: Perseverance (ii) — Kendati kendala menghadang di Day 1 dan Day 2, Alhamdulillah saya & istri @cisya (mau) mampu menyentuh garis finish dan menuntaskan etape & challenge sejauh hampir 35KM mengitari kawasan perairan Lombok, yakni Gili Air, Gili Meno, Gili Trawangan hingga Gili Nada di kegiatan @seaparkkayak beberapa waktu lalu. Finish Strong! Beruntung selama berkegiatan kayak laut tempo hari kami dikelilingi dengan sohib-sohib lama dan berjumpa banyak kawan-kawan baru. Seakan menggelar jambore komunitas kayak laut. Saling belajar, bertukar energi, membangun ide, sampai (hampir saja terjadi) saling menukar kayak sesudah race. Energi luar biasa inilah yang menjelma solar tambahan untuk tetap tangguh menyelesaikan tantangan sampai finish. Tentu belikat & pinggang merengek untuk dipijat setelahnya. Terimakasih kawan-kawan @seakayakindonesia.official yang telah berjibaku meracik rute. Empat jempol untuk tim rescue dan marshall anti-encok yang dikepalai oleh pelatih @tree_wind_art_o dan @mascpuji Terimakasih sobat-sobat peserta race, dan tentu selamat untuk para pemenang! PADDLE HARD, PARTY HARDER! *** Tak ada yang mudah untuk menyelesaikan race di berbagai cabang olahraga. Ini bukan perihal mampu atau tak mampu. Melainkan mau atau tidak mau. Tabah sampai akhir, Tuan! 🚣🏻♀️
: Perseverance (ii) — Kendati kendala menghadang di Day 1 dan Day 2, Alhamdulillah saya & istri @cisya (mau) mampu menyentuh garis finish dan menuntaskan etape & challenge sejauh hampir 35KM mengitari kawasan perairan Lombok, yakni Gili Air, Gili Meno, Gili Trawangan hingga Gili Nada di kegiatan @seaparkkayak beberapa waktu lalu. Finish Strong! Beruntung selama berkegiatan kayak laut tempo hari kami dikelilingi dengan sohib-sohib lama dan berjumpa banyak kawan-kawan baru. Seakan menggelar jambore komunitas kayak laut. Saling belajar, bertukar energi, membangun ide, sampai (hampir saja terjadi) saling menukar kayak sesudah race. Energi luar biasa inilah yang menjelma solar tambahan untuk tetap tangguh menyelesaikan tantangan sampai finish. Tentu belikat & pinggang merengek untuk dipijat setelahnya. Terimakasih kawan-kawan @seakayakindonesia.official yang telah berjibaku meracik rute. Empat jempol untuk tim rescue dan marshall anti-encok yang dikepalai oleh pelatih @tree_wind_art_o dan @mascpuji Terimakasih sobat-sobat peserta race, dan tentu selamat untuk para pemenang! PADDLE HARD, PARTY HARDER! *** Tak ada yang mudah untuk menyelesaikan race di berbagai cabang olahraga. Ini bukan perihal mampu atau tak mampu. Melainkan mau atau tidak mau. Tabah sampai akhir, Tuan! 🚣🏻♀️
: Perseverance (ii) — Kendati kendala menghadang di Day 1 dan Day 2, Alhamdulillah saya & istri @cisya (mau) mampu menyentuh garis finish dan menuntaskan etape & challenge sejauh hampir 35KM mengitari kawasan perairan Lombok, yakni Gili Air, Gili Meno, Gili Trawangan hingga Gili Nada di kegiatan @seaparkkayak beberapa waktu lalu. Finish Strong! Beruntung selama berkegiatan kayak laut tempo hari kami dikelilingi dengan sohib-sohib lama dan berjumpa banyak kawan-kawan baru. Seakan menggelar jambore komunitas kayak laut. Saling belajar, bertukar energi, membangun ide, sampai (hampir saja terjadi) saling menukar kayak sesudah race. Energi luar biasa inilah yang menjelma solar tambahan untuk tetap tangguh menyelesaikan tantangan sampai finish. Tentu belikat & pinggang merengek untuk dipijat setelahnya. Terimakasih kawan-kawan @seakayakindonesia.official yang telah berjibaku meracik rute. Empat jempol untuk tim rescue dan marshall anti-encok yang dikepalai oleh pelatih @tree_wind_art_o dan @mascpuji Terimakasih sobat-sobat peserta race, dan tentu selamat untuk para pemenang! PADDLE HARD, PARTY HARDER! *** Tak ada yang mudah untuk menyelesaikan race di berbagai cabang olahraga. Ini bukan perihal mampu atau tak mampu. Melainkan mau atau tidak mau. Tabah sampai akhir, Tuan! 🚣🏻♀️
: Perseverance (ii) — Kendati kendala menghadang di Day 1 dan Day 2, Alhamdulillah saya & istri @cisya (mau) mampu menyentuh garis finish dan menuntaskan etape & challenge sejauh hampir 35KM mengitari kawasan perairan Lombok, yakni Gili Air, Gili Meno, Gili Trawangan hingga Gili Nada di kegiatan @seaparkkayak beberapa waktu lalu. Finish Strong! Beruntung selama berkegiatan kayak laut tempo hari kami dikelilingi dengan sohib-sohib lama dan berjumpa banyak kawan-kawan baru. Seakan menggelar jambore komunitas kayak laut. Saling belajar, bertukar energi, membangun ide, sampai (hampir saja terjadi) saling menukar kayak sesudah race. Energi luar biasa inilah yang menjelma solar tambahan untuk tetap tangguh menyelesaikan tantangan sampai finish. Tentu belikat & pinggang merengek untuk dipijat setelahnya. Terimakasih kawan-kawan @seakayakindonesia.official yang telah berjibaku meracik rute. Empat jempol untuk tim rescue dan marshall anti-encok yang dikepalai oleh pelatih @tree_wind_art_o dan @mascpuji Terimakasih sobat-sobat peserta race, dan tentu selamat untuk para pemenang! PADDLE HARD, PARTY HARDER! *** Tak ada yang mudah untuk menyelesaikan race di berbagai cabang olahraga. Ini bukan perihal mampu atau tak mampu. Melainkan mau atau tidak mau. Tabah sampai akhir, Tuan! 🚣🏻♀️
: Perseverance (ii) — Kendati kendala menghadang di Day 1 dan Day 2, Alhamdulillah saya & istri @cisya (mau) mampu menyentuh garis finish dan menuntaskan etape & challenge sejauh hampir 35KM mengitari kawasan perairan Lombok, yakni Gili Air, Gili Meno, Gili Trawangan hingga Gili Nada di kegiatan @seaparkkayak beberapa waktu lalu. Finish Strong! Beruntung selama berkegiatan kayak laut tempo hari kami dikelilingi dengan sohib-sohib lama dan berjumpa banyak kawan-kawan baru. Seakan menggelar jambore komunitas kayak laut. Saling belajar, bertukar energi, membangun ide, sampai (hampir saja terjadi) saling menukar kayak sesudah race. Energi luar biasa inilah yang menjelma solar tambahan untuk tetap tangguh menyelesaikan tantangan sampai finish. Tentu belikat & pinggang merengek untuk dipijat setelahnya. Terimakasih kawan-kawan @seakayakindonesia.official yang telah berjibaku meracik rute. Empat jempol untuk tim rescue dan marshall anti-encok yang dikepalai oleh pelatih @tree_wind_art_o dan @mascpuji Terimakasih sobat-sobat peserta race, dan tentu selamat untuk para pemenang! PADDLE HARD, PARTY HARDER! *** Tak ada yang mudah untuk menyelesaikan race di berbagai cabang olahraga. Ini bukan perihal mampu atau tak mampu. Melainkan mau atau tidak mau. Tabah sampai akhir, Tuan! 🚣🏻♀️
: Perseverance (ii) — Kendati kendala menghadang di Day 1 dan Day 2, Alhamdulillah saya & istri @cisya (mau) mampu menyentuh garis finish dan menuntaskan etape & challenge sejauh hampir 35KM mengitari kawasan perairan Lombok, yakni Gili Air, Gili Meno, Gili Trawangan hingga Gili Nada di kegiatan @seaparkkayak beberapa waktu lalu. Finish Strong! Beruntung selama berkegiatan kayak laut tempo hari kami dikelilingi dengan sohib-sohib lama dan berjumpa banyak kawan-kawan baru. Seakan menggelar jambore komunitas kayak laut. Saling belajar, bertukar energi, membangun ide, sampai (hampir saja terjadi) saling menukar kayak sesudah race. Energi luar biasa inilah yang menjelma solar tambahan untuk tetap tangguh menyelesaikan tantangan sampai finish. Tentu belikat & pinggang merengek untuk dipijat setelahnya. Terimakasih kawan-kawan @seakayakindonesia.official yang telah berjibaku meracik rute. Empat jempol untuk tim rescue dan marshall anti-encok yang dikepalai oleh pelatih @tree_wind_art_o dan @mascpuji Terimakasih sobat-sobat peserta race, dan tentu selamat untuk para pemenang! PADDLE HARD, PARTY HARDER! *** Tak ada yang mudah untuk menyelesaikan race di berbagai cabang olahraga. Ini bukan perihal mampu atau tak mampu. Melainkan mau atau tidak mau. Tabah sampai akhir, Tuan! 🚣🏻♀️
: Perseverance (ii) — Kendati kendala menghadang di Day 1 dan Day 2, Alhamdulillah saya & istri @cisya (mau) mampu menyentuh garis finish dan menuntaskan etape & challenge sejauh hampir 35KM mengitari kawasan perairan Lombok, yakni Gili Air, Gili Meno, Gili Trawangan hingga Gili Nada di kegiatan @seaparkkayak beberapa waktu lalu. Finish Strong! Beruntung selama berkegiatan kayak laut tempo hari kami dikelilingi dengan sohib-sohib lama dan berjumpa banyak kawan-kawan baru. Seakan menggelar jambore komunitas kayak laut. Saling belajar, bertukar energi, membangun ide, sampai (hampir saja terjadi) saling menukar kayak sesudah race. Energi luar biasa inilah yang menjelma solar tambahan untuk tetap tangguh menyelesaikan tantangan sampai finish. Tentu belikat & pinggang merengek untuk dipijat setelahnya. Terimakasih kawan-kawan @seakayakindonesia.official yang telah berjibaku meracik rute. Empat jempol untuk tim rescue dan marshall anti-encok yang dikepalai oleh pelatih @tree_wind_art_o dan @mascpuji Terimakasih sobat-sobat peserta race, dan tentu selamat untuk para pemenang! PADDLE HARD, PARTY HARDER! *** Tak ada yang mudah untuk menyelesaikan race di berbagai cabang olahraga. Ini bukan perihal mampu atau tak mampu. Melainkan mau atau tidak mau. Tabah sampai akhir, Tuan! 🚣🏻♀️
: Perseverance (ii) — Kendati kendala menghadang di Day 1 dan Day 2, Alhamdulillah saya & istri @cisya (mau) mampu menyentuh garis finish dan menuntaskan etape & challenge sejauh hampir 35KM mengitari kawasan perairan Lombok, yakni Gili Air, Gili Meno, Gili Trawangan hingga Gili Nada di kegiatan @seaparkkayak beberapa waktu lalu. Finish Strong! Beruntung selama berkegiatan kayak laut tempo hari kami dikelilingi dengan sohib-sohib lama dan berjumpa banyak kawan-kawan baru. Seakan menggelar jambore komunitas kayak laut. Saling belajar, bertukar energi, membangun ide, sampai (hampir saja terjadi) saling menukar kayak sesudah race. Energi luar biasa inilah yang menjelma solar tambahan untuk tetap tangguh menyelesaikan tantangan sampai finish. Tentu belikat & pinggang merengek untuk dipijat setelahnya. Terimakasih kawan-kawan @seakayakindonesia.official yang telah berjibaku meracik rute. Empat jempol untuk tim rescue dan marshall anti-encok yang dikepalai oleh pelatih @tree_wind_art_o dan @mascpuji Terimakasih sobat-sobat peserta race, dan tentu selamat untuk para pemenang! PADDLE HARD, PARTY HARDER! *** Tak ada yang mudah untuk menyelesaikan race di berbagai cabang olahraga. Ini bukan perihal mampu atau tak mampu. Melainkan mau atau tidak mau. Tabah sampai akhir, Tuan! 🚣🏻♀️
: Dapat dipastikan bahwa memilih menu berbuka jauh lebih susah dibanding memilih menu sahur. Oleh sebab perut tak dimanja selama berjam-jam, maka sekalinya berbuka, rasanya ingin melahap semuanya. Pembalasan. Namun, selain impak kekenyangan yang tidak sehat, gunungan sampah plastik pun berpotensi tak bisa dihindari. Dampak buasnya pembalasan. Dibutuhkan kecermatan memilih dan memilah menu serta keperluan selama bulan Ramadan, kawan. Alangkah lebih bijak bila membawa wadah & alat makan sendiri ketika membeli ta’jil. Namun setidaknya cukup dengan mampu menahan nafsu lapar mata menjelang berbuka, kita dapat meminimalisir potensi timbunan sampah plastik sekali pakai yang berasal dari pembungkus aneka ta’jil. Tak perlu semua dibeli dan dilahap sekaligus sebagai wujud pembalasan. Bukankah masih ada 4 minggu lagi untuk mencoba varian ta’jil lainnya? *** Foto diatas dapat menjadi sebuah inspirasi. Menampilkan bubur tradisional khas Bali yang berbahan dasar olahan hasil bumi dan disajikan pula secara alami. Tentu bisa diolah kembali, sehingga tak menghasilkan sampah. Sobat Bumi, dalam ajaran manapun, kiranya apapun makanan didepan kita, wajib disyukuri dan dihabiskan. Menikmati dengan sederhana & secukupnya. Lantas bersyukur sebesar-besarnya. “Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah. Tetapi jangan berlebih-lebihan. Sungguh Allah tak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31) *** Semoga kita diberkahi kenikmatan dan kekhusyukan dalam beribadah puasa, dan Inshallah dapat mewujudkan Ramadan yang lebih sehat dan tetap ramah lingkungan. #sayapilihbumi #nationalgeographicindonesia #sayapejalanbijak
: Super Trouper. — Tahun yang baru, petualangan yang baru. Orang yang sama, api yang lebih menyalak galak! Teriring energi dan mantra yang tak pernah berubah: Berbahagia secukupnya, bersyukur sebesarnya. 2024, mari bermain & berdansa! Bismillah
: Saya Pilih Bumi: — Jelas tak perlu berpikir dua kali ketika sobat dan mentor saya Abah @didikasim memanggil untuk terlibat lebih jauh tahun ini bersama si kotak kuning @natgeoindonesia dan kampanye @sayapilihbumi nya. Gagasan dan rencana dioplos secara militansi. Pemetaan ide yang diinisiasi sobat kami, Alm. @dickyloebis bukanlah sembarang cetak biru. Sebuah inspirasi energi yang menjelma suntikan bahan bakar untuk kami dalam meneruskan perjuangannya. Sebab pekerjaan rumah untuk lebih memberi peluang untuk planet ini masihlah panjang. Bukan hal mudah tentunya! Tak segampang melinting bakau seperti Jeng Yah. Belum lagi dorongan dari banyak kawan untuk mengusung si Abah dan saya sebagai capres dan cawapres mewakili syarikat kawan-kawan komunitas untuk lebih mengadvokasi dan menyuarakan upaya-upaya yang berpihak pada lingkungan. Tapi kami tahu diri dan sepakat bahwa belum saatnya kami naik ke podium. Meski kharismatik tapi kami eling belum cukup cakap dan belum berprofil tinggi. Sebab kami cenderung berkiblat pada mazhab kelana, alias berhalan-halan dengan terus mendukung upaya kawan-kawan di akar rumput. Ketimbang diatas mimbar kami lebih nyaman bergumul berdiskusi membangun ide dan berkelakar di warung kopi. Sesuai kaidahnya, kami menjelajah, menelusuri dan menjemput pengetetahuan untuk kemudian mewartakannya dengan tetap menggenggam mantra : Saya Baplang (bapack-bapack petualang) dan… SAYA PILIH BUMI! ♻️ — #nationalgeographicindonesia #sayapilihbumi #sayapejalanbijak — Tak lupa, di usia yang baru semoga kau makin menyala, Bah! Agar terus dapat menginspirasi banyak orang dan sehat terus dalam meneruskan kampanye ini. Aamiin. Tentu kerja keras ini ‘kan kita dedikasikan untuk Alm.Dicky.
“Tak mudah menggiring masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.” Buka I Wayan Gede Ardika, Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Taro, Gianyar, Bali dalam menjelaskan tantangan persoalan sampah di wilayahnya. Namun berkat peranan aturan adat Pararem & Awig-Awig, persoalan itu teratasi. Pemilahan sampah kini menjadi bagian dalam salah satu poin dalam aturan adat tersebut. Sebuah tata peraturan adat yang disepakati dan disahkan melalui upacara adat. Program pengolahan sampah yang dirumuskan melalui Pararem & Awig-Awig ini dinamakan Merah Putih Hijau. Program ini mengelola sampah yang telah dipilah yakni Organik, Anorganik sampai dengan Residu, untuk kemudian didistribusikan. Dalam prosesnya meliputi pemilahan, fermentasi, pencacahan hingga pengomposan. Di program Hijau, yang mengolah sampah organik, sampah tak sekedar dikompos saja, namun hasilnya didistribusikan untuk kebun ketahanan pangan sampai subsidi pupuk gratis bagi warga kurang mampu. Ini berkaitan erat dengan pemerataan kesejahteraan untuk pemenuhan gizi yang seimbang guna menanggulangi stunting. Pararem dan Awig-Awig di Desa Taro perihal pengelolaan sampah telah menjadi inspirasi terbitnya Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber guna menjaga kesucian dan keharmonisan alam di seluruh wilayah Bali. Sobat Bumi, tentu aturan adat ataupun kearifan lokal yang tersebar di seluruh Nusantara sejatinya adalah salah satu haluan dan inspirasi yang mencerahkan dalam menjaga harmoni antara alam dan manusia yang hidup di dalamnya. Tentunya, selama kita mau untuk terus bertumbuh dan berproses bersama dengan terus memberi peluang yang lebih baik untuk planet ini. #sayapilihbumi #nationalgeographicindonesia
“Tak mudah menggiring masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.” Buka I Wayan Gede Ardika, Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Taro, Gianyar, Bali dalam menjelaskan tantangan persoalan sampah di wilayahnya. Namun berkat peranan aturan adat Pararem & Awig-Awig, persoalan itu teratasi. Pemilahan sampah kini menjadi bagian dalam salah satu poin dalam aturan adat tersebut. Sebuah tata peraturan adat yang disepakati dan disahkan melalui upacara adat. Program pengolahan sampah yang dirumuskan melalui Pararem & Awig-Awig ini dinamakan Merah Putih Hijau. Program ini mengelola sampah yang telah dipilah yakni Organik, Anorganik sampai dengan Residu, untuk kemudian didistribusikan. Dalam prosesnya meliputi pemilahan, fermentasi, pencacahan hingga pengomposan. Di program Hijau, yang mengolah sampah organik, sampah tak sekedar dikompos saja, namun hasilnya didistribusikan untuk kebun ketahanan pangan sampai subsidi pupuk gratis bagi warga kurang mampu. Ini berkaitan erat dengan pemerataan kesejahteraan untuk pemenuhan gizi yang seimbang guna menanggulangi stunting. Pararem dan Awig-Awig di Desa Taro perihal pengelolaan sampah telah menjadi inspirasi terbitnya Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber guna menjaga kesucian dan keharmonisan alam di seluruh wilayah Bali. Sobat Bumi, tentu aturan adat ataupun kearifan lokal yang tersebar di seluruh Nusantara sejatinya adalah salah satu haluan dan inspirasi yang mencerahkan dalam menjaga harmoni antara alam dan manusia yang hidup di dalamnya. Tentunya, selama kita mau untuk terus bertumbuh dan berproses bersama dengan terus memberi peluang yang lebih baik untuk planet ini. #sayapilihbumi #nationalgeographicindonesia
“Tak mudah menggiring masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.” Buka I Wayan Gede Ardika, Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Taro, Gianyar, Bali dalam menjelaskan tantangan persoalan sampah di wilayahnya. Namun berkat peranan aturan adat Pararem & Awig-Awig, persoalan itu teratasi. Pemilahan sampah kini menjadi bagian dalam salah satu poin dalam aturan adat tersebut. Sebuah tata peraturan adat yang disepakati dan disahkan melalui upacara adat. Program pengolahan sampah yang dirumuskan melalui Pararem & Awig-Awig ini dinamakan Merah Putih Hijau. Program ini mengelola sampah yang telah dipilah yakni Organik, Anorganik sampai dengan Residu, untuk kemudian didistribusikan. Dalam prosesnya meliputi pemilahan, fermentasi, pencacahan hingga pengomposan. Di program Hijau, yang mengolah sampah organik, sampah tak sekedar dikompos saja, namun hasilnya didistribusikan untuk kebun ketahanan pangan sampai subsidi pupuk gratis bagi warga kurang mampu. Ini berkaitan erat dengan pemerataan kesejahteraan untuk pemenuhan gizi yang seimbang guna menanggulangi stunting. Pararem dan Awig-Awig di Desa Taro perihal pengelolaan sampah telah menjadi inspirasi terbitnya Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber guna menjaga kesucian dan keharmonisan alam di seluruh wilayah Bali. Sobat Bumi, tentu aturan adat ataupun kearifan lokal yang tersebar di seluruh Nusantara sejatinya adalah salah satu haluan dan inspirasi yang mencerahkan dalam menjaga harmoni antara alam dan manusia yang hidup di dalamnya. Tentunya, selama kita mau untuk terus bertumbuh dan berproses bersama dengan terus memberi peluang yang lebih baik untuk planet ini. #sayapilihbumi #nationalgeographicindonesia
“Tak mudah menggiring masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.” Buka I Wayan Gede Ardika, Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Taro, Gianyar, Bali dalam menjelaskan tantangan persoalan sampah di wilayahnya. Namun berkat peranan aturan adat Pararem & Awig-Awig, persoalan itu teratasi. Pemilahan sampah kini menjadi bagian dalam salah satu poin dalam aturan adat tersebut. Sebuah tata peraturan adat yang disepakati dan disahkan melalui upacara adat. Program pengolahan sampah yang dirumuskan melalui Pararem & Awig-Awig ini dinamakan Merah Putih Hijau. Program ini mengelola sampah yang telah dipilah yakni Organik, Anorganik sampai dengan Residu, untuk kemudian didistribusikan. Dalam prosesnya meliputi pemilahan, fermentasi, pencacahan hingga pengomposan. Di program Hijau, yang mengolah sampah organik, sampah tak sekedar dikompos saja, namun hasilnya didistribusikan untuk kebun ketahanan pangan sampai subsidi pupuk gratis bagi warga kurang mampu. Ini berkaitan erat dengan pemerataan kesejahteraan untuk pemenuhan gizi yang seimbang guna menanggulangi stunting. Pararem dan Awig-Awig di Desa Taro perihal pengelolaan sampah telah menjadi inspirasi terbitnya Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber guna menjaga kesucian dan keharmonisan alam di seluruh wilayah Bali. Sobat Bumi, tentu aturan adat ataupun kearifan lokal yang tersebar di seluruh Nusantara sejatinya adalah salah satu haluan dan inspirasi yang mencerahkan dalam menjaga harmoni antara alam dan manusia yang hidup di dalamnya. Tentunya, selama kita mau untuk terus bertumbuh dan berproses bersama dengan terus memberi peluang yang lebih baik untuk planet ini. #sayapilihbumi #nationalgeographicindonesia
“Tak mudah menggiring masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.” Buka I Wayan Gede Ardika, Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Taro, Gianyar, Bali dalam menjelaskan tantangan persoalan sampah di wilayahnya. Namun berkat peranan aturan adat Pararem & Awig-Awig, persoalan itu teratasi. Pemilahan sampah kini menjadi bagian dalam salah satu poin dalam aturan adat tersebut. Sebuah tata peraturan adat yang disepakati dan disahkan melalui upacara adat. Program pengolahan sampah yang dirumuskan melalui Pararem & Awig-Awig ini dinamakan Merah Putih Hijau. Program ini mengelola sampah yang telah dipilah yakni Organik, Anorganik sampai dengan Residu, untuk kemudian didistribusikan. Dalam prosesnya meliputi pemilahan, fermentasi, pencacahan hingga pengomposan. Di program Hijau, yang mengolah sampah organik, sampah tak sekedar dikompos saja, namun hasilnya didistribusikan untuk kebun ketahanan pangan sampai subsidi pupuk gratis bagi warga kurang mampu. Ini berkaitan erat dengan pemerataan kesejahteraan untuk pemenuhan gizi yang seimbang guna menanggulangi stunting. Pararem dan Awig-Awig di Desa Taro perihal pengelolaan sampah telah menjadi inspirasi terbitnya Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber guna menjaga kesucian dan keharmonisan alam di seluruh wilayah Bali. Sobat Bumi, tentu aturan adat ataupun kearifan lokal yang tersebar di seluruh Nusantara sejatinya adalah salah satu haluan dan inspirasi yang mencerahkan dalam menjaga harmoni antara alam dan manusia yang hidup di dalamnya. Tentunya, selama kita mau untuk terus bertumbuh dan berproses bersama dengan terus memberi peluang yang lebih baik untuk planet ini. #sayapilihbumi #nationalgeographicindonesia
“Tak mudah menggiring masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.” Buka I Wayan Gede Ardika, Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Taro, Gianyar, Bali dalam menjelaskan tantangan persoalan sampah di wilayahnya. Namun berkat peranan aturan adat Pararem & Awig-Awig, persoalan itu teratasi. Pemilahan sampah kini menjadi bagian dalam salah satu poin dalam aturan adat tersebut. Sebuah tata peraturan adat yang disepakati dan disahkan melalui upacara adat. Program pengolahan sampah yang dirumuskan melalui Pararem & Awig-Awig ini dinamakan Merah Putih Hijau. Program ini mengelola sampah yang telah dipilah yakni Organik, Anorganik sampai dengan Residu, untuk kemudian didistribusikan. Dalam prosesnya meliputi pemilahan, fermentasi, pencacahan hingga pengomposan. Di program Hijau, yang mengolah sampah organik, sampah tak sekedar dikompos saja, namun hasilnya didistribusikan untuk kebun ketahanan pangan sampai subsidi pupuk gratis bagi warga kurang mampu. Ini berkaitan erat dengan pemerataan kesejahteraan untuk pemenuhan gizi yang seimbang guna menanggulangi stunting. Pararem dan Awig-Awig di Desa Taro perihal pengelolaan sampah telah menjadi inspirasi terbitnya Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber guna menjaga kesucian dan keharmonisan alam di seluruh wilayah Bali. Sobat Bumi, tentu aturan adat ataupun kearifan lokal yang tersebar di seluruh Nusantara sejatinya adalah salah satu haluan dan inspirasi yang mencerahkan dalam menjaga harmoni antara alam dan manusia yang hidup di dalamnya. Tentunya, selama kita mau untuk terus bertumbuh dan berproses bersama dengan terus memberi peluang yang lebih baik untuk planet ini. #sayapilihbumi #nationalgeographicindonesia
“Tak mudah menggiring masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.” Buka I Wayan Gede Ardika, Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Taro, Gianyar, Bali dalam menjelaskan tantangan persoalan sampah di wilayahnya. Namun berkat peranan aturan adat Pararem & Awig-Awig, persoalan itu teratasi. Pemilahan sampah kini menjadi bagian dalam salah satu poin dalam aturan adat tersebut. Sebuah tata peraturan adat yang disepakati dan disahkan melalui upacara adat. Program pengolahan sampah yang dirumuskan melalui Pararem & Awig-Awig ini dinamakan Merah Putih Hijau. Program ini mengelola sampah yang telah dipilah yakni Organik, Anorganik sampai dengan Residu, untuk kemudian didistribusikan. Dalam prosesnya meliputi pemilahan, fermentasi, pencacahan hingga pengomposan. Di program Hijau, yang mengolah sampah organik, sampah tak sekedar dikompos saja, namun hasilnya didistribusikan untuk kebun ketahanan pangan sampai subsidi pupuk gratis bagi warga kurang mampu. Ini berkaitan erat dengan pemerataan kesejahteraan untuk pemenuhan gizi yang seimbang guna menanggulangi stunting. Pararem dan Awig-Awig di Desa Taro perihal pengelolaan sampah telah menjadi inspirasi terbitnya Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber guna menjaga kesucian dan keharmonisan alam di seluruh wilayah Bali. Sobat Bumi, tentu aturan adat ataupun kearifan lokal yang tersebar di seluruh Nusantara sejatinya adalah salah satu haluan dan inspirasi yang mencerahkan dalam menjaga harmoni antara alam dan manusia yang hidup di dalamnya. Tentunya, selama kita mau untuk terus bertumbuh dan berproses bersama dengan terus memberi peluang yang lebih baik untuk planet ini. #sayapilihbumi #nationalgeographicindonesia
“Tak mudah menggiring masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.” Buka I Wayan Gede Ardika, Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Taro, Gianyar, Bali dalam menjelaskan tantangan persoalan sampah di wilayahnya. Namun berkat peranan aturan adat Pararem & Awig-Awig, persoalan itu teratasi. Pemilahan sampah kini menjadi bagian dalam salah satu poin dalam aturan adat tersebut. Sebuah tata peraturan adat yang disepakati dan disahkan melalui upacara adat. Program pengolahan sampah yang dirumuskan melalui Pararem & Awig-Awig ini dinamakan Merah Putih Hijau. Program ini mengelola sampah yang telah dipilah yakni Organik, Anorganik sampai dengan Residu, untuk kemudian didistribusikan. Dalam prosesnya meliputi pemilahan, fermentasi, pencacahan hingga pengomposan. Di program Hijau, yang mengolah sampah organik, sampah tak sekedar dikompos saja, namun hasilnya didistribusikan untuk kebun ketahanan pangan sampai subsidi pupuk gratis bagi warga kurang mampu. Ini berkaitan erat dengan pemerataan kesejahteraan untuk pemenuhan gizi yang seimbang guna menanggulangi stunting. Pararem dan Awig-Awig di Desa Taro perihal pengelolaan sampah telah menjadi inspirasi terbitnya Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber guna menjaga kesucian dan keharmonisan alam di seluruh wilayah Bali. Sobat Bumi, tentu aturan adat ataupun kearifan lokal yang tersebar di seluruh Nusantara sejatinya adalah salah satu haluan dan inspirasi yang mencerahkan dalam menjaga harmoni antara alam dan manusia yang hidup di dalamnya. Tentunya, selama kita mau untuk terus bertumbuh dan berproses bersama dengan terus memberi peluang yang lebih baik untuk planet ini. #sayapilihbumi #nationalgeographicindonesia
“Tak mudah menggiring masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.” Buka I Wayan Gede Ardika, Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Taro, Gianyar, Bali dalam menjelaskan tantangan persoalan sampah di wilayahnya. Namun berkat peranan aturan adat Pararem & Awig-Awig, persoalan itu teratasi. Pemilahan sampah kini menjadi bagian dalam salah satu poin dalam aturan adat tersebut. Sebuah tata peraturan adat yang disepakati dan disahkan melalui upacara adat. Program pengolahan sampah yang dirumuskan melalui Pararem & Awig-Awig ini dinamakan Merah Putih Hijau. Program ini mengelola sampah yang telah dipilah yakni Organik, Anorganik sampai dengan Residu, untuk kemudian didistribusikan. Dalam prosesnya meliputi pemilahan, fermentasi, pencacahan hingga pengomposan. Di program Hijau, yang mengolah sampah organik, sampah tak sekedar dikompos saja, namun hasilnya didistribusikan untuk kebun ketahanan pangan sampai subsidi pupuk gratis bagi warga kurang mampu. Ini berkaitan erat dengan pemerataan kesejahteraan untuk pemenuhan gizi yang seimbang guna menanggulangi stunting. Pararem dan Awig-Awig di Desa Taro perihal pengelolaan sampah telah menjadi inspirasi terbitnya Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber guna menjaga kesucian dan keharmonisan alam di seluruh wilayah Bali. Sobat Bumi, tentu aturan adat ataupun kearifan lokal yang tersebar di seluruh Nusantara sejatinya adalah salah satu haluan dan inspirasi yang mencerahkan dalam menjaga harmoni antara alam dan manusia yang hidup di dalamnya. Tentunya, selama kita mau untuk terus bertumbuh dan berproses bersama dengan terus memberi peluang yang lebih baik untuk planet ini. #sayapilihbumi #nationalgeographicindonesia
“Tak mudah menggiring masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.” Buka I Wayan Gede Ardika, Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Taro, Gianyar, Bali dalam menjelaskan tantangan persoalan sampah di wilayahnya. Namun berkat peranan aturan adat Pararem & Awig-Awig, persoalan itu teratasi. Pemilahan sampah kini menjadi bagian dalam salah satu poin dalam aturan adat tersebut. Sebuah tata peraturan adat yang disepakati dan disahkan melalui upacara adat. Program pengolahan sampah yang dirumuskan melalui Pararem & Awig-Awig ini dinamakan Merah Putih Hijau. Program ini mengelola sampah yang telah dipilah yakni Organik, Anorganik sampai dengan Residu, untuk kemudian didistribusikan. Dalam prosesnya meliputi pemilahan, fermentasi, pencacahan hingga pengomposan. Di program Hijau, yang mengolah sampah organik, sampah tak sekedar dikompos saja, namun hasilnya didistribusikan untuk kebun ketahanan pangan sampai subsidi pupuk gratis bagi warga kurang mampu. Ini berkaitan erat dengan pemerataan kesejahteraan untuk pemenuhan gizi yang seimbang guna menanggulangi stunting. Pararem dan Awig-Awig di Desa Taro perihal pengelolaan sampah telah menjadi inspirasi terbitnya Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber guna menjaga kesucian dan keharmonisan alam di seluruh wilayah Bali. Sobat Bumi, tentu aturan adat ataupun kearifan lokal yang tersebar di seluruh Nusantara sejatinya adalah salah satu haluan dan inspirasi yang mencerahkan dalam menjaga harmoni antara alam dan manusia yang hidup di dalamnya. Tentunya, selama kita mau untuk terus bertumbuh dan berproses bersama dengan terus memberi peluang yang lebih baik untuk planet ini. #sayapilihbumi #nationalgeographicindonesia
: Perseverance. — As far as the eye can sea.. Stay strong & paddle up! Because fortunate things happen to those who paddles. — 🚣🏻♀️ Karena keberuntungan akan menghampiri mereka yang kuat mendayung dengan ulung.. dan yang kuat berpuasa anti mokel!!! Thanks to @nonodistas for the effervescent set. Langsung beneran “Bangkit” !! 🤣 Tabah sampai akhir, Tuan!
: Perseverance. — As far as the eye can sea.. Stay strong & paddle up! Because fortunate things happen to those who paddles. — 🚣🏻♀️ Karena keberuntungan akan menghampiri mereka yang kuat mendayung dengan ulung.. dan yang kuat berpuasa anti mokel!!! Thanks to @nonodistas for the effervescent set. Langsung beneran “Bangkit” !! 🤣 Tabah sampai akhir, Tuan!
: Perseverance. — As far as the eye can sea.. Stay strong & paddle up! Because fortunate things happen to those who paddles. — 🚣🏻♀️ Karena keberuntungan akan menghampiri mereka yang kuat mendayung dengan ulung.. dan yang kuat berpuasa anti mokel!!! Thanks to @nonodistas for the effervescent set. Langsung beneran “Bangkit” !! 🤣 Tabah sampai akhir, Tuan!