Menjemput ilmu dimanapun itu amatlah baik. Menyerap ilmu dari siapapun juga tak kalah baik. Oleh sebab mengejar ilmu setinggi langit itu penting, maka biarkan kakimu tetap memijak bumi. (Teruslah) Belajar memanusiakan manusia, serta tak lupa dengan unggah ungguh. Selamat Hari Pendidikan Nasional.
Konon katanya hari ini adalah perayaan gegap gempita Hari Bumi. Kucoba menyelami lautan tuk mengucap selamat. Hening, lama tak ada jawaban. Seekor penyu tua mendekati. “Bertahun-tahun dirayakan. Akan tetapi, semakin hari manusia terus menggerus paru bumi dan merampok rahimnya.” Bukanya. “Terutama, klan yang punya kuasa. Mungkin mereka lupa, makan dari hasil bumi, berdiri diatas bumi, bahkan kembalinya pun ke bumi. Lantas, mengapa harus bersifat bak langit?” Merenung, merinding kami dibuatnya. “Manusia tak sadar, perilaku kalian di daratan, sungguh memberi dampak bagi kami di lautan. Apakah kalian lupa bahwasanya lautan ini juga bagian dari bumi?” Pungkasnya. Nusantara, 22 April 2024. – Ramon Tungka. #sayapilihbumi #haribumi #earthday #planetvsplastics2024
: Menanam sejenak, selamanya mengakar dan bertumbuh. —— Meski kerap dianaktirikan, mangrove memiliki peran yang esensial sebagai salah satu solusi menghadapi persoalan krisis iklim. Persoalan yang harus kita akui dan renungkan bersama. Tak dapat dipungkiri ragam isu lingkungan muncul akibat perilaku kita sendiri dalam berkehidupan di planet ini. Hitung saja sendiri berapa jejak karbon yang kau hasilkan hari ini? Ya! Itu baru hari ini.. bagaimana dengan kemarin dst? Penanaman mangrove mungkin seringkali dipandang sekadar seremonial belaka. Namun aksi yang katanya “kecil” ini tak hanya mampu memberikan dampak yang luar biasa bagi habitat satwa dan kehidupan sosial-ekonomi-budaya manusia di sekitar kawasannya. Keberadaannya lebih dari itu. Sobat bumi, sebagai negara dengan luas hutan mangrove terbesar di dunia, yang mencapai 3,36 juta hektare, hutan mangrove di Indonesia rata-rata menyerap 52,85 ton karbon dioksida per hektare per tahun. Setara dengan berat 9 ekor gajah Sumatra dewasa. Tentu disini Indonesia memiliki peranan penting untuk mengatasi isu lingkungan secara global. Jadi, aksi menanam pohon mangrove merupakan upaya penting untuk menyerap karbon dan menghambat laju krisis iklim. Suatu bentuk upaya mempertahankan kondisi bumi agar tetap nyaman dihuni generasi kita dan mendatang. Dan sebaliknya, menebang pohon mangrove atau bahkan merusak hutan mangrove sama saja dengan melepaskan pasukan ribuan gajah dalam bentuk karbon sehingga menjadi penyumbang gas rumah kaca. Gas rumah kaca inilah yang pada akhirnya mempercepat laju krisis iklim sehingga membuat persoalan di bumi makin menggunung dan kehidupan manusia makin berat untuk dijalani. Kita pilih menanam atau merusak mangrove? #sayapilihbumi #tropicaladventure
: Dark Matter. — Finally! Album ke 12 kwintet Seattle ini tiba di rumah. Tentu deg-degan mendengarkannya pertama kali. Beres memoles album solo Eddie Vedder, Earthling, 2022, lalu Iggy Pop, Dua Lipa dan terakhir Rolling Stone, Andrew Watt kini dipercaya sebagai produser. Konon katanya Pearl Jam mempengaruhi naluri bermusik Andrew remaja. Hasilnya? Seakan nomor bersambung, baru saja dihajar track pembuka “Scared Of Fear”, langsung “React, Respond” menyambar dengan tematik senafas. Non-stop diseret laju drum Matt Cameron. Dejavu dengan Badmotorfinger? Dua nomor diatas pantas disebut manifesto album. Beberapa track lain seperti “Dark Matter”, “Running”, “Upper Hand” turut andil mengembalikan Pearl Jam ke trahnya. Ed yang (tetap) tegas, disembur sayatan gitar Mike McCready (plus Stone Gossard). Ohya betotan bass Jeff Ament disini rasanya seperti sedang cosplay Batman vs Joker bareng Matt. Saling memburu dengan berkelas. Berbeda dengan album pendahulunya, Gigaton, 2020, yang didominasi keterhubungan dengan kondisi bumi sehingga layak disebut album soundtrack krisis iklim global, Dark Matter kembali menyuguhan keterhubungan antar manusia. Diksi kromo-english pun tetap menyempil di beberapa lagu. Nomor-nomor seperti “Got to Give” & “Won’t Tell” terasa dekat dengan materi-materi Earthling. Manis. Bahkan aura Tom Petty hadir lagi pada “Wreckage”. Lalu “Something Special” cocok menjadi musik latar bar-fight ala Americana. Disamping “React, Respond”, “Waiting for Stevie” muncul menjadi jagoan saya. Kompleksitas perasaan dari ketidaksempurnaan, serta harapan akan ketulusan, menambah mahalnya vibes lagu. The game changer! Simak sampai akhir lagu. Dari wawancara dengan Howard Stern, terungkap, siapa sosok Stevie? Untung saja terkoneksi ke Stevie Wonder. Bukan Stevie G. “Setting Sun” menjadi penutup yang sentimental dari seorang Eddie. Mengangkat keberanian untuk menyudahi, yang disuguhkan secara apik. Tanpa mengesampingkan peran yang lain, bagi saya Mike & Matt pantas naik podium bareng kali ini. Duet metronom yang beratraksi dominan nan ajeg. Entah ajian apa yang dirapal oleh Andrew saat menata & memproduseri album ini. Segar, matang dan berkelas!
: Dark Matter. — Finally! Album ke 12 kwintet Seattle ini tiba di rumah. Tentu deg-degan mendengarkannya pertama kali. Beres memoles album solo Eddie Vedder, Earthling, 2022, lalu Iggy Pop, Dua Lipa dan terakhir Rolling Stone, Andrew Watt kini dipercaya sebagai produser. Konon katanya Pearl Jam mempengaruhi naluri bermusik Andrew remaja. Hasilnya? Seakan nomor bersambung, baru saja dihajar track pembuka “Scared Of Fear”, langsung “React, Respond” menyambar dengan tematik senafas. Non-stop diseret laju drum Matt Cameron. Dejavu dengan Badmotorfinger? Dua nomor diatas pantas disebut manifesto album. Beberapa track lain seperti “Dark Matter”, “Running”, “Upper Hand” turut andil mengembalikan Pearl Jam ke trahnya. Ed yang (tetap) tegas, disembur sayatan gitar Mike McCready (plus Stone Gossard). Ohya betotan bass Jeff Ament disini rasanya seperti sedang cosplay Batman vs Joker bareng Matt. Saling memburu dengan berkelas. Berbeda dengan album pendahulunya, Gigaton, 2020, yang didominasi keterhubungan dengan kondisi bumi sehingga layak disebut album soundtrack krisis iklim global, Dark Matter kembali menyuguhan keterhubungan antar manusia. Diksi kromo-english pun tetap menyempil di beberapa lagu. Nomor-nomor seperti “Got to Give” & “Won’t Tell” terasa dekat dengan materi-materi Earthling. Manis. Bahkan aura Tom Petty hadir lagi pada “Wreckage”. Lalu “Something Special” cocok menjadi musik latar bar-fight ala Americana. Disamping “React, Respond”, “Waiting for Stevie” muncul menjadi jagoan saya. Kompleksitas perasaan dari ketidaksempurnaan, serta harapan akan ketulusan, menambah mahalnya vibes lagu. The game changer! Simak sampai akhir lagu. Dari wawancara dengan Howard Stern, terungkap, siapa sosok Stevie? Untung saja terkoneksi ke Stevie Wonder. Bukan Stevie G. “Setting Sun” menjadi penutup yang sentimental dari seorang Eddie. Mengangkat keberanian untuk menyudahi, yang disuguhkan secara apik. Tanpa mengesampingkan peran yang lain, bagi saya Mike & Matt pantas naik podium bareng kali ini. Duet metronom yang beratraksi dominan nan ajeg. Entah ajian apa yang dirapal oleh Andrew saat menata & memproduseri album ini. Segar, matang dan berkelas!
: Dark Matter. — Finally! Album ke 12 kwintet Seattle ini tiba di rumah. Tentu deg-degan mendengarkannya pertama kali. Beres memoles album solo Eddie Vedder, Earthling, 2022, lalu Iggy Pop, Dua Lipa dan terakhir Rolling Stone, Andrew Watt kini dipercaya sebagai produser. Konon katanya Pearl Jam mempengaruhi naluri bermusik Andrew remaja. Hasilnya? Seakan nomor bersambung, baru saja dihajar track pembuka “Scared Of Fear”, langsung “React, Respond” menyambar dengan tematik senafas. Non-stop diseret laju drum Matt Cameron. Dejavu dengan Badmotorfinger? Dua nomor diatas pantas disebut manifesto album. Beberapa track lain seperti “Dark Matter”, “Running”, “Upper Hand” turut andil mengembalikan Pearl Jam ke trahnya. Ed yang (tetap) tegas, disembur sayatan gitar Mike McCready (plus Stone Gossard). Ohya betotan bass Jeff Ament disini rasanya seperti sedang cosplay Batman vs Joker bareng Matt. Saling memburu dengan berkelas. Berbeda dengan album pendahulunya, Gigaton, 2020, yang didominasi keterhubungan dengan kondisi bumi sehingga layak disebut album soundtrack krisis iklim global, Dark Matter kembali menyuguhan keterhubungan antar manusia. Diksi kromo-english pun tetap menyempil di beberapa lagu. Nomor-nomor seperti “Got to Give” & “Won’t Tell” terasa dekat dengan materi-materi Earthling. Manis. Bahkan aura Tom Petty hadir lagi pada “Wreckage”. Lalu “Something Special” cocok menjadi musik latar bar-fight ala Americana. Disamping “React, Respond”, “Waiting for Stevie” muncul menjadi jagoan saya. Kompleksitas perasaan dari ketidaksempurnaan, serta harapan akan ketulusan, menambah mahalnya vibes lagu. The game changer! Simak sampai akhir lagu. Dari wawancara dengan Howard Stern, terungkap, siapa sosok Stevie? Untung saja terkoneksi ke Stevie Wonder. Bukan Stevie G. “Setting Sun” menjadi penutup yang sentimental dari seorang Eddie. Mengangkat keberanian untuk menyudahi, yang disuguhkan secara apik. Tanpa mengesampingkan peran yang lain, bagi saya Mike & Matt pantas naik podium bareng kali ini. Duet metronom yang beratraksi dominan nan ajeg. Entah ajian apa yang dirapal oleh Andrew saat menata & memproduseri album ini. Segar, matang dan berkelas!
: Dark Matter. — Finally! Album ke 12 kwintet Seattle ini tiba di rumah. Tentu deg-degan mendengarkannya pertama kali. Beres memoles album solo Eddie Vedder, Earthling, 2022, lalu Iggy Pop, Dua Lipa dan terakhir Rolling Stone, Andrew Watt kini dipercaya sebagai produser. Konon katanya Pearl Jam mempengaruhi naluri bermusik Andrew remaja. Hasilnya? Seakan nomor bersambung, baru saja dihajar track pembuka “Scared Of Fear”, langsung “React, Respond” menyambar dengan tematik senafas. Non-stop diseret laju drum Matt Cameron. Dejavu dengan Badmotorfinger? Dua nomor diatas pantas disebut manifesto album. Beberapa track lain seperti “Dark Matter”, “Running”, “Upper Hand” turut andil mengembalikan Pearl Jam ke trahnya. Ed yang (tetap) tegas, disembur sayatan gitar Mike McCready (plus Stone Gossard). Ohya betotan bass Jeff Ament disini rasanya seperti sedang cosplay Batman vs Joker bareng Matt. Saling memburu dengan berkelas. Berbeda dengan album pendahulunya, Gigaton, 2020, yang didominasi keterhubungan dengan kondisi bumi sehingga layak disebut album soundtrack krisis iklim global, Dark Matter kembali menyuguhan keterhubungan antar manusia. Diksi kromo-english pun tetap menyempil di beberapa lagu. Nomor-nomor seperti “Got to Give” & “Won’t Tell” terasa dekat dengan materi-materi Earthling. Manis. Bahkan aura Tom Petty hadir lagi pada “Wreckage”. Lalu “Something Special” cocok menjadi musik latar bar-fight ala Americana. Disamping “React, Respond”, “Waiting for Stevie” muncul menjadi jagoan saya. Kompleksitas perasaan dari ketidaksempurnaan, serta harapan akan ketulusan, menambah mahalnya vibes lagu. The game changer! Simak sampai akhir lagu. Dari wawancara dengan Howard Stern, terungkap, siapa sosok Stevie? Untung saja terkoneksi ke Stevie Wonder. Bukan Stevie G. “Setting Sun” menjadi penutup yang sentimental dari seorang Eddie. Mengangkat keberanian untuk menyudahi, yang disuguhkan secara apik. Tanpa mengesampingkan peran yang lain, bagi saya Mike & Matt pantas naik podium bareng kali ini. Duet metronom yang beratraksi dominan nan ajeg. Entah ajian apa yang dirapal oleh Andrew saat menata & memproduseri album ini. Segar, matang dan berkelas!
: Dark Matter. — Finally! Album ke 12 kwintet Seattle ini tiba di rumah. Tentu deg-degan mendengarkannya pertama kali. Beres memoles album solo Eddie Vedder, Earthling, 2022, lalu Iggy Pop, Dua Lipa dan terakhir Rolling Stone, Andrew Watt kini dipercaya sebagai produser. Konon katanya Pearl Jam mempengaruhi naluri bermusik Andrew remaja. Hasilnya? Seakan nomor bersambung, baru saja dihajar track pembuka “Scared Of Fear”, langsung “React, Respond” menyambar dengan tematik senafas. Non-stop diseret laju drum Matt Cameron. Dejavu dengan Badmotorfinger? Dua nomor diatas pantas disebut manifesto album. Beberapa track lain seperti “Dark Matter”, “Running”, “Upper Hand” turut andil mengembalikan Pearl Jam ke trahnya. Ed yang (tetap) tegas, disembur sayatan gitar Mike McCready (plus Stone Gossard). Ohya betotan bass Jeff Ament disini rasanya seperti sedang cosplay Batman vs Joker bareng Matt. Saling memburu dengan berkelas. Berbeda dengan album pendahulunya, Gigaton, 2020, yang didominasi keterhubungan dengan kondisi bumi sehingga layak disebut album soundtrack krisis iklim global, Dark Matter kembali menyuguhan keterhubungan antar manusia. Diksi kromo-english pun tetap menyempil di beberapa lagu. Nomor-nomor seperti “Got to Give” & “Won’t Tell” terasa dekat dengan materi-materi Earthling. Manis. Bahkan aura Tom Petty hadir lagi pada “Wreckage”. Lalu “Something Special” cocok menjadi musik latar bar-fight ala Americana. Disamping “React, Respond”, “Waiting for Stevie” muncul menjadi jagoan saya. Kompleksitas perasaan dari ketidaksempurnaan, serta harapan akan ketulusan, menambah mahalnya vibes lagu. The game changer! Simak sampai akhir lagu. Dari wawancara dengan Howard Stern, terungkap, siapa sosok Stevie? Untung saja terkoneksi ke Stevie Wonder. Bukan Stevie G. “Setting Sun” menjadi penutup yang sentimental dari seorang Eddie. Mengangkat keberanian untuk menyudahi, yang disuguhkan secara apik. Tanpa mengesampingkan peran yang lain, bagi saya Mike & Matt pantas naik podium bareng kali ini. Duet metronom yang beratraksi dominan nan ajeg. Entah ajian apa yang dirapal oleh Andrew saat menata & memproduseri album ini. Segar, matang dan berkelas!
: Dark Matter. — Finally! Album ke 12 kwintet Seattle ini tiba di rumah. Tentu deg-degan mendengarkannya pertama kali. Beres memoles album solo Eddie Vedder, Earthling, 2022, lalu Iggy Pop, Dua Lipa dan terakhir Rolling Stone, Andrew Watt kini dipercaya sebagai produser. Konon katanya Pearl Jam mempengaruhi naluri bermusik Andrew remaja. Hasilnya? Seakan nomor bersambung, baru saja dihajar track pembuka “Scared Of Fear”, langsung “React, Respond” menyambar dengan tematik senafas. Non-stop diseret laju drum Matt Cameron. Dejavu dengan Badmotorfinger? Dua nomor diatas pantas disebut manifesto album. Beberapa track lain seperti “Dark Matter”, “Running”, “Upper Hand” turut andil mengembalikan Pearl Jam ke trahnya. Ed yang (tetap) tegas, disembur sayatan gitar Mike McCready (plus Stone Gossard). Ohya betotan bass Jeff Ament disini rasanya seperti sedang cosplay Batman vs Joker bareng Matt. Saling memburu dengan berkelas. Berbeda dengan album pendahulunya, Gigaton, 2020, yang didominasi keterhubungan dengan kondisi bumi sehingga layak disebut album soundtrack krisis iklim global, Dark Matter kembali menyuguhan keterhubungan antar manusia. Diksi kromo-english pun tetap menyempil di beberapa lagu. Nomor-nomor seperti “Got to Give” & “Won’t Tell” terasa dekat dengan materi-materi Earthling. Manis. Bahkan aura Tom Petty hadir lagi pada “Wreckage”. Lalu “Something Special” cocok menjadi musik latar bar-fight ala Americana. Disamping “React, Respond”, “Waiting for Stevie” muncul menjadi jagoan saya. Kompleksitas perasaan dari ketidaksempurnaan, serta harapan akan ketulusan, menambah mahalnya vibes lagu. The game changer! Simak sampai akhir lagu. Dari wawancara dengan Howard Stern, terungkap, siapa sosok Stevie? Untung saja terkoneksi ke Stevie Wonder. Bukan Stevie G. “Setting Sun” menjadi penutup yang sentimental dari seorang Eddie. Mengangkat keberanian untuk menyudahi, yang disuguhkan secara apik. Tanpa mengesampingkan peran yang lain, bagi saya Mike & Matt pantas naik podium bareng kali ini. Duet metronom yang beratraksi dominan nan ajeg. Entah ajian apa yang dirapal oleh Andrew saat menata & memproduseri album ini. Segar, matang dan berkelas!
: Dark Matter. — Finally! Album ke 12 kwintet Seattle ini tiba di rumah. Tentu deg-degan mendengarkannya pertama kali. Beres memoles album solo Eddie Vedder, Earthling, 2022, lalu Iggy Pop, Dua Lipa dan terakhir Rolling Stone, Andrew Watt kini dipercaya sebagai produser. Konon katanya Pearl Jam mempengaruhi naluri bermusik Andrew remaja. Hasilnya? Seakan nomor bersambung, baru saja dihajar track pembuka “Scared Of Fear”, langsung “React, Respond” menyambar dengan tematik senafas. Non-stop diseret laju drum Matt Cameron. Dejavu dengan Badmotorfinger? Dua nomor diatas pantas disebut manifesto album. Beberapa track lain seperti “Dark Matter”, “Running”, “Upper Hand” turut andil mengembalikan Pearl Jam ke trahnya. Ed yang (tetap) tegas, disembur sayatan gitar Mike McCready (plus Stone Gossard). Ohya betotan bass Jeff Ament disini rasanya seperti sedang cosplay Batman vs Joker bareng Matt. Saling memburu dengan berkelas. Berbeda dengan album pendahulunya, Gigaton, 2020, yang didominasi keterhubungan dengan kondisi bumi sehingga layak disebut album soundtrack krisis iklim global, Dark Matter kembali menyuguhan keterhubungan antar manusia. Diksi kromo-english pun tetap menyempil di beberapa lagu. Nomor-nomor seperti “Got to Give” & “Won’t Tell” terasa dekat dengan materi-materi Earthling. Manis. Bahkan aura Tom Petty hadir lagi pada “Wreckage”. Lalu “Something Special” cocok menjadi musik latar bar-fight ala Americana. Disamping “React, Respond”, “Waiting for Stevie” muncul menjadi jagoan saya. Kompleksitas perasaan dari ketidaksempurnaan, serta harapan akan ketulusan, menambah mahalnya vibes lagu. The game changer! Simak sampai akhir lagu. Dari wawancara dengan Howard Stern, terungkap, siapa sosok Stevie? Untung saja terkoneksi ke Stevie Wonder. Bukan Stevie G. “Setting Sun” menjadi penutup yang sentimental dari seorang Eddie. Mengangkat keberanian untuk menyudahi, yang disuguhkan secara apik. Tanpa mengesampingkan peran yang lain, bagi saya Mike & Matt pantas naik podium bareng kali ini. Duet metronom yang beratraksi dominan nan ajeg. Entah ajian apa yang dirapal oleh Andrew saat menata & memproduseri album ini. Segar, matang dan berkelas!
: Bumi Atau Plastik? — Bagaimana bisa barisan sampah ini berserakan di pinggir pantai? Jelas ini dampak dari hulu persoalan perilaku kita yg hidup di daratan. Hal ini memantik masyarakat dan komunitas lokal yang memiliki kepedulian pada lingkungan untuk berupaya membebaskan lingkungan dari gunungan sampah plastik. Kegiatan membersihkan pantai atas inisiasi bersama SayaPilihBumi & SeaSoldier pada 22 Mei 2024 ini memilih Pantai Mertasari Sanur menjadi lokasi pembersihan karena merupakan muara akhir dari Sungai Pengembak. Oleh karena itu, dikhawatirkan akan ada banyak sampah dan limbah yang terbawa arus sungai hingga mengendap di pantai ini. Lebih dari enam puluh kilogram sampah yang dikumpulkan puluhan relawan dan komunitas lokal ini lalu dipilah dan diolah kembali dalam workshop pembuatan ecobrick yang berpotensi menjadi material perkakas layak pakai. Kemudian sisa dari sampah tersebut diarahkan ke Tempat Pembuangan Sampah 3R Seminyak. Bagaimanapun, persoalan lingkungan yang terjadi ini mutlak membutuhkan keterlibatan segala pihak sebagai satu-satunya solusi untuk mengatasi tantangan tersebut. Bukan lagi bermuara pada pertanyaan: bisa atau tidak bisa. Melainkan, mau atau tidak mau? Dasarnya harus kita akui bahwa perilaku kita telah membuat kita bergantung pada plastik dan tenggelam di tengah gempuran sampah plastik yang menyesaki planet ini. Sudah waktunya kita harus bersikap, apa yang lebih penting? Bumi atau plastik? Saya Ramon Tungka, saya pilih bumi! #sayapilihbumi #nationalgeographicindonesia #eigeradventure
: Bumi Atau Plastik? — Bagaimana bisa barisan sampah ini berserakan di pinggir pantai? Jelas ini dampak dari hulu persoalan perilaku kita yg hidup di daratan. Hal ini memantik masyarakat dan komunitas lokal yang memiliki kepedulian pada lingkungan untuk berupaya membebaskan lingkungan dari gunungan sampah plastik. Kegiatan membersihkan pantai atas inisiasi bersama SayaPilihBumi & SeaSoldier pada 22 Mei 2024 ini memilih Pantai Mertasari Sanur menjadi lokasi pembersihan karena merupakan muara akhir dari Sungai Pengembak. Oleh karena itu, dikhawatirkan akan ada banyak sampah dan limbah yang terbawa arus sungai hingga mengendap di pantai ini. Lebih dari enam puluh kilogram sampah yang dikumpulkan puluhan relawan dan komunitas lokal ini lalu dipilah dan diolah kembali dalam workshop pembuatan ecobrick yang berpotensi menjadi material perkakas layak pakai. Kemudian sisa dari sampah tersebut diarahkan ke Tempat Pembuangan Sampah 3R Seminyak. Bagaimanapun, persoalan lingkungan yang terjadi ini mutlak membutuhkan keterlibatan segala pihak sebagai satu-satunya solusi untuk mengatasi tantangan tersebut. Bukan lagi bermuara pada pertanyaan: bisa atau tidak bisa. Melainkan, mau atau tidak mau? Dasarnya harus kita akui bahwa perilaku kita telah membuat kita bergantung pada plastik dan tenggelam di tengah gempuran sampah plastik yang menyesaki planet ini. Sudah waktunya kita harus bersikap, apa yang lebih penting? Bumi atau plastik? Saya Ramon Tungka, saya pilih bumi! #sayapilihbumi #nationalgeographicindonesia #eigeradventure
: Bumi Atau Plastik? — Bagaimana bisa barisan sampah ini berserakan di pinggir pantai? Jelas ini dampak dari hulu persoalan perilaku kita yg hidup di daratan. Hal ini memantik masyarakat dan komunitas lokal yang memiliki kepedulian pada lingkungan untuk berupaya membebaskan lingkungan dari gunungan sampah plastik. Kegiatan membersihkan pantai atas inisiasi bersama SayaPilihBumi & SeaSoldier pada 22 Mei 2024 ini memilih Pantai Mertasari Sanur menjadi lokasi pembersihan karena merupakan muara akhir dari Sungai Pengembak. Oleh karena itu, dikhawatirkan akan ada banyak sampah dan limbah yang terbawa arus sungai hingga mengendap di pantai ini. Lebih dari enam puluh kilogram sampah yang dikumpulkan puluhan relawan dan komunitas lokal ini lalu dipilah dan diolah kembali dalam workshop pembuatan ecobrick yang berpotensi menjadi material perkakas layak pakai. Kemudian sisa dari sampah tersebut diarahkan ke Tempat Pembuangan Sampah 3R Seminyak. Bagaimanapun, persoalan lingkungan yang terjadi ini mutlak membutuhkan keterlibatan segala pihak sebagai satu-satunya solusi untuk mengatasi tantangan tersebut. Bukan lagi bermuara pada pertanyaan: bisa atau tidak bisa. Melainkan, mau atau tidak mau? Dasarnya harus kita akui bahwa perilaku kita telah membuat kita bergantung pada plastik dan tenggelam di tengah gempuran sampah plastik yang menyesaki planet ini. Sudah waktunya kita harus bersikap, apa yang lebih penting? Bumi atau plastik? Saya Ramon Tungka, saya pilih bumi! #sayapilihbumi #nationalgeographicindonesia #eigeradventure
: Bumi Atau Plastik? — Bagaimana bisa barisan sampah ini berserakan di pinggir pantai? Jelas ini dampak dari hulu persoalan perilaku kita yg hidup di daratan. Hal ini memantik masyarakat dan komunitas lokal yang memiliki kepedulian pada lingkungan untuk berupaya membebaskan lingkungan dari gunungan sampah plastik. Kegiatan membersihkan pantai atas inisiasi bersama SayaPilihBumi & SeaSoldier pada 22 Mei 2024 ini memilih Pantai Mertasari Sanur menjadi lokasi pembersihan karena merupakan muara akhir dari Sungai Pengembak. Oleh karena itu, dikhawatirkan akan ada banyak sampah dan limbah yang terbawa arus sungai hingga mengendap di pantai ini. Lebih dari enam puluh kilogram sampah yang dikumpulkan puluhan relawan dan komunitas lokal ini lalu dipilah dan diolah kembali dalam workshop pembuatan ecobrick yang berpotensi menjadi material perkakas layak pakai. Kemudian sisa dari sampah tersebut diarahkan ke Tempat Pembuangan Sampah 3R Seminyak. Bagaimanapun, persoalan lingkungan yang terjadi ini mutlak membutuhkan keterlibatan segala pihak sebagai satu-satunya solusi untuk mengatasi tantangan tersebut. Bukan lagi bermuara pada pertanyaan: bisa atau tidak bisa. Melainkan, mau atau tidak mau? Dasarnya harus kita akui bahwa perilaku kita telah membuat kita bergantung pada plastik dan tenggelam di tengah gempuran sampah plastik yang menyesaki planet ini. Sudah waktunya kita harus bersikap, apa yang lebih penting? Bumi atau plastik? Saya Ramon Tungka, saya pilih bumi! #sayapilihbumi #nationalgeographicindonesia #eigeradventure
: Bumi Atau Plastik? — Bagaimana bisa barisan sampah ini berserakan di pinggir pantai? Jelas ini dampak dari hulu persoalan perilaku kita yg hidup di daratan. Hal ini memantik masyarakat dan komunitas lokal yang memiliki kepedulian pada lingkungan untuk berupaya membebaskan lingkungan dari gunungan sampah plastik. Kegiatan membersihkan pantai atas inisiasi bersama SayaPilihBumi & SeaSoldier pada 22 Mei 2024 ini memilih Pantai Mertasari Sanur menjadi lokasi pembersihan karena merupakan muara akhir dari Sungai Pengembak. Oleh karena itu, dikhawatirkan akan ada banyak sampah dan limbah yang terbawa arus sungai hingga mengendap di pantai ini. Lebih dari enam puluh kilogram sampah yang dikumpulkan puluhan relawan dan komunitas lokal ini lalu dipilah dan diolah kembali dalam workshop pembuatan ecobrick yang berpotensi menjadi material perkakas layak pakai. Kemudian sisa dari sampah tersebut diarahkan ke Tempat Pembuangan Sampah 3R Seminyak. Bagaimanapun, persoalan lingkungan yang terjadi ini mutlak membutuhkan keterlibatan segala pihak sebagai satu-satunya solusi untuk mengatasi tantangan tersebut. Bukan lagi bermuara pada pertanyaan: bisa atau tidak bisa. Melainkan, mau atau tidak mau? Dasarnya harus kita akui bahwa perilaku kita telah membuat kita bergantung pada plastik dan tenggelam di tengah gempuran sampah plastik yang menyesaki planet ini. Sudah waktunya kita harus bersikap, apa yang lebih penting? Bumi atau plastik? Saya Ramon Tungka, saya pilih bumi! #sayapilihbumi #nationalgeographicindonesia #eigeradventure
Berkolaborasi dengan Seasoldier, SayaPilihBumi mengadakan kegiatan Beach Clean Up di Pantai Mertasari Sanur, Kota Denpasar, Bali. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu pagi, 22 Mei 2024, ini diikuti oleh puluhan relawan. Pantai Mertasari Sanur dipilih menjadi lokasi pembersihan karena merupakan muara akhir dari Sungai Pengembak. Oleh karena itu, dikhawatirkan akan ada banyak sampah dan limbah yang terbawa arus sungai hingga mengendap di pantai ini. Kegiatan Beach Clean Up ini diharapkan dapat memantik kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai. Selain itu, kegiatan ini diharapkan juga dapat mengedukasi masyarakat soal bagaimana menerapkan pengelolaan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari dimulai, mulai diri sendiri dan di lingkungan sekitar terdekat. Setelah kegiatan membersihkan pantai dari sampah, rangkaian acara dilanjutkan dengan lokakarya pembuatan ecobrick. Ecobrick sendiri merupakan botol PET yang dikemas padat dengan plastik bekas yang bersih dan kering. Plastik bekas dimasukkan ke dalam botol dan ditekan hingga padat menggunakan tongkat. Ecobrick ini dapat dimanfaatkan untuk membuat blok bangunan, membuat kursi atau meja dan masih banyak kerajinan yang lain. Kegiatan pembersihan pantai dan pembuatan ecobrick ini ditunjukan sebagai komitmen SayaPilihBumi dan Seasoldier untuk memberikan kontribusi terhadap lingkungan yang lebih baik. Kegiatan Beach Clean Up dan lokakarya pengolahan sampah ini didukung oleh Eiger Adventure. Tak hanya digelar di Denpasar, Bali, rangkaian kegiatan ini nantinya juga akan menyambangi kota-kota lainnya di Indonesia agar menginspirasi semakin banyak komunitas dan masyarakat Indonesia untuk berbuat hal serupa demi lingkungan yang lebih baik. Kreditasi foto: Fae Lubis #sayapilihbumi #seasoldier #beachcleanup
Berkolaborasi dengan Seasoldier, SayaPilihBumi mengadakan kegiatan Beach Clean Up di Pantai Mertasari Sanur, Kota Denpasar, Bali. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu pagi, 22 Mei 2024, ini diikuti oleh puluhan relawan. Pantai Mertasari Sanur dipilih menjadi lokasi pembersihan karena merupakan muara akhir dari Sungai Pengembak. Oleh karena itu, dikhawatirkan akan ada banyak sampah dan limbah yang terbawa arus sungai hingga mengendap di pantai ini. Kegiatan Beach Clean Up ini diharapkan dapat memantik kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai. Selain itu, kegiatan ini diharapkan juga dapat mengedukasi masyarakat soal bagaimana menerapkan pengelolaan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari dimulai, mulai diri sendiri dan di lingkungan sekitar terdekat. Setelah kegiatan membersihkan pantai dari sampah, rangkaian acara dilanjutkan dengan lokakarya pembuatan ecobrick. Ecobrick sendiri merupakan botol PET yang dikemas padat dengan plastik bekas yang bersih dan kering. Plastik bekas dimasukkan ke dalam botol dan ditekan hingga padat menggunakan tongkat. Ecobrick ini dapat dimanfaatkan untuk membuat blok bangunan, membuat kursi atau meja dan masih banyak kerajinan yang lain. Kegiatan pembersihan pantai dan pembuatan ecobrick ini ditunjukan sebagai komitmen SayaPilihBumi dan Seasoldier untuk memberikan kontribusi terhadap lingkungan yang lebih baik. Kegiatan Beach Clean Up dan lokakarya pengolahan sampah ini didukung oleh Eiger Adventure. Tak hanya digelar di Denpasar, Bali, rangkaian kegiatan ini nantinya juga akan menyambangi kota-kota lainnya di Indonesia agar menginspirasi semakin banyak komunitas dan masyarakat Indonesia untuk berbuat hal serupa demi lingkungan yang lebih baik. Kreditasi foto: Fae Lubis #sayapilihbumi #seasoldier #beachcleanup
Berkolaborasi dengan Seasoldier, SayaPilihBumi mengadakan kegiatan Beach Clean Up di Pantai Mertasari Sanur, Kota Denpasar, Bali. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu pagi, 22 Mei 2024, ini diikuti oleh puluhan relawan. Pantai Mertasari Sanur dipilih menjadi lokasi pembersihan karena merupakan muara akhir dari Sungai Pengembak. Oleh karena itu, dikhawatirkan akan ada banyak sampah dan limbah yang terbawa arus sungai hingga mengendap di pantai ini. Kegiatan Beach Clean Up ini diharapkan dapat memantik kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai. Selain itu, kegiatan ini diharapkan juga dapat mengedukasi masyarakat soal bagaimana menerapkan pengelolaan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari dimulai, mulai diri sendiri dan di lingkungan sekitar terdekat. Setelah kegiatan membersihkan pantai dari sampah, rangkaian acara dilanjutkan dengan lokakarya pembuatan ecobrick. Ecobrick sendiri merupakan botol PET yang dikemas padat dengan plastik bekas yang bersih dan kering. Plastik bekas dimasukkan ke dalam botol dan ditekan hingga padat menggunakan tongkat. Ecobrick ini dapat dimanfaatkan untuk membuat blok bangunan, membuat kursi atau meja dan masih banyak kerajinan yang lain. Kegiatan pembersihan pantai dan pembuatan ecobrick ini ditunjukan sebagai komitmen SayaPilihBumi dan Seasoldier untuk memberikan kontribusi terhadap lingkungan yang lebih baik. Kegiatan Beach Clean Up dan lokakarya pengolahan sampah ini didukung oleh Eiger Adventure. Tak hanya digelar di Denpasar, Bali, rangkaian kegiatan ini nantinya juga akan menyambangi kota-kota lainnya di Indonesia agar menginspirasi semakin banyak komunitas dan masyarakat Indonesia untuk berbuat hal serupa demi lingkungan yang lebih baik. Kreditasi foto: Fae Lubis #sayapilihbumi #seasoldier #beachcleanup
Berkolaborasi dengan Seasoldier, SayaPilihBumi mengadakan kegiatan Beach Clean Up di Pantai Mertasari Sanur, Kota Denpasar, Bali. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu pagi, 22 Mei 2024, ini diikuti oleh puluhan relawan. Pantai Mertasari Sanur dipilih menjadi lokasi pembersihan karena merupakan muara akhir dari Sungai Pengembak. Oleh karena itu, dikhawatirkan akan ada banyak sampah dan limbah yang terbawa arus sungai hingga mengendap di pantai ini. Kegiatan Beach Clean Up ini diharapkan dapat memantik kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai. Selain itu, kegiatan ini diharapkan juga dapat mengedukasi masyarakat soal bagaimana menerapkan pengelolaan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari dimulai, mulai diri sendiri dan di lingkungan sekitar terdekat. Setelah kegiatan membersihkan pantai dari sampah, rangkaian acara dilanjutkan dengan lokakarya pembuatan ecobrick. Ecobrick sendiri merupakan botol PET yang dikemas padat dengan plastik bekas yang bersih dan kering. Plastik bekas dimasukkan ke dalam botol dan ditekan hingga padat menggunakan tongkat. Ecobrick ini dapat dimanfaatkan untuk membuat blok bangunan, membuat kursi atau meja dan masih banyak kerajinan yang lain. Kegiatan pembersihan pantai dan pembuatan ecobrick ini ditunjukan sebagai komitmen SayaPilihBumi dan Seasoldier untuk memberikan kontribusi terhadap lingkungan yang lebih baik. Kegiatan Beach Clean Up dan lokakarya pengolahan sampah ini didukung oleh Eiger Adventure. Tak hanya digelar di Denpasar, Bali, rangkaian kegiatan ini nantinya juga akan menyambangi kota-kota lainnya di Indonesia agar menginspirasi semakin banyak komunitas dan masyarakat Indonesia untuk berbuat hal serupa demi lingkungan yang lebih baik. Kreditasi foto: Fae Lubis #sayapilihbumi #seasoldier #beachcleanup
Berkolaborasi dengan Seasoldier, SayaPilihBumi mengadakan kegiatan Beach Clean Up di Pantai Mertasari Sanur, Kota Denpasar, Bali. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu pagi, 22 Mei 2024, ini diikuti oleh puluhan relawan. Pantai Mertasari Sanur dipilih menjadi lokasi pembersihan karena merupakan muara akhir dari Sungai Pengembak. Oleh karena itu, dikhawatirkan akan ada banyak sampah dan limbah yang terbawa arus sungai hingga mengendap di pantai ini. Kegiatan Beach Clean Up ini diharapkan dapat memantik kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai. Selain itu, kegiatan ini diharapkan juga dapat mengedukasi masyarakat soal bagaimana menerapkan pengelolaan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari dimulai, mulai diri sendiri dan di lingkungan sekitar terdekat. Setelah kegiatan membersihkan pantai dari sampah, rangkaian acara dilanjutkan dengan lokakarya pembuatan ecobrick. Ecobrick sendiri merupakan botol PET yang dikemas padat dengan plastik bekas yang bersih dan kering. Plastik bekas dimasukkan ke dalam botol dan ditekan hingga padat menggunakan tongkat. Ecobrick ini dapat dimanfaatkan untuk membuat blok bangunan, membuat kursi atau meja dan masih banyak kerajinan yang lain. Kegiatan pembersihan pantai dan pembuatan ecobrick ini ditunjukan sebagai komitmen SayaPilihBumi dan Seasoldier untuk memberikan kontribusi terhadap lingkungan yang lebih baik. Kegiatan Beach Clean Up dan lokakarya pengolahan sampah ini didukung oleh Eiger Adventure. Tak hanya digelar di Denpasar, Bali, rangkaian kegiatan ini nantinya juga akan menyambangi kota-kota lainnya di Indonesia agar menginspirasi semakin banyak komunitas dan masyarakat Indonesia untuk berbuat hal serupa demi lingkungan yang lebih baik. Kreditasi foto: Fae Lubis #sayapilihbumi #seasoldier #beachcleanup
Berkolaborasi dengan Seasoldier, SayaPilihBumi mengadakan kegiatan Beach Clean Up di Pantai Mertasari Sanur, Kota Denpasar, Bali. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu pagi, 22 Mei 2024, ini diikuti oleh puluhan relawan. Pantai Mertasari Sanur dipilih menjadi lokasi pembersihan karena merupakan muara akhir dari Sungai Pengembak. Oleh karena itu, dikhawatirkan akan ada banyak sampah dan limbah yang terbawa arus sungai hingga mengendap di pantai ini. Kegiatan Beach Clean Up ini diharapkan dapat memantik kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai. Selain itu, kegiatan ini diharapkan juga dapat mengedukasi masyarakat soal bagaimana menerapkan pengelolaan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari dimulai, mulai diri sendiri dan di lingkungan sekitar terdekat. Setelah kegiatan membersihkan pantai dari sampah, rangkaian acara dilanjutkan dengan lokakarya pembuatan ecobrick. Ecobrick sendiri merupakan botol PET yang dikemas padat dengan plastik bekas yang bersih dan kering. Plastik bekas dimasukkan ke dalam botol dan ditekan hingga padat menggunakan tongkat. Ecobrick ini dapat dimanfaatkan untuk membuat blok bangunan, membuat kursi atau meja dan masih banyak kerajinan yang lain. Kegiatan pembersihan pantai dan pembuatan ecobrick ini ditunjukan sebagai komitmen SayaPilihBumi dan Seasoldier untuk memberikan kontribusi terhadap lingkungan yang lebih baik. Kegiatan Beach Clean Up dan lokakarya pengolahan sampah ini didukung oleh Eiger Adventure. Tak hanya digelar di Denpasar, Bali, rangkaian kegiatan ini nantinya juga akan menyambangi kota-kota lainnya di Indonesia agar menginspirasi semakin banyak komunitas dan masyarakat Indonesia untuk berbuat hal serupa demi lingkungan yang lebih baik. Kreditasi foto: Fae Lubis #sayapilihbumi #seasoldier #beachcleanup
Berkolaborasi dengan Seasoldier, SayaPilihBumi mengadakan kegiatan Beach Clean Up di Pantai Mertasari Sanur, Kota Denpasar, Bali. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu pagi, 22 Mei 2024, ini diikuti oleh puluhan relawan. Pantai Mertasari Sanur dipilih menjadi lokasi pembersihan karena merupakan muara akhir dari Sungai Pengembak. Oleh karena itu, dikhawatirkan akan ada banyak sampah dan limbah yang terbawa arus sungai hingga mengendap di pantai ini. Kegiatan Beach Clean Up ini diharapkan dapat memantik kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai. Selain itu, kegiatan ini diharapkan juga dapat mengedukasi masyarakat soal bagaimana menerapkan pengelolaan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari dimulai, mulai diri sendiri dan di lingkungan sekitar terdekat. Setelah kegiatan membersihkan pantai dari sampah, rangkaian acara dilanjutkan dengan lokakarya pembuatan ecobrick. Ecobrick sendiri merupakan botol PET yang dikemas padat dengan plastik bekas yang bersih dan kering. Plastik bekas dimasukkan ke dalam botol dan ditekan hingga padat menggunakan tongkat. Ecobrick ini dapat dimanfaatkan untuk membuat blok bangunan, membuat kursi atau meja dan masih banyak kerajinan yang lain. Kegiatan pembersihan pantai dan pembuatan ecobrick ini ditunjukan sebagai komitmen SayaPilihBumi dan Seasoldier untuk memberikan kontribusi terhadap lingkungan yang lebih baik. Kegiatan Beach Clean Up dan lokakarya pengolahan sampah ini didukung oleh Eiger Adventure. Tak hanya digelar di Denpasar, Bali, rangkaian kegiatan ini nantinya juga akan menyambangi kota-kota lainnya di Indonesia agar menginspirasi semakin banyak komunitas dan masyarakat Indonesia untuk berbuat hal serupa demi lingkungan yang lebih baik. Kreditasi foto: Fae Lubis #sayapilihbumi #seasoldier #beachcleanup
Berkolaborasi dengan Seasoldier, SayaPilihBumi mengadakan kegiatan Beach Clean Up di Pantai Mertasari Sanur, Kota Denpasar, Bali. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu pagi, 22 Mei 2024, ini diikuti oleh puluhan relawan. Pantai Mertasari Sanur dipilih menjadi lokasi pembersihan karena merupakan muara akhir dari Sungai Pengembak. Oleh karena itu, dikhawatirkan akan ada banyak sampah dan limbah yang terbawa arus sungai hingga mengendap di pantai ini. Kegiatan Beach Clean Up ini diharapkan dapat memantik kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai. Selain itu, kegiatan ini diharapkan juga dapat mengedukasi masyarakat soal bagaimana menerapkan pengelolaan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari dimulai, mulai diri sendiri dan di lingkungan sekitar terdekat. Setelah kegiatan membersihkan pantai dari sampah, rangkaian acara dilanjutkan dengan lokakarya pembuatan ecobrick. Ecobrick sendiri merupakan botol PET yang dikemas padat dengan plastik bekas yang bersih dan kering. Plastik bekas dimasukkan ke dalam botol dan ditekan hingga padat menggunakan tongkat. Ecobrick ini dapat dimanfaatkan untuk membuat blok bangunan, membuat kursi atau meja dan masih banyak kerajinan yang lain. Kegiatan pembersihan pantai dan pembuatan ecobrick ini ditunjukan sebagai komitmen SayaPilihBumi dan Seasoldier untuk memberikan kontribusi terhadap lingkungan yang lebih baik. Kegiatan Beach Clean Up dan lokakarya pengolahan sampah ini didukung oleh Eiger Adventure. Tak hanya digelar di Denpasar, Bali, rangkaian kegiatan ini nantinya juga akan menyambangi kota-kota lainnya di Indonesia agar menginspirasi semakin banyak komunitas dan masyarakat Indonesia untuk berbuat hal serupa demi lingkungan yang lebih baik. Kreditasi foto: Fae Lubis #sayapilihbumi #seasoldier #beachcleanup
Peresean Sekali lagi cerita dari leluhur mengajari saya dalam perjalanan. Desa Bilebante, Lombok Tengah tempat singgah saya kali ini. Desa yang manusianya dulu hidup menggali Bumi untuk pasirnya sekarang berubah berganti menjadi desa hijau yang berkelanjutan. Para penggerak muda dari desa ini mulai menggali, tidak mengorek Bumi tetapi mendalami potensi pariwisata yang ternyata banyak tersembunyi di labirin gang-gang kecil desanya. Memasuki pintu desa kami disambut dengan prosesi Peresean, tradisi khas Suku Sasak, Lombok. Tradisi yang dahulu dilakukan oleh para leluhur untuk berbagai tujuan. Memilih pemimpin, menyelesaikan perselisihan, ataupun sekadar menunjukkan keahlian bela diri mereka. Tradisi yang masih lestari hingga kini menjadi pelajaran perjalanan bagi saya. Sebuah tinggalan leluhur tentang bagaimana mereka menggunakan sudut pandang tradisi untuk membantu menata dan mengelola kehidupan manusianya. Ajaran leluhur semestinya kita rawat dan lestarikan, tugas kitalah yang hari ini mampu untuk mengadaptasikan ajaran leluhur ke masa kehidupan kini. Terajutnya kemampuan tradisi beradaptasi dan keterlibatan manusia muda pelaksananya adalah resep bagi negeri ini untuk bangkit dan berdigdaya di atas tanah-tanahnya. Terlalu banyak potensi negeri ini yang terselimut debu dan jauh dari perhatian kita manusianya. Perjalananlah yang mampu menyibak tabir yang menutupi potensi-potensi kepingan surga di Bumi yang bernama Indonesia. Salam jalan, kawan jalan! #sayapilihbumi #sayapejalanbijak #bilebante #caventerid #baktibca