialog? Gimana kalo trauma panggung gw muncul lagi, terus suara gw hilang? Terus ga bisa nyanyi? Ga bisa bersuara, terus pingsan? Konyol, memang. Tapi hampir selalu berhasil membuat gw ketakutan hehe. Hidup itu jenaka dengan segala kemagisannya. Segala hal yang kita takutkan, justru sering kali mendadak datang, lalu kita dihadapkan dengan dua pilihan: Mau menenggelamkan diri dalam ketakutan, atau mengupayakan segalanya dengan kepercayaan. Pementasan kemarin ternyata bukan hanya asupan jiwa dalam ranah kesenian buat gw, tapi juga sebuah tonggak pencapaian emosional. Sebab hidup ga akan pernah luput dari cobaan, keraguan dan ketakutan. Yang membedakan hanya bagaimana kita mengelola apa yang bisa kita kendalikan, yaitu pikiran dan kenyataan yang kita ciptakan. Dengan lebih baik, lebih tenang, dan lebih ikhlas gw menghadapi segala perasaan yang datang dan pergi selama persiapan dan 3 hari pertunjukan kemarin. Terima kasih sudah percayakan Nyi Pijar kepadaku yaa Tetehku terkasih @happysalma, Ibu Produser membanggakan @panggil_tia, sutradara tersayang #HelianaSinaga dan tentunya Ibu @renitasari. Aku luar biasa bersyukur untuk segala ilmu, bimbingan, kepercayaan dan kasih yang luar biasa dari kalian, juga semua teman-teman yang mendampingi setiap langkah aku berproses dalam pementasan ini; yang sedihnya ga bisa aku tag satu-satu karena ternyata ada limit caption IG huhh. Terima kasih juga untuk semua teman-teman yang sudah datang ke “kalang dimana aku menyanyi dan menari”, meskipun tidak “sampai fajar menggeliat di langit”. Sampai bertemu di panggung-panggung #SangKembangBale selanjutnya! 🌺
Belum terpikir sama sekali untuk memasuki dunia seni panggung. Tiba-tiba “menjerumuskan diri” ke dalam naskah monolog 20 halaman, dengan beberapa bagian bahasa Sunda halus, juga berbagai macam tarian dan tembang-tembang Ronggeng Gunung di dalamnya. Melalui waktu 5 minggu untuk memahami, meresapi dan menghafal seluruh kata, tarian dan lagu. Lucunya, di tengah lelahnya tubuh dan pikiran karena berlatih 8 jam per hari, lalu setiap malam lanjut promo film, ternyata masih ada energi untuk berpikir yang tidak-tidak dan ketakutan. Gimana kalo nanti di atas panggung lupa dialog? Gimana kalo trauma panggung gw muncul lagi, terus suara gw hilang? Terus ga bisa nyanyi? Ga bisa bersuara, terus pingsan? Konyol, memang. Tapi hampir selalu berhasil membuat gw ketakutan hehe. Hidup itu jenaka dengan segala kemagisannya. Segala hal yang kita takutkan, justru sering kali mendadak datang, lalu kita dihadapkan dengan dua pilihan: Mau menenggelamkan diri dalam ketakutan, atau mengupayakan segalanya dengan kepercayaan. Pementasan kemarin ternyata bukan hanya asupan jiwa dalam ranah kesenian buat gw, tapi juga sebuah tonggak pencapaian emosional. Sebab hidup ga akan pernah luput dari cobaan, keraguan dan ketakutan. Yang membedakan hanya bagaimana kita mengelola apa yang bisa kita kendalikan, yaitu pikiran dan kenyataan yang kita ciptakan. Dengan lebih baik, lebih tenang, dan lebih ikhlas gw menghadapi segala perasaan yang datang dan pergi selama persiapan dan 3 hari pertunjukan kemarin. Terima kasih sudah percayakan Nyi Pijar kepadaku yaa Tetehku terkasih @happysalma, Ibu Produser membanggakan @panggil_tia, sutradara tersayang #HelianaSinaga dan tentunya Ibu @renitasari. Aku luar biasa bersyukur untuk segala ilmu, bimbingan, kepercayaan dan kasih yang luar biasa dari kalian, juga semua teman-teman yang mendampingi setiap langkah aku berproses dalam pementasan ini; yang sedihnya ga bisa aku tag satu-satu karena ternyata ada limit caption IG huhh. Terima kasih juga untuk semua teman-teman yang sudah datang ke “kalang dimana aku menyanyi dan menari”, meskipun tidak “sampai fajar menggeliat di langit”. Sampai bertemu di panggung-panggung #SangKembangBale selanjutnya! 🌺
Belum terpikir sama sekali untuk memasuki dunia seni panggung. Tiba-tiba “menjerumuskan diri” ke dalam naskah monolog 20 halaman, dengan beberapa bagian bahasa Sunda halus, juga berbagai macam tarian dan tembang-tembang Ronggeng Gunung di dalamnya. Melalui waktu 5 minggu untuk memahami, meresapi dan menghafal seluruh kata, tarian dan lagu. Lucunya, di tengah lelahnya tubuh dan pikiran karena berlatih 8 jam per hari, lalu setiap malam lanjut promo film, ternyata masih ada energi untuk berpikir yang tidak-tidak dan ketakutan. Gimana kalo nanti di atas panggung lupa dialog? Gimana kalo trauma panggung gw muncul lagi, terus suara gw hilang? Terus ga bisa nyanyi? Ga bisa bersuara, terus pingsan? Konyol, memang. Tapi hampir selalu berhasil membuat gw ketakutan hehe. Hidup itu jenaka dengan segala kemagisannya. Segala hal yang kita takutkan, justru sering kali mendadak datang, lalu kita dihadapkan dengan dua pilihan: Mau menenggelamkan diri dalam ketakutan, atau mengupayakan segalanya dengan kepercayaan. Pementasan kemarin ternyata bukan hanya asupan jiwa dalam ranah kesenian buat gw, tapi juga sebuah tonggak pencapaian emosional. Sebab hidup ga akan pernah luput dari cobaan, keraguan dan ketakutan. Yang membedakan hanya bagaimana kita mengelola apa yang bisa kita kendalikan, yaitu pikiran dan kenyataan yang kita ciptakan. Dengan lebih baik, lebih tenang, dan lebih ikhlas gw menghadapi segala perasaan yang datang dan pergi selama persiapan dan 3 hari pertunjukan kemarin. Terima kasih sudah percayakan Nyi Pijar kepadaku yaa Tetehku terkasih @happysalma, Ibu Produser membanggakan @panggil_tia, sutradara tersayang #HelianaSinaga dan tentunya Ibu @renitasari. Aku luar biasa bersyukur untuk segala ilmu, bimbingan, kepercayaan dan kasih yang luar biasa dari kalian, juga semua teman-teman yang mendampingi setiap langkah aku berproses dalam pementasan ini; yang sedihnya ga bisa aku tag satu-satu karena ternyata ada limit caption IG huhh. Terima kasih juga untuk semua teman-teman yang sudah datang ke “kalang dimana aku menyanyi dan menari”, meskipun tidak “sampai fajar menggeliat di langit”. Sampai bertemu di panggung-panggung #SangKembangBale selanjutnya! 🌺
Belum terpikir sama sekali untuk memasuki dunia seni panggung. Tiba-tiba “menjerumuskan diri” ke dalam naskah monolog 20 halaman, dengan beberapa bagian bahasa Sunda halus, juga berbagai macam tarian dan tembang-tembang Ronggeng Gunung di dalamnya. Melalui waktu 5 minggu untuk memahami, meresapi dan menghafal seluruh kata, tarian dan lagu. Lucunya, di tengah lelahnya tubuh dan pikiran karena berlatih 8 jam per hari, lalu setiap malam lanjut promo film, ternyata masih ada energi untuk berpikir yang tidak-tidak dan ketakutan. Gimana kalo nanti di atas panggung lupa dialog? Gimana kalo trauma panggung gw muncul lagi, terus suara gw hilang? Terus ga bisa nyanyi? Ga bisa bersuara, terus pingsan? Konyol, memang. Tapi hampir selalu berhasil membuat gw ketakutan hehe. Hidup itu jenaka dengan segala kemagisannya. Segala hal yang kita takutkan, justru sering kali mendadak datang, lalu kita dihadapkan dengan dua pilihan: Mau menenggelamkan diri dalam ketakutan, atau mengupayakan segalanya dengan kepercayaan. Pementasan kemarin ternyata bukan hanya asupan jiwa dalam ranah kesenian buat gw, tapi juga sebuah tonggak pencapaian emosional. Sebab hidup ga akan pernah luput dari cobaan, keraguan dan ketakutan. Yang membedakan hanya bagaimana kita mengelola apa yang bisa kita kendalikan, yaitu pikiran dan kenyataan yang kita ciptakan. Dengan lebih baik, lebih tenang, dan lebih ikhlas gw menghadapi segala perasaan yang datang dan pergi selama persiapan dan 3 hari pertunjukan kemarin. Terima kasih sudah percayakan Nyi Pijar kepadaku yaa Tetehku terkasih @happysalma, Ibu Produser membanggakan @panggil_tia, sutradara tersayang #HelianaSinaga dan tentunya Ibu @renitasari. Aku luar biasa bersyukur untuk segala ilmu, bimbingan, kepercayaan dan kasih yang luar biasa dari kalian, juga semua teman-teman yang mendampingi setiap langkah aku berproses dalam pementasan ini; yang sedihnya ga bisa aku tag satu-satu karena ternyata ada limit caption IG huhh. Terima kasih juga untuk semua teman-teman yang sudah datang ke “kalang dimana aku menyanyi dan menari”, meskipun tidak “sampai fajar menggeliat di langit”. Sampai bertemu di panggung-panggung #SangKembangBale selanjutnya! 🌺
Belum terpikir sama sekali untuk memasuki dunia seni panggung. Tiba-tiba “menjerumuskan diri” ke dalam naskah monolog 20 halaman, dengan beberapa bagian bahasa Sunda halus, juga berbagai macam tarian dan tembang-tembang Ronggeng Gunung di dalamnya. Melalui waktu 5 minggu untuk memahami, meresapi dan menghafal seluruh kata, tarian dan lagu. Lucunya, di tengah lelahnya tubuh dan pikiran karena berlatih 8 jam per hari, lalu setiap malam lanjut promo film, ternyata masih ada energi untuk berpikir yang tidak-tidak dan ketakutan. Gimana kalo nanti di atas panggung lupa dialog? Gimana kalo trauma panggung gw muncul lagi, terus suara gw hilang? Terus ga bisa nyanyi? Ga bisa bersuara, terus pingsan? Konyol, memang. Tapi hampir selalu berhasil membuat gw ketakutan hehe. Hidup itu jenaka dengan segala kemagisannya. Segala hal yang kita takutkan, justru sering kali mendadak datang, lalu kita dihadapkan dengan dua pilihan: Mau menenggelamkan diri dalam ketakutan, atau mengupayakan segalanya dengan kepercayaan. Pementasan kemarin ternyata bukan hanya asupan jiwa dalam ranah kesenian buat gw, tapi juga sebuah tonggak pencapaian emosional. Sebab hidup ga akan pernah luput dari cobaan, keraguan dan ketakutan. Yang membedakan hanya bagaimana kita mengelola apa yang bisa kita kendalikan, yaitu pikiran dan kenyataan yang kita ciptakan. Dengan lebih baik, lebih tenang, dan lebih ikhlas gw menghadapi segala perasaan yang datang dan pergi selama persiapan dan 3 hari pertunjukan kemarin. Terima kasih sudah percayakan Nyi Pijar kepadaku yaa Tetehku terkasih @happysalma, Ibu Produser membanggakan @panggil_tia, sutradara tersayang #HelianaSinaga dan tentunya Ibu @renitasari. Aku luar biasa bersyukur untuk segala ilmu, bimbingan, kepercayaan dan kasih yang luar biasa dari kalian, juga semua teman-teman yang mendampingi setiap langkah aku berproses dalam pementasan ini; yang sedihnya ga bisa aku tag satu-satu karena ternyata ada limit caption IG huhh. Terima kasih juga untuk semua teman-teman yang sudah datang ke “kalang dimana aku menyanyi dan menari”, meskipun tidak “sampai fajar menggeliat di langit”. Sampai bertemu di panggung-panggung #SangKembangBale selanjutnya! 🌺
Belum terpikir sama sekali untuk memasuki dunia seni panggung. Tiba-tiba “menjerumuskan diri” ke dalam naskah monolog 20 halaman, dengan beberapa bagian bahasa Sunda halus, juga berbagai macam tarian dan tembang-tembang Ronggeng Gunung di dalamnya. Melalui waktu 5 minggu untuk memahami, meresapi dan menghafal seluruh kata, tarian dan lagu. Lucunya, di tengah lelahnya tubuh dan pikiran karena berlatih 8 jam per hari, lalu setiap malam lanjut promo film, ternyata masih ada energi untuk berpikir yang tidak-tidak dan ketakutan. Gimana kalo nanti di atas panggung lupa dialog? Gimana kalo trauma panggung gw muncul lagi, terus suara gw hilang? Terus ga bisa nyanyi? Ga bisa bersuara, terus pingsan? Konyol, memang. Tapi hampir selalu berhasil membuat gw ketakutan hehe. Hidup itu jenaka dengan segala kemagisannya. Segala hal yang kita takutkan, justru sering kali mendadak datang, lalu kita dihadapkan dengan dua pilihan: Mau menenggelamkan diri dalam ketakutan, atau mengupayakan segalanya dengan kepercayaan. Pementasan kemarin ternyata bukan hanya asupan jiwa dalam ranah kesenian buat gw, tapi juga sebuah tonggak pencapaian emosional. Sebab hidup ga akan pernah luput dari cobaan, keraguan dan ketakutan. Yang membedakan hanya bagaimana kita mengelola apa yang bisa kita kendalikan, yaitu pikiran dan kenyataan yang kita ciptakan. Dengan lebih baik, lebih tenang, dan lebih ikhlas gw menghadapi segala perasaan yang datang dan pergi selama persiapan dan 3 hari pertunjukan kemarin. Terima kasih sudah percayakan Nyi Pijar kepadaku yaa Tetehku terkasih @happysalma, Ibu Produser membanggakan @panggil_tia, sutradara tersayang #HelianaSinaga dan tentunya Ibu @renitasari. Aku luar biasa bersyukur untuk segala ilmu, bimbingan, kepercayaan dan kasih yang luar biasa dari kalian, juga semua teman-teman yang mendampingi setiap langkah aku berproses dalam pementasan ini; yang sedihnya ga bisa aku tag satu-satu karena ternyata ada limit caption IG huhh. Terima kasih juga untuk semua teman-teman yang sudah datang ke “kalang dimana aku menyanyi dan menari”, meskipun tidak “sampai fajar menggeliat di langit”. Sampai bertemu di panggung-panggung #SangKembangBale selanjutnya! 🌺
Senandung Puspa. Sebuah karya Didiet Maulana yang dikenakan oleh Ariel Tatum untuk acara Anniversary majalah @prestigeindonesia ke 20 tahun. Gaun hitam yang terinspirasi oleh kemben dibuat menyentuh lantai dan dihiasi bunga-bunga karya perajin dari Bali, seperti untaian karangan bunga yang bersenandung. Tampilan ini disempurnakan dengan pulasan make up dan tatanan rambut yang terinspirasi dari Hollywood klasik di era tahun 1950an. Menuju persiapan acara, lagu Bye Bye Baby yang dinyanyikan Marylin Monroe untuk film Gentlemen Prefer Blonde (1953) diputar beberapa kali sebagai pengantar malam kami. Truly a beautiful night to remember- presenting this art piece at the #PrestigeGala! Congratulations once again @ronaldliem ✨ Make up by @andychunmakeup Hair by @yezhadjohair Captured by @___rega.arie @lekat.ind
Senandung Puspa. Sebuah karya Didiet Maulana yang dikenakan oleh Ariel Tatum untuk acara Anniversary majalah @prestigeindonesia ke 20 tahun. Gaun hitam yang terinspirasi oleh kemben dibuat menyentuh lantai dan dihiasi bunga-bunga karya perajin dari Bali, seperti untaian karangan bunga yang bersenandung. Tampilan ini disempurnakan dengan pulasan make up dan tatanan rambut yang terinspirasi dari Hollywood klasik di era tahun 1950an. Menuju persiapan acara, lagu Bye Bye Baby yang dinyanyikan Marylin Monroe untuk film Gentlemen Prefer Blonde (1953) diputar beberapa kali sebagai pengantar malam kami. Truly a beautiful night to remember- presenting this art piece at the #PrestigeGala! Congratulations once again @ronaldliem ✨ Make up by @andychunmakeup Hair by @yezhadjohair Captured by @___rega.arie @lekat.ind
Senandung Puspa. Sebuah karya Didiet Maulana yang dikenakan oleh Ariel Tatum untuk acara Anniversary majalah @prestigeindonesia ke 20 tahun. Gaun hitam yang terinspirasi oleh kemben dibuat menyentuh lantai dan dihiasi bunga-bunga karya perajin dari Bali, seperti untaian karangan bunga yang bersenandung. Tampilan ini disempurnakan dengan pulasan make up dan tatanan rambut yang terinspirasi dari Hollywood klasik di era tahun 1950an. Menuju persiapan acara, lagu Bye Bye Baby yang dinyanyikan Marylin Monroe untuk film Gentlemen Prefer Blonde (1953) diputar beberapa kali sebagai pengantar malam kami. Truly a beautiful night to remember- presenting this art piece at the #PrestigeGala! Congratulations once again @ronaldliem ✨ Make up by @andychunmakeup Hair by @yezhadjohair Captured by @___rega.arie @lekat.ind
Senandung Puspa. Sebuah karya Didiet Maulana yang dikenakan oleh Ariel Tatum untuk acara Anniversary majalah @prestigeindonesia ke 20 tahun. Gaun hitam yang terinspirasi oleh kemben dibuat menyentuh lantai dan dihiasi bunga-bunga karya perajin dari Bali, seperti untaian karangan bunga yang bersenandung. Tampilan ini disempurnakan dengan pulasan make up dan tatanan rambut yang terinspirasi dari Hollywood klasik di era tahun 1950an. Menuju persiapan acara, lagu Bye Bye Baby yang dinyanyikan Marylin Monroe untuk film Gentlemen Prefer Blonde (1953) diputar beberapa kali sebagai pengantar malam kami. Truly a beautiful night to remember- presenting this art piece at the #PrestigeGala! Congratulations once again @ronaldliem ✨ Make up by @andychunmakeup Hair by @yezhadjohair Captured by @___rega.arie @lekat.ind
Senandung Puspa. Sebuah karya Didiet Maulana yang dikenakan oleh Ariel Tatum untuk acara Anniversary majalah @prestigeindonesia ke 20 tahun. Gaun hitam yang terinspirasi oleh kemben dibuat menyentuh lantai dan dihiasi bunga-bunga karya perajin dari Bali, seperti untaian karangan bunga yang bersenandung. Tampilan ini disempurnakan dengan pulasan make up dan tatanan rambut yang terinspirasi dari Hollywood klasik di era tahun 1950an. Menuju persiapan acara, lagu Bye Bye Baby yang dinyanyikan Marylin Monroe untuk film Gentlemen Prefer Blonde (1953) diputar beberapa kali sebagai pengantar malam kami. Truly a beautiful night to remember- presenting this art piece at the #PrestigeGala! Congratulations once again @ronaldliem ✨ Make up by @andychunmakeup Hair by @yezhadjohair Captured by @___rega.arie @lekat.ind
Senandung Puspa. Sebuah karya Didiet Maulana yang dikenakan oleh Ariel Tatum untuk acara Anniversary majalah @prestigeindonesia ke 20 tahun. Gaun hitam yang terinspirasi oleh kemben dibuat menyentuh lantai dan dihiasi bunga-bunga karya perajin dari Bali, seperti untaian karangan bunga yang bersenandung. Tampilan ini disempurnakan dengan pulasan make up dan tatanan rambut yang terinspirasi dari Hollywood klasik di era tahun 1950an. Menuju persiapan acara, lagu Bye Bye Baby yang dinyanyikan Marylin Monroe untuk film Gentlemen Prefer Blonde (1953) diputar beberapa kali sebagai pengantar malam kami. Truly a beautiful night to remember- presenting this art piece at the #PrestigeGala! Congratulations once again @ronaldliem ✨ Make up by @andychunmakeup Hair by @yezhadjohair Captured by @___rega.arie @lekat.ind
Senandung Puspa. Sebuah karya Didiet Maulana yang dikenakan oleh Ariel Tatum untuk acara Anniversary majalah @prestigeindonesia ke 20 tahun. Gaun hitam yang terinspirasi oleh kemben dibuat menyentuh lantai dan dihiasi bunga-bunga karya perajin dari Bali, seperti untaian karangan bunga yang bersenandung. Tampilan ini disempurnakan dengan pulasan make up dan tatanan rambut yang terinspirasi dari Hollywood klasik di era tahun 1950an. Menuju persiapan acara, lagu Bye Bye Baby yang dinyanyikan Marylin Monroe untuk film Gentlemen Prefer Blonde (1953) diputar beberapa kali sebagai pengantar malam kami. Truly a beautiful night to remember- presenting this art piece at the #PrestigeGala! Congratulations once again @ronaldliem ✨ Make up by @andychunmakeup Hair by @yezhadjohair Captured by @___rega.arie @lekat.ind
Traveled 8.428 miles away from home to witness this magical moment. Sejak awal tahun sudah memutuskan bahwa destinasi tradisi solo trip kali ini adalah Nordic countries, karena 2024 diprediksi menjadi tahun terbaik siklus aktifitas Northern Lights. Tapi ya namanya alam semesta, dengan segala kemagisanya, sering kali ga bisa diprediksi manusia. Tanggal 6 November kemarin gw nangis sejadi-jadinya karena kata @lorenzmira_lapland, seminggu ini mendadak cuacanya buruk sekali, jadi ga mungkin ada aktifitas Aurora Borealis. Namun seperti biasa, di tanggal 8 November selalu ada kejutan mengherankan nan membahagiakan dari semesta untuk yang sedang merayakan hari lahirnya. Sungguh seakan seperti menunggu sesuai dengan doa gw, yaitu: ulang tahun kali ini pengen lihat Northern Lights, maka baru di hari itu juga, mendadak ada “salah satu aktifitas Northern Lights terbaik di musim ini”, kata mereka. Rencana Tuhan dan semesta memang selalu luar biasa. Semoga kalian semua juga senantiasa dalam lindungan dan kebaikannya, yaa! 🤍 #NorthernLights #AuroraBorealis
Kembali ke akar. Kali ini, mendoakan diri justru menjadi kegiatan penutup dalam rangkaian tradisi bulan November. Tahun ini menjadi tahun paling membahagiakan selama tiga tahun hidup dengan penuh kesadaran. Sungguh penuh syukur masih diberikan kesehatan, diberkahi dengan perlindungan luar biasa, juga segala hal baik yang berlimpah- dari yang memang indah, sampai yang pada awalnya menyerupai musibah, tapi kemudian seperti biasa: menjadi berbagai pembelajaran sangat penting untuk hidup kedepan. Banyak yang hilang, namun digantikan dengan yang justru lebih dibutuhkan. Ku berdoa, semoga kita semua diberikan kemampuan untuk selalu bersyukur, serta senantiasa menjadi pribadi yang penuh hikmat, damai, cinta dan kasih untuk diri sendiri, juga untuk semua makhluk di muka bumi. Tuhan dan semesta jaga dan berkahi kita semua selalu..🤍 Diabadikan oleh: @carolkuntjoro
Senang sekali mengumumkan film terbaru kami, Perang Kota, karya sutradara dan penulis Mouly Surya (@moulysurya), akan menjadi film penutup pada Festival Film Internasional Rotterdam edisi ke-54 yang akan diselenggarakan pada 30 Januari – 9 Februari 2025. Berlatar perjuangan kemerdekaan Indonesia di tahun 1946, Perang Kota dibintangi oleh Chicco Jerikho (@chicco.jerikho), Ariel Tatum (@arieltatum), dan Jerome Kurnia (@jerompret). Perang Kota menceritakan ISA, pahlawan perang dan guru sekolah, yang bermasalah di ranjang perkawinannya. Ia dipercayakan sebuah misi untuk menghabisi petinggi kolonial Belanda dalam usaha mempertahankan kemerdekaan. Di sisinya ada HAZIL yang tampan dan bersemangat tinggi ,yang diam-diam berupaya memenangkan hati FATIMAH, istri Isa. Film ini merupakan adaptasi novel karya Mochtar Lubis, Jalan Tak Ada Ujung. Persembahan terbaru dari @cinesurya, @starvisionplus, @kaningapictures. Ko-produksi dengan @giraffe.pictures, @volyafilms, Shasha & Co. Production, DUOFilm AS, epicmediaph, @qunfilms, @kongchak_kh. Di bioskop 2025! Happy to announce that This City is a Battlefield (Perang Kota), from writer and director Mouly Surya will be the closing film of the 54th edition International Film Festival Rotterdam. Set against the backdrop of Indonesia’s fight for independence in 1946, This City is a Battlefield stars Chicco Jerikho (@chicco.jerikho), Ariel Tatum (@arieltatum), and Jerome Kurnia (@jerompret). This film follows ISA, a war hero and schoolteacher, who is asked to operate a mission to assassinate an important Dutch official, in an attempt for the resistance to defend Indonesia’s independence. By his side is the passionate and young HAZIL, trying to win FATIMAH, Isa’s wife, whom Isa hasn’t been able to be intimate with anymore. This City is a Battlefield showcases Surya’s artistic evolution as she transitions into ambitious historical storytelling and is adapted from Mochtar Lubis’ novel, A Road with No End. A new presentation from @cinesurya, @starvisionplus, and @kaningapictures, in co production with @giraffe.pictures, @volyafilms, Shasha & Co. Production, DUOFilm AS, @epicmediaph, @qunfilms, @kongchak_kh In theaters 2025!
Isa, Fatimah, dan Hazil dalam epos sejarah terbaru Mouly Surya, Perang Kota, adaptasi dari Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis.