Tanggapan sederhana tentang yang terjadi saat ini.
Foto ini diambil saat aku mengajar di SD Inpres Soe Un Desa Kuatae NTT ❤️ Sebelum kerusuhan pecah, sebelum hiruk-pikuk mengguncang. Semakin jauh aku melangkah, semakin terbuka mataku melihat wajah lain dari negeri ini. Di balik alam yang begitu indah membentang, ada suara-suara yang tak terdengar, ada hak-hak yang direnggut diam-diam. Namun dengan segala keterbatasan, saat aku bertanya apa mimpi mereka, semuanya menjawab dengan penuh semangat. Ada yang bermimpi menjadi Dokter, Perawat, Pemain Bola hingga Astronout. Sungguh semangat mereka langsung menular ke dalam diri ini. Sejak mata ini melihat sisi yang jarang terlihat, aku jadi malu untuk mengeluh tentang hidup. Di pelosok, ada begitu banyak senyuman yang lahir di atas ketidakadilan. Semoga setiap harapan di balik senyuman itu tak pernah padam—hingga mimpi yang terasa mustahil bisa kita wujudkan bersama. Cepat pulih, Indonesiaku 🇮🇩 #AdoptADream
Foto ini diambil saat aku mengajar di SD Inpres Soe Un Desa Kuatae NTT ❤️ Sebelum kerusuhan pecah, sebelum hiruk-pikuk mengguncang. Semakin jauh aku melangkah, semakin terbuka mataku melihat wajah lain dari negeri ini. Di balik alam yang begitu indah membentang, ada suara-suara yang tak terdengar, ada hak-hak yang direnggut diam-diam. Namun dengan segala keterbatasan, saat aku bertanya apa mimpi mereka, semuanya menjawab dengan penuh semangat. Ada yang bermimpi menjadi Dokter, Perawat, Pemain Bola hingga Astronout. Sungguh semangat mereka langsung menular ke dalam diri ini. Sejak mata ini melihat sisi yang jarang terlihat, aku jadi malu untuk mengeluh tentang hidup. Di pelosok, ada begitu banyak senyuman yang lahir di atas ketidakadilan. Semoga setiap harapan di balik senyuman itu tak pernah padam—hingga mimpi yang terasa mustahil bisa kita wujudkan bersama. Cepat pulih, Indonesiaku 🇮🇩 #AdoptADream
Foto ini diambil saat aku mengajar di SD Inpres Soe Un Desa Kuatae NTT ❤️ Sebelum kerusuhan pecah, sebelum hiruk-pikuk mengguncang. Semakin jauh aku melangkah, semakin terbuka mataku melihat wajah lain dari negeri ini. Di balik alam yang begitu indah membentang, ada suara-suara yang tak terdengar, ada hak-hak yang direnggut diam-diam. Namun dengan segala keterbatasan, saat aku bertanya apa mimpi mereka, semuanya menjawab dengan penuh semangat. Ada yang bermimpi menjadi Dokter, Perawat, Pemain Bola hingga Astronout. Sungguh semangat mereka langsung menular ke dalam diri ini. Sejak mata ini melihat sisi yang jarang terlihat, aku jadi malu untuk mengeluh tentang hidup. Di pelosok, ada begitu banyak senyuman yang lahir di atas ketidakadilan. Semoga setiap harapan di balik senyuman itu tak pernah padam—hingga mimpi yang terasa mustahil bisa kita wujudkan bersama. Cepat pulih, Indonesiaku 🇮🇩 #AdoptADream
Foto ini diambil saat aku mengajar di SD Inpres Soe Un Desa Kuatae NTT ❤️ Sebelum kerusuhan pecah, sebelum hiruk-pikuk mengguncang. Semakin jauh aku melangkah, semakin terbuka mataku melihat wajah lain dari negeri ini. Di balik alam yang begitu indah membentang, ada suara-suara yang tak terdengar, ada hak-hak yang direnggut diam-diam. Namun dengan segala keterbatasan, saat aku bertanya apa mimpi mereka, semuanya menjawab dengan penuh semangat. Ada yang bermimpi menjadi Dokter, Perawat, Pemain Bola hingga Astronout. Sungguh semangat mereka langsung menular ke dalam diri ini. Sejak mata ini melihat sisi yang jarang terlihat, aku jadi malu untuk mengeluh tentang hidup. Di pelosok, ada begitu banyak senyuman yang lahir di atas ketidakadilan. Semoga setiap harapan di balik senyuman itu tak pernah padam—hingga mimpi yang terasa mustahil bisa kita wujudkan bersama. Cepat pulih, Indonesiaku 🇮🇩 #AdoptADream
Foto ini diambil saat aku mengajar di SD Inpres Soe Un Desa Kuatae NTT ❤️ Sebelum kerusuhan pecah, sebelum hiruk-pikuk mengguncang. Semakin jauh aku melangkah, semakin terbuka mataku melihat wajah lain dari negeri ini. Di balik alam yang begitu indah membentang, ada suara-suara yang tak terdengar, ada hak-hak yang direnggut diam-diam. Namun dengan segala keterbatasan, saat aku bertanya apa mimpi mereka, semuanya menjawab dengan penuh semangat. Ada yang bermimpi menjadi Dokter, Perawat, Pemain Bola hingga Astronout. Sungguh semangat mereka langsung menular ke dalam diri ini. Sejak mata ini melihat sisi yang jarang terlihat, aku jadi malu untuk mengeluh tentang hidup. Di pelosok, ada begitu banyak senyuman yang lahir di atas ketidakadilan. Semoga setiap harapan di balik senyuman itu tak pernah padam—hingga mimpi yang terasa mustahil bisa kita wujudkan bersama. Cepat pulih, Indonesiaku 🇮🇩 #AdoptADream
Foto ini diambil saat aku mengajar di SD Inpres Soe Un Desa Kuatae NTT ❤️ Sebelum kerusuhan pecah, sebelum hiruk-pikuk mengguncang. Semakin jauh aku melangkah, semakin terbuka mataku melihat wajah lain dari negeri ini. Di balik alam yang begitu indah membentang, ada suara-suara yang tak terdengar, ada hak-hak yang direnggut diam-diam. Namun dengan segala keterbatasan, saat aku bertanya apa mimpi mereka, semuanya menjawab dengan penuh semangat. Ada yang bermimpi menjadi Dokter, Perawat, Pemain Bola hingga Astronout. Sungguh semangat mereka langsung menular ke dalam diri ini. Sejak mata ini melihat sisi yang jarang terlihat, aku jadi malu untuk mengeluh tentang hidup. Di pelosok, ada begitu banyak senyuman yang lahir di atas ketidakadilan. Semoga setiap harapan di balik senyuman itu tak pernah padam—hingga mimpi yang terasa mustahil bisa kita wujudkan bersama. Cepat pulih, Indonesiaku 🇮🇩 #AdoptADream
Foto ini diambil saat aku mengajar di SD Inpres Soe Un Desa Kuatae NTT ❤️ Sebelum kerusuhan pecah, sebelum hiruk-pikuk mengguncang. Semakin jauh aku melangkah, semakin terbuka mataku melihat wajah lain dari negeri ini. Di balik alam yang begitu indah membentang, ada suara-suara yang tak terdengar, ada hak-hak yang direnggut diam-diam. Namun dengan segala keterbatasan, saat aku bertanya apa mimpi mereka, semuanya menjawab dengan penuh semangat. Ada yang bermimpi menjadi Dokter, Perawat, Pemain Bola hingga Astronout. Sungguh semangat mereka langsung menular ke dalam diri ini. Sejak mata ini melihat sisi yang jarang terlihat, aku jadi malu untuk mengeluh tentang hidup. Di pelosok, ada begitu banyak senyuman yang lahir di atas ketidakadilan. Semoga setiap harapan di balik senyuman itu tak pernah padam—hingga mimpi yang terasa mustahil bisa kita wujudkan bersama. Cepat pulih, Indonesiaku 🇮🇩 #AdoptADream
Foto ini diambil saat aku mengajar di SD Inpres Soe Un Desa Kuatae NTT ❤️ Sebelum kerusuhan pecah, sebelum hiruk-pikuk mengguncang. Semakin jauh aku melangkah, semakin terbuka mataku melihat wajah lain dari negeri ini. Di balik alam yang begitu indah membentang, ada suara-suara yang tak terdengar, ada hak-hak yang direnggut diam-diam. Namun dengan segala keterbatasan, saat aku bertanya apa mimpi mereka, semuanya menjawab dengan penuh semangat. Ada yang bermimpi menjadi Dokter, Perawat, Pemain Bola hingga Astronout. Sungguh semangat mereka langsung menular ke dalam diri ini. Sejak mata ini melihat sisi yang jarang terlihat, aku jadi malu untuk mengeluh tentang hidup. Di pelosok, ada begitu banyak senyuman yang lahir di atas ketidakadilan. Semoga setiap harapan di balik senyuman itu tak pernah padam—hingga mimpi yang terasa mustahil bisa kita wujudkan bersama. Cepat pulih, Indonesiaku 🇮🇩 #AdoptADream
Foto ini diambil saat aku mengajar di SD Inpres Soe Un Desa Kuatae NTT ❤️ Sebelum kerusuhan pecah, sebelum hiruk-pikuk mengguncang. Semakin jauh aku melangkah, semakin terbuka mataku melihat wajah lain dari negeri ini. Di balik alam yang begitu indah membentang, ada suara-suara yang tak terdengar, ada hak-hak yang direnggut diam-diam. Namun dengan segala keterbatasan, saat aku bertanya apa mimpi mereka, semuanya menjawab dengan penuh semangat. Ada yang bermimpi menjadi Dokter, Perawat, Pemain Bola hingga Astronout. Sungguh semangat mereka langsung menular ke dalam diri ini. Sejak mata ini melihat sisi yang jarang terlihat, aku jadi malu untuk mengeluh tentang hidup. Di pelosok, ada begitu banyak senyuman yang lahir di atas ketidakadilan. Semoga setiap harapan di balik senyuman itu tak pernah padam—hingga mimpi yang terasa mustahil bisa kita wujudkan bersama. Cepat pulih, Indonesiaku 🇮🇩 #AdoptADream
Foto ini diambil saat aku mengajar di SD Inpres Soe Un Desa Kuatae NTT ❤️ Sebelum kerusuhan pecah, sebelum hiruk-pikuk mengguncang. Semakin jauh aku melangkah, semakin terbuka mataku melihat wajah lain dari negeri ini. Di balik alam yang begitu indah membentang, ada suara-suara yang tak terdengar, ada hak-hak yang direnggut diam-diam. Namun dengan segala keterbatasan, saat aku bertanya apa mimpi mereka, semuanya menjawab dengan penuh semangat. Ada yang bermimpi menjadi Dokter, Perawat, Pemain Bola hingga Astronout. Sungguh semangat mereka langsung menular ke dalam diri ini. Sejak mata ini melihat sisi yang jarang terlihat, aku jadi malu untuk mengeluh tentang hidup. Di pelosok, ada begitu banyak senyuman yang lahir di atas ketidakadilan. Semoga setiap harapan di balik senyuman itu tak pernah padam—hingga mimpi yang terasa mustahil bisa kita wujudkan bersama. Cepat pulih, Indonesiaku 🇮🇩 #AdoptADream
Foto ini diambil saat aku mengajar di SD Inpres Soe Un Desa Kuatae NTT ❤️ Sebelum kerusuhan pecah, sebelum hiruk-pikuk mengguncang. Semakin jauh aku melangkah, semakin terbuka mataku melihat wajah lain dari negeri ini. Di balik alam yang begitu indah membentang, ada suara-suara yang tak terdengar, ada hak-hak yang direnggut diam-diam. Namun dengan segala keterbatasan, saat aku bertanya apa mimpi mereka, semuanya menjawab dengan penuh semangat. Ada yang bermimpi menjadi Dokter, Perawat, Pemain Bola hingga Astronout. Sungguh semangat mereka langsung menular ke dalam diri ini. Sejak mata ini melihat sisi yang jarang terlihat, aku jadi malu untuk mengeluh tentang hidup. Di pelosok, ada begitu banyak senyuman yang lahir di atas ketidakadilan. Semoga setiap harapan di balik senyuman itu tak pernah padam—hingga mimpi yang terasa mustahil bisa kita wujudkan bersama. Cepat pulih, Indonesiaku 🇮🇩 #AdoptADream
Foto ini diambil saat aku mengajar di SD Inpres Soe Un Desa Kuatae NTT ❤️ Sebelum kerusuhan pecah, sebelum hiruk-pikuk mengguncang. Semakin jauh aku melangkah, semakin terbuka mataku melihat wajah lain dari negeri ini. Di balik alam yang begitu indah membentang, ada suara-suara yang tak terdengar, ada hak-hak yang direnggut diam-diam. Namun dengan segala keterbatasan, saat aku bertanya apa mimpi mereka, semuanya menjawab dengan penuh semangat. Ada yang bermimpi menjadi Dokter, Perawat, Pemain Bola hingga Astronout. Sungguh semangat mereka langsung menular ke dalam diri ini. Sejak mata ini melihat sisi yang jarang terlihat, aku jadi malu untuk mengeluh tentang hidup. Di pelosok, ada begitu banyak senyuman yang lahir di atas ketidakadilan. Semoga setiap harapan di balik senyuman itu tak pernah padam—hingga mimpi yang terasa mustahil bisa kita wujudkan bersama. Cepat pulih, Indonesiaku 🇮🇩 #AdoptADream
Inilah beberapa contoh orang-orang yang layak dapat aliran pajak rakyat dan fasilitas negara yang berlimpah! Ada dari Sdr. Andas yang terus berjuang mengajar di Sorong, dan ia mengatakan bahwa walau jalan menuju ke sekolah harus ditempuh dengan kapal selama 2 jam, guru-guru dan murid-murid selalu semangat datang setiap hari. Slide 2 adalah ketika ia dan anak-anak murid harus naik kapal agar dapat jaringan internet untuk proses belajar. Ada pula dari Sdr. Orlince Bili di Sumba Barat, yang harus menjual ayam dan barang milik pribadi yang lainnya demi membelikan buku-buku agar anak-anak muridnya bisa belajar. Beberapa foto (sl. 1,3,4,5) adalah kondisi sekolah di mana ia mengajar. Guru-guru dan murid-murid di situ tetap terus datang setiap hari untuk belajar-mengajar tanpa mengeluh. Ada pula dari Sdr. Sofianti di Matantimali yang harus pertaruhkan nyawa naik gunung dan melewati pedalaman hutan setiap hari agar bisa mengajar, dan ia setiap hari selalu menyempatkan membuatkan dan membawakan murid-murid sarapan. Namun mereka tidak dihargai oleh negara ratusan juta, bahkan kata “juta” pun masih jauh. Kondisi sekolahnya sangat tidak layak. Tapi tanpa mengeluh mereka pergi setiap hari, dan anak-anak murid pun tetap jalan ke sekolah dengan senyuman lebar dan semangat untuk menimba ilmu. Mereka hanyalah segelintir contoh dari banyak sekali jiwa mulia yang terus berjuang. Inilah pahlawan negara sesungguhnya. Merekalah yang seharusnya menikmati hasil pajak yang berlimpah. Merekalah penentu masa depan.
Inilah beberapa contoh orang-orang yang layak dapat aliran pajak rakyat dan fasilitas negara yang berlimpah! Ada dari Sdr. Andas yang terus berjuang mengajar di Sorong, dan ia mengatakan bahwa walau jalan menuju ke sekolah harus ditempuh dengan kapal selama 2 jam, guru-guru dan murid-murid selalu semangat datang setiap hari. Slide 2 adalah ketika ia dan anak-anak murid harus naik kapal agar dapat jaringan internet untuk proses belajar. Ada pula dari Sdr. Orlince Bili di Sumba Barat, yang harus menjual ayam dan barang milik pribadi yang lainnya demi membelikan buku-buku agar anak-anak muridnya bisa belajar. Beberapa foto (sl. 1,3,4,5) adalah kondisi sekolah di mana ia mengajar. Guru-guru dan murid-murid di situ tetap terus datang setiap hari untuk belajar-mengajar tanpa mengeluh. Ada pula dari Sdr. Sofianti di Matantimali yang harus pertaruhkan nyawa naik gunung dan melewati pedalaman hutan setiap hari agar bisa mengajar, dan ia setiap hari selalu menyempatkan membuatkan dan membawakan murid-murid sarapan. Namun mereka tidak dihargai oleh negara ratusan juta, bahkan kata “juta” pun masih jauh. Kondisi sekolahnya sangat tidak layak. Tapi tanpa mengeluh mereka pergi setiap hari, dan anak-anak murid pun tetap jalan ke sekolah dengan senyuman lebar dan semangat untuk menimba ilmu. Mereka hanyalah segelintir contoh dari banyak sekali jiwa mulia yang terus berjuang. Inilah pahlawan negara sesungguhnya. Merekalah yang seharusnya menikmati hasil pajak yang berlimpah. Merekalah penentu masa depan.
Inilah beberapa contoh orang-orang yang layak dapat aliran pajak rakyat dan fasilitas negara yang berlimpah! Ada dari Sdr. Andas yang terus berjuang mengajar di Sorong, dan ia mengatakan bahwa walau jalan menuju ke sekolah harus ditempuh dengan kapal selama 2 jam, guru-guru dan murid-murid selalu semangat datang setiap hari. Slide 2 adalah ketika ia dan anak-anak murid harus naik kapal agar dapat jaringan internet untuk proses belajar. Ada pula dari Sdr. Orlince Bili di Sumba Barat, yang harus menjual ayam dan barang milik pribadi yang lainnya demi membelikan buku-buku agar anak-anak muridnya bisa belajar. Beberapa foto (sl. 1,3,4,5) adalah kondisi sekolah di mana ia mengajar. Guru-guru dan murid-murid di situ tetap terus datang setiap hari untuk belajar-mengajar tanpa mengeluh. Ada pula dari Sdr. Sofianti di Matantimali yang harus pertaruhkan nyawa naik gunung dan melewati pedalaman hutan setiap hari agar bisa mengajar, dan ia setiap hari selalu menyempatkan membuatkan dan membawakan murid-murid sarapan. Namun mereka tidak dihargai oleh negara ratusan juta, bahkan kata “juta” pun masih jauh. Kondisi sekolahnya sangat tidak layak. Tapi tanpa mengeluh mereka pergi setiap hari, dan anak-anak murid pun tetap jalan ke sekolah dengan senyuman lebar dan semangat untuk menimba ilmu. Mereka hanyalah segelintir contoh dari banyak sekali jiwa mulia yang terus berjuang. Inilah pahlawan negara sesungguhnya. Merekalah yang seharusnya menikmati hasil pajak yang berlimpah. Merekalah penentu masa depan.
Inilah beberapa contoh orang-orang yang layak dapat aliran pajak rakyat dan fasilitas negara yang berlimpah! Ada dari Sdr. Andas yang terus berjuang mengajar di Sorong, dan ia mengatakan bahwa walau jalan menuju ke sekolah harus ditempuh dengan kapal selama 2 jam, guru-guru dan murid-murid selalu semangat datang setiap hari. Slide 2 adalah ketika ia dan anak-anak murid harus naik kapal agar dapat jaringan internet untuk proses belajar. Ada pula dari Sdr. Orlince Bili di Sumba Barat, yang harus menjual ayam dan barang milik pribadi yang lainnya demi membelikan buku-buku agar anak-anak muridnya bisa belajar. Beberapa foto (sl. 1,3,4,5) adalah kondisi sekolah di mana ia mengajar. Guru-guru dan murid-murid di situ tetap terus datang setiap hari untuk belajar-mengajar tanpa mengeluh. Ada pula dari Sdr. Sofianti di Matantimali yang harus pertaruhkan nyawa naik gunung dan melewati pedalaman hutan setiap hari agar bisa mengajar, dan ia setiap hari selalu menyempatkan membuatkan dan membawakan murid-murid sarapan. Namun mereka tidak dihargai oleh negara ratusan juta, bahkan kata “juta” pun masih jauh. Kondisi sekolahnya sangat tidak layak. Tapi tanpa mengeluh mereka pergi setiap hari, dan anak-anak murid pun tetap jalan ke sekolah dengan senyuman lebar dan semangat untuk menimba ilmu. Mereka hanyalah segelintir contoh dari banyak sekali jiwa mulia yang terus berjuang. Inilah pahlawan negara sesungguhnya. Merekalah yang seharusnya menikmati hasil pajak yang berlimpah. Merekalah penentu masa depan.
Inilah beberapa contoh orang-orang yang layak dapat aliran pajak rakyat dan fasilitas negara yang berlimpah! Ada dari Sdr. Andas yang terus berjuang mengajar di Sorong, dan ia mengatakan bahwa walau jalan menuju ke sekolah harus ditempuh dengan kapal selama 2 jam, guru-guru dan murid-murid selalu semangat datang setiap hari. Slide 2 adalah ketika ia dan anak-anak murid harus naik kapal agar dapat jaringan internet untuk proses belajar. Ada pula dari Sdr. Orlince Bili di Sumba Barat, yang harus menjual ayam dan barang milik pribadi yang lainnya demi membelikan buku-buku agar anak-anak muridnya bisa belajar. Beberapa foto (sl. 1,3,4,5) adalah kondisi sekolah di mana ia mengajar. Guru-guru dan murid-murid di situ tetap terus datang setiap hari untuk belajar-mengajar tanpa mengeluh. Ada pula dari Sdr. Sofianti di Matantimali yang harus pertaruhkan nyawa naik gunung dan melewati pedalaman hutan setiap hari agar bisa mengajar, dan ia setiap hari selalu menyempatkan membuatkan dan membawakan murid-murid sarapan. Namun mereka tidak dihargai oleh negara ratusan juta, bahkan kata “juta” pun masih jauh. Kondisi sekolahnya sangat tidak layak. Tapi tanpa mengeluh mereka pergi setiap hari, dan anak-anak murid pun tetap jalan ke sekolah dengan senyuman lebar dan semangat untuk menimba ilmu. Mereka hanyalah segelintir contoh dari banyak sekali jiwa mulia yang terus berjuang. Inilah pahlawan negara sesungguhnya. Merekalah yang seharusnya menikmati hasil pajak yang berlimpah. Merekalah penentu masa depan.
Inilah beberapa contoh orang-orang yang layak dapat aliran pajak rakyat dan fasilitas negara yang berlimpah! Ada dari Sdr. Andas yang terus berjuang mengajar di Sorong, dan ia mengatakan bahwa walau jalan menuju ke sekolah harus ditempuh dengan kapal selama 2 jam, guru-guru dan murid-murid selalu semangat datang setiap hari. Slide 2 adalah ketika ia dan anak-anak murid harus naik kapal agar dapat jaringan internet untuk proses belajar. Ada pula dari Sdr. Orlince Bili di Sumba Barat, yang harus menjual ayam dan barang milik pribadi yang lainnya demi membelikan buku-buku agar anak-anak muridnya bisa belajar. Beberapa foto (sl. 1,3,4,5) adalah kondisi sekolah di mana ia mengajar. Guru-guru dan murid-murid di situ tetap terus datang setiap hari untuk belajar-mengajar tanpa mengeluh. Ada pula dari Sdr. Sofianti di Matantimali yang harus pertaruhkan nyawa naik gunung dan melewati pedalaman hutan setiap hari agar bisa mengajar, dan ia setiap hari selalu menyempatkan membuatkan dan membawakan murid-murid sarapan. Namun mereka tidak dihargai oleh negara ratusan juta, bahkan kata “juta” pun masih jauh. Kondisi sekolahnya sangat tidak layak. Tapi tanpa mengeluh mereka pergi setiap hari, dan anak-anak murid pun tetap jalan ke sekolah dengan senyuman lebar dan semangat untuk menimba ilmu. Mereka hanyalah segelintir contoh dari banyak sekali jiwa mulia yang terus berjuang. Inilah pahlawan negara sesungguhnya. Merekalah yang seharusnya menikmati hasil pajak yang berlimpah. Merekalah penentu masa depan.
Inilah beberapa contoh orang-orang yang layak dapat aliran pajak rakyat dan fasilitas negara yang berlimpah! Ada dari Sdr. Andas yang terus berjuang mengajar di Sorong, dan ia mengatakan bahwa walau jalan menuju ke sekolah harus ditempuh dengan kapal selama 2 jam, guru-guru dan murid-murid selalu semangat datang setiap hari. Slide 2 adalah ketika ia dan anak-anak murid harus naik kapal agar dapat jaringan internet untuk proses belajar. Ada pula dari Sdr. Orlince Bili di Sumba Barat, yang harus menjual ayam dan barang milik pribadi yang lainnya demi membelikan buku-buku agar anak-anak muridnya bisa belajar. Beberapa foto (sl. 1,3,4,5) adalah kondisi sekolah di mana ia mengajar. Guru-guru dan murid-murid di situ tetap terus datang setiap hari untuk belajar-mengajar tanpa mengeluh. Ada pula dari Sdr. Sofianti di Matantimali yang harus pertaruhkan nyawa naik gunung dan melewati pedalaman hutan setiap hari agar bisa mengajar, dan ia setiap hari selalu menyempatkan membuatkan dan membawakan murid-murid sarapan. Namun mereka tidak dihargai oleh negara ratusan juta, bahkan kata “juta” pun masih jauh. Kondisi sekolahnya sangat tidak layak. Tapi tanpa mengeluh mereka pergi setiap hari, dan anak-anak murid pun tetap jalan ke sekolah dengan senyuman lebar dan semangat untuk menimba ilmu. Mereka hanyalah segelintir contoh dari banyak sekali jiwa mulia yang terus berjuang. Inilah pahlawan negara sesungguhnya. Merekalah yang seharusnya menikmati hasil pajak yang berlimpah. Merekalah penentu masa depan.
Inilah beberapa contoh orang-orang yang layak dapat aliran pajak rakyat dan fasilitas negara yang berlimpah! Ada dari Sdr. Andas yang terus berjuang mengajar di Sorong, dan ia mengatakan bahwa walau jalan menuju ke sekolah harus ditempuh dengan kapal selama 2 jam, guru-guru dan murid-murid selalu semangat datang setiap hari. Slide 2 adalah ketika ia dan anak-anak murid harus naik kapal agar dapat jaringan internet untuk proses belajar. Ada pula dari Sdr. Orlince Bili di Sumba Barat, yang harus menjual ayam dan barang milik pribadi yang lainnya demi membelikan buku-buku agar anak-anak muridnya bisa belajar. Beberapa foto (sl. 1,3,4,5) adalah kondisi sekolah di mana ia mengajar. Guru-guru dan murid-murid di situ tetap terus datang setiap hari untuk belajar-mengajar tanpa mengeluh. Ada pula dari Sdr. Sofianti di Matantimali yang harus pertaruhkan nyawa naik gunung dan melewati pedalaman hutan setiap hari agar bisa mengajar, dan ia setiap hari selalu menyempatkan membuatkan dan membawakan murid-murid sarapan. Namun mereka tidak dihargai oleh negara ratusan juta, bahkan kata “juta” pun masih jauh. Kondisi sekolahnya sangat tidak layak. Tapi tanpa mengeluh mereka pergi setiap hari, dan anak-anak murid pun tetap jalan ke sekolah dengan senyuman lebar dan semangat untuk menimba ilmu. Mereka hanyalah segelintir contoh dari banyak sekali jiwa mulia yang terus berjuang. Inilah pahlawan negara sesungguhnya. Merekalah yang seharusnya menikmati hasil pajak yang berlimpah. Merekalah penentu masa depan.
Inilah beberapa contoh orang-orang yang layak dapat aliran pajak rakyat dan fasilitas negara yang berlimpah! Ada dari Sdr. Andas yang terus berjuang mengajar di Sorong, dan ia mengatakan bahwa walau jalan menuju ke sekolah harus ditempuh dengan kapal selama 2 jam, guru-guru dan murid-murid selalu semangat datang setiap hari. Slide 2 adalah ketika ia dan anak-anak murid harus naik kapal agar dapat jaringan internet untuk proses belajar. Ada pula dari Sdr. Orlince Bili di Sumba Barat, yang harus menjual ayam dan barang milik pribadi yang lainnya demi membelikan buku-buku agar anak-anak muridnya bisa belajar. Beberapa foto (sl. 1,3,4,5) adalah kondisi sekolah di mana ia mengajar. Guru-guru dan murid-murid di situ tetap terus datang setiap hari untuk belajar-mengajar tanpa mengeluh. Ada pula dari Sdr. Sofianti di Matantimali yang harus pertaruhkan nyawa naik gunung dan melewati pedalaman hutan setiap hari agar bisa mengajar, dan ia setiap hari selalu menyempatkan membuatkan dan membawakan murid-murid sarapan. Namun mereka tidak dihargai oleh negara ratusan juta, bahkan kata “juta” pun masih jauh. Kondisi sekolahnya sangat tidak layak. Tapi tanpa mengeluh mereka pergi setiap hari, dan anak-anak murid pun tetap jalan ke sekolah dengan senyuman lebar dan semangat untuk menimba ilmu. Mereka hanyalah segelintir contoh dari banyak sekali jiwa mulia yang terus berjuang. Inilah pahlawan negara sesungguhnya. Merekalah yang seharusnya menikmati hasil pajak yang berlimpah. Merekalah penentu masa depan.
Inilah beberapa contoh orang-orang yang layak dapat aliran pajak rakyat dan fasilitas negara yang berlimpah! Ada dari Sdr. Andas yang terus berjuang mengajar di Sorong, dan ia mengatakan bahwa walau jalan menuju ke sekolah harus ditempuh dengan kapal selama 2 jam, guru-guru dan murid-murid selalu semangat datang setiap hari. Slide 2 adalah ketika ia dan anak-anak murid harus naik kapal agar dapat jaringan internet untuk proses belajar. Ada pula dari Sdr. Orlince Bili di Sumba Barat, yang harus menjual ayam dan barang milik pribadi yang lainnya demi membelikan buku-buku agar anak-anak muridnya bisa belajar. Beberapa foto (sl. 1,3,4,5) adalah kondisi sekolah di mana ia mengajar. Guru-guru dan murid-murid di situ tetap terus datang setiap hari untuk belajar-mengajar tanpa mengeluh. Ada pula dari Sdr. Sofianti di Matantimali yang harus pertaruhkan nyawa naik gunung dan melewati pedalaman hutan setiap hari agar bisa mengajar, dan ia setiap hari selalu menyempatkan membuatkan dan membawakan murid-murid sarapan. Namun mereka tidak dihargai oleh negara ratusan juta, bahkan kata “juta” pun masih jauh. Kondisi sekolahnya sangat tidak layak. Tapi tanpa mengeluh mereka pergi setiap hari, dan anak-anak murid pun tetap jalan ke sekolah dengan senyuman lebar dan semangat untuk menimba ilmu. Mereka hanyalah segelintir contoh dari banyak sekali jiwa mulia yang terus berjuang. Inilah pahlawan negara sesungguhnya. Merekalah yang seharusnya menikmati hasil pajak yang berlimpah. Merekalah penentu masa depan.
Inilah beberapa contoh orang-orang yang layak dapat aliran pajak rakyat dan fasilitas negara yang berlimpah! Ada dari Sdr. Andas yang terus berjuang mengajar di Sorong, dan ia mengatakan bahwa walau jalan menuju ke sekolah harus ditempuh dengan kapal selama 2 jam, guru-guru dan murid-murid selalu semangat datang setiap hari. Slide 2 adalah ketika ia dan anak-anak murid harus naik kapal agar dapat jaringan internet untuk proses belajar. Ada pula dari Sdr. Orlince Bili di Sumba Barat, yang harus menjual ayam dan barang milik pribadi yang lainnya demi membelikan buku-buku agar anak-anak muridnya bisa belajar. Beberapa foto (sl. 1,3,4,5) adalah kondisi sekolah di mana ia mengajar. Guru-guru dan murid-murid di situ tetap terus datang setiap hari untuk belajar-mengajar tanpa mengeluh. Ada pula dari Sdr. Sofianti di Matantimali yang harus pertaruhkan nyawa naik gunung dan melewati pedalaman hutan setiap hari agar bisa mengajar, dan ia setiap hari selalu menyempatkan membuatkan dan membawakan murid-murid sarapan. Namun mereka tidak dihargai oleh negara ratusan juta, bahkan kata “juta” pun masih jauh. Kondisi sekolahnya sangat tidak layak. Tapi tanpa mengeluh mereka pergi setiap hari, dan anak-anak murid pun tetap jalan ke sekolah dengan senyuman lebar dan semangat untuk menimba ilmu. Mereka hanyalah segelintir contoh dari banyak sekali jiwa mulia yang terus berjuang. Inilah pahlawan negara sesungguhnya. Merekalah yang seharusnya menikmati hasil pajak yang berlimpah. Merekalah penentu masa depan.