Home Actress Gina S. Noer HD Instagram Photos and Wallpapers February 2024 Gina S. Noer Instagram - Kita tidak bisa memilih di mana dan kapan kita lahir. Sehingga, untuk mengecek keberuntungan kita, mengasah kemanusiaan kita, tak perlu jauh-jauh mencari... lihatlah ke masa lalu keluarga kita. Siapa kakek nenek kita? Eyang dari eyang kita? Bagaimana mereka bisa bertahan saat Indonesia dijajah Belanda, Jepang, dan negara imperialis lainnya selama beratus tahun. Tragedi apa yang mereka hadapi, keberuntungan apa sehingga mereka bisa selamat, hingga kita bisa lahir dan tumbuh baik? Pada 1943, kakek saya, Ngadimin, diambil dari rumahnya di Salatiga. Saat itu usianya 13 tahun. Dia dijadikan romusha di Kalimantan Timur. Saya tak terbayang penyiksaan macam apa yang harus ia tempuh. Duka apa yang harus ia hadapi karena sejak hari itu ia putus hubungan dengan keluarganya. Kakek nenek saya dari pihak Ibu mungkin lebih beruntung. Mereka "hanya" mengungsi saat agresi Belanda dan harus menggigit ranting kayu agar gendang telinga tak pecah saat serangan terjadi Saya selalu berpikir, mengapa tragedi ratusan tahun itu bisa terjadi pada nenek moyang kita? Pada tahun-tahun itu, siapa yang mau bersuara membela? Siapa yang tahu tapi memilih diam dan abai? Mungkin karena takut kepentingannya terganggu atau karena tak peduli karena jauh di negeri orang lain? Hari ini, detik ini, saya patah hati luar biasa karena saya menyaksikan (dari layar hp ini) genosida terus terjadi di Palestina dan, di waktu bersamaan, buzzer anonim (entah untuk kepentingan siapa) secara kolektif dan sistematis membangun kebencian masyarakat atas pengungsi Rohingya di sosial media kita. Saya bingung mengapa membela kemanusiaan jadi pilihan yang rumit. Saya selalu tak habis pikir mengapa kita, sesama manusia tak sempurna ini, bisa dipecahbelah dan dimanfaatkan untuk kepentingan yang (merasa) lebih besar. Saya gelisah dunia macam apa yang akan kita wariskan untuk anak cucu nanti. Ada banyak pertanyaan di kepala saya, tapi yang jelas, sebagai manusia saya sedang merasa malu dan rapuh karena belum bisa banyak berbuat.

Gina S. Noer Instagram – Kita tidak bisa memilih di mana dan kapan kita lahir. Sehingga, untuk mengecek keberuntungan kita, mengasah kemanusiaan kita, tak perlu jauh-jauh mencari… lihatlah ke masa lalu keluarga kita. Siapa kakek nenek kita? Eyang dari eyang kita? Bagaimana mereka bisa bertahan saat Indonesia dijajah Belanda, Jepang, dan negara imperialis lainnya selama beratus tahun. Tragedi apa yang mereka hadapi, keberuntungan apa sehingga mereka bisa selamat, hingga kita bisa lahir dan tumbuh baik? Pada 1943, kakek saya, Ngadimin, diambil dari rumahnya di Salatiga. Saat itu usianya 13 tahun. Dia dijadikan romusha di Kalimantan Timur. Saya tak terbayang penyiksaan macam apa yang harus ia tempuh. Duka apa yang harus ia hadapi karena sejak hari itu ia putus hubungan dengan keluarganya. Kakek nenek saya dari pihak Ibu mungkin lebih beruntung. Mereka “hanya” mengungsi saat agresi Belanda dan harus menggigit ranting kayu agar gendang telinga tak pecah saat serangan terjadi Saya selalu berpikir, mengapa tragedi ratusan tahun itu bisa terjadi pada nenek moyang kita? Pada tahun-tahun itu, siapa yang mau bersuara membela? Siapa yang tahu tapi memilih diam dan abai? Mungkin karena takut kepentingannya terganggu atau karena tak peduli karena jauh di negeri orang lain? Hari ini, detik ini, saya patah hati luar biasa karena saya menyaksikan (dari layar hp ini) genosida terus terjadi di Palestina dan, di waktu bersamaan, buzzer anonim (entah untuk kepentingan siapa) secara kolektif dan sistematis membangun kebencian masyarakat atas pengungsi Rohingya di sosial media kita. Saya bingung mengapa membela kemanusiaan jadi pilihan yang rumit. Saya selalu tak habis pikir mengapa kita, sesama manusia tak sempurna ini, bisa dipecahbelah dan dimanfaatkan untuk kepentingan yang (merasa) lebih besar. Saya gelisah dunia macam apa yang akan kita wariskan untuk anak cucu nanti. Ada banyak pertanyaan di kepala saya, tapi yang jelas, sebagai manusia saya sedang merasa malu dan rapuh karena belum bisa banyak berbuat.

Gina S. Noer Instagram - Kita tidak bisa memilih di mana dan kapan kita lahir. Sehingga, untuk mengecek keberuntungan kita, mengasah kemanusiaan kita, tak perlu jauh-jauh mencari... lihatlah ke masa lalu keluarga kita. Siapa kakek nenek kita? Eyang dari eyang kita? Bagaimana mereka bisa bertahan saat Indonesia dijajah Belanda, Jepang, dan negara imperialis lainnya selama beratus tahun. Tragedi apa yang mereka hadapi, keberuntungan apa sehingga mereka bisa selamat, hingga kita bisa lahir dan tumbuh baik? Pada 1943, kakek saya, Ngadimin, diambil dari rumahnya di Salatiga. Saat itu usianya 13 tahun. Dia dijadikan romusha di Kalimantan Timur. Saya tak terbayang penyiksaan macam apa yang harus ia tempuh. Duka apa yang harus ia hadapi karena sejak hari itu ia putus hubungan dengan keluarganya. Kakek nenek saya dari pihak Ibu mungkin lebih beruntung. Mereka "hanya" mengungsi saat agresi Belanda dan harus menggigit ranting kayu agar gendang telinga tak pecah saat serangan terjadi Saya selalu berpikir, mengapa tragedi ratusan tahun itu bisa terjadi pada nenek moyang kita? Pada tahun-tahun itu, siapa yang mau bersuara membela? Siapa yang tahu tapi memilih diam dan abai? Mungkin karena takut kepentingannya terganggu atau karena tak peduli karena jauh di negeri orang lain? Hari ini, detik ini, saya patah hati luar biasa karena saya menyaksikan (dari layar hp ini) genosida terus terjadi di Palestina dan, di waktu bersamaan, buzzer anonim (entah untuk kepentingan siapa) secara kolektif dan sistematis membangun kebencian masyarakat atas pengungsi Rohingya di sosial media kita. Saya bingung mengapa membela kemanusiaan jadi pilihan yang rumit. Saya selalu tak habis pikir mengapa kita, sesama manusia tak sempurna ini, bisa dipecahbelah dan dimanfaatkan untuk kepentingan yang (merasa) lebih besar. Saya gelisah dunia macam apa yang akan kita wariskan untuk anak cucu nanti. Ada banyak pertanyaan di kepala saya, tapi yang jelas, sebagai manusia saya sedang merasa malu dan rapuh karena belum bisa banyak berbuat.

Gina S. Noer Instagram – Kita tidak bisa memilih di mana dan kapan kita lahir.

Sehingga, untuk mengecek keberuntungan kita, mengasah kemanusiaan kita, tak perlu jauh-jauh mencari… lihatlah ke masa lalu keluarga kita.

Siapa kakek nenek kita? Eyang dari eyang kita? Bagaimana mereka bisa bertahan saat Indonesia dijajah Belanda, Jepang, dan negara imperialis lainnya selama beratus tahun.

Tragedi apa yang mereka hadapi, keberuntungan apa sehingga mereka bisa selamat, hingga kita bisa lahir dan tumbuh baik?

Pada 1943, kakek saya, Ngadimin, diambil dari rumahnya di Salatiga. Saat itu usianya 13 tahun. Dia dijadikan romusha di Kalimantan Timur.

Saya tak terbayang penyiksaan macam apa yang harus ia tempuh. Duka apa yang harus ia hadapi karena sejak hari itu ia putus hubungan dengan keluarganya.

Kakek nenek saya dari pihak Ibu mungkin lebih beruntung. Mereka “hanya” mengungsi saat agresi Belanda dan harus menggigit ranting kayu agar gendang telinga tak pecah saat serangan terjadi

Saya selalu berpikir, mengapa tragedi ratusan tahun itu bisa terjadi pada nenek moyang kita?

Pada tahun-tahun itu, siapa yang mau bersuara membela? Siapa yang tahu tapi memilih diam dan abai? Mungkin karena takut kepentingannya terganggu atau karena tak peduli karena jauh di negeri orang lain?

Hari ini, detik ini, saya patah hati luar biasa karena saya menyaksikan (dari layar hp ini) genosida terus terjadi di Palestina dan, di waktu bersamaan, buzzer anonim (entah untuk kepentingan siapa) secara kolektif dan sistematis membangun kebencian masyarakat atas pengungsi Rohingya di sosial media kita.

Saya bingung mengapa membela kemanusiaan jadi pilihan yang rumit.

Saya selalu tak habis pikir mengapa kita, sesama manusia tak sempurna ini, bisa dipecahbelah dan dimanfaatkan untuk kepentingan yang (merasa) lebih besar.

Saya gelisah dunia macam apa yang akan kita wariskan untuk anak cucu nanti.

Ada banyak pertanyaan di kepala saya, tapi yang jelas, sebagai manusia saya sedang merasa malu dan rapuh karena belum bisa banyak berbuat. | Posted on 09/Dec/2023 20:55:44

Gina S. Noer Instagram – Semoga jalan lo jadi timses salah satu capres berkah selalu ya, @rinosarjono Indonesia bangga sama putra bangsa seperti lo ❤️🤍 Salam 4 Jari! Hahahaha 😂

@salmanaristo @sppratama @orchidaramadhania @yanarahajeng @deyayu.yuliani @divapresya @ellenarmin @hahahaditha @fitriamuthmainnah @adam_juanp @javier_lukito @arief_ashshiddiq @kurniaxander @jeffryk_ @nepioks @elizacheisa Mamat Riya Wahana Kreator Nusantara

Check out the latest gallery of Gina S. Noer